Got Fever

3.1K 296 54
                                        

Yunyun nda sakit kok, Yunyun cuma mau dipeluk sama umma

.

.

.

Tidak lagi menunggu manajer termudanya yang kerepotan membawa barang begitu mereka tiba di kediamannya. Melenggang dengan setitik keringat yang menghiasi dahi pucatnya begitu ditangkap oleh mata akan sosok mungil yang merintih lemah dalam rengkuhan Yuko.

"Jejung-san," dua wanita itu membungkuk sopan oleh kedatangan Jaejoong.

"Apakah Jeyun baik-baik saja?" sigap mengambil alih sang balita untuk didekapnya, dimana suhu tinggi itu diterima cepat oleh kulit "Panasnya belum turun?"

"Belum, Jejung-san. Tapi kami sudah memberikan obat penurun panas sebelumnya," jelas Mina yang membantu Jaejoong mendudukan diri pada sofa "Haruskah kami memberikannya lagi?"

"Jam berapa terakhir kalian memberikannya?"

Rintihan disertai isak kepayahan itu mengiris hati Jaejoong, padahal ketika dirinya pergi bekerja siang tadi Jeyun masih begitu bersemangat bermain air dengan kedua pengasuhnya.

"Pukul 6 sore, Jejung-san."

Kalau begitu baru 3 jam, sepertinya Jaejoong masih harus menunggu untuk beberapa jam kedepan sebelum memberikan Jeyun obat lagi "Apakah Jeyun sudah makan malam?"

"Jeyun-san menolak menelan makanannya, dan terus memuntahkannya."

Jaejoong menggit bibirnya kian cemas "Yuko, kau jamu Tomy di luar dan Mina, tolong hubungi Yunho. Gunakan ponselku saja." ujarnya setelah menerima plester penurun panas untuk digukana pada Jeyun.

Membiarkan dua wanita itu meninggalkan ruangan dengan tatapan yang tak lepas dari balitan dalam dekapannya. Membelai hati-hati wajah memerah Jeyun, mungkin oleh suhu yang cukup tinggi. Belum lagi tangisan yang tidak kunjung berhenti.

"Uljima, Jeyunnie. Aphayo? Di sini?" bisik Jaejoong berusaha meredakan isakan itu, tangannya tergerak meraih termometer untuk mengukur suhu tubuh Jeyun dimana manik bulatnya sempat mendelik "Tinggi sekali..."

Manik musang itu terbuka, ingin rasanya menjawab sang umma namun rasa lemas dan panas yang melingkupi membuatnya enggan. Terlebih tubuhnya terasa begitu lemah seperti tidak memiliki tulang saja.

"Jeyunnie ingin susu? Bukankah Jeyunnie belum makan? Ingin umma buatkan bubur?" bujuk Jaejoong namun hanya gumanan lirih dengan sisa isakan yang diterima.

Tentu saja hal itu membuat Jaejoong kebingungan sekaligus cemas, terlebih tidak ada Yunho di sisinya membuat kekhawatirannya melambung tinggi, "Ne, umma arra. Tidak enak, eoh?" mengarahkan botol berisi susu hangat pada bibir mungil sang putra "Minum sedikit saja, agar perutnya tidak kosong."

Jeyun lantas menolaknya, mulutnya pahit sekali dan dirinya sedang tidak ingin memasukan apapun ke dalam sana. Lagipula kapan rasa terbakar itu hilang? Kepalanya juga mulai sakit, seperti dipukul palu.

"Aniya?" Jaejoong mengayunkan tubuhnya, berusaha untuk menenangkan rengekan Jeyun "Apakah mulutnya sudah terasa pahit?" gumannya resah.

Jaejoong tidak tahu harus melakukan apa. Jika dirinya terus memaksakan, yang ada tangisan menolak yang kembali diterima. Namun dirinya juga tidak tega melihat Jeyun yang biasanya begitu aktif itu tak berdaya seperti ini.

Memastikan kembali suhu tubuh Jeyun dan tangannya masih terasa seperti terbakar. Sepertinya tidak ada pilihan lagi.

Dilepaskan jaket dan kaos yang membalut tubuh atasannya berhati-hati, dimana Jeyun masih begitu erat memeluknya. Kemudian ikat pinggang yang bisa saja melukai kulit Jeyun, serta jeans yang akan membuat sang putra tidak nyaman ketika bersentuhan.

Baby Bear -Jung Jeyun-Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang