Anak-anak adalah pemberontak sejati, namun mereka juga seorang peniru ulung.
.
.
.
Senyum pada bibir hati itu terulas lebar, menekan salah satu tombol pada kemudinya untuk menjawab panggilan dengan suara merdu yang mulai menyambutnya hangat.
"Yeoboseo, Yunnie-ah?"
"Ne~ bukankah di sana masih sangat pagi? Kau bangun cukup awal hari ini."
"Kami akan pindah hotel dan karena itu aku terpaksa bangun lebih awal..." terdengar helaan napas yang cukup panjang di seberang "Padahal aku masih sangat mengantuk, mataku juga sangat perih..." adunya pada Yunho
"Kau akan beristirahat dengan baik sepulang nanti, aku pastikan itu." memutar kemudi dan mengarahkannya pada sebuah toserba "Kapan kau akan pulang?"
"Kemungkinan dua hari yang akan datang aku tiba di Korea Selatan," suara Jaejoong yang menguap terdengar "Kupikir aku harus menyusun jadwal gymku kembali, lemak tubuhku bertambah karena mengkonsumsi banyak daging sapi dan bir, terlebih waktu tidurku semakin buruk."
"Kita akan melakukan fitness bersama di tempat temanku, kau tidak perlu memusingkannya."
Tawa yang terdengar lemah, menggambarkan keadaan Jaejoong di sana "Dimana kapten kecilku? Apakah dia sudah tidur? Di Seoul masih sore, bukan?"
Yunho melepaskan seatbelt-nya usai memarkirkan mobil dan beranjak untuk menurunkan Jeyun di kursi belakang "Dia bersamaku, mungkin kelelahan usai bermain di daycare." pergerakan Yunho sempat terhenti ketika Jeyun mulai terganggu sebelum manik musang serupa dengannya itu terbuka sayu dengan gerungan tak senang.
"Kau pasti kerepotan, bukan? Jadwalmu padat, eoh?"
Suara Jaejoong penuh dengan keresahan, dan mungkin kantuk yang sebelumnya Jaejoong rasakan sudah lenyap. Apakah pasangannya itu mengkhawatirkan mereka atau sedang tidak mempercayainya dalam mengurus Jeyun seorang diri? Mengingat dirinya tidak bersama kedua babysitter Jeyun ataupun ibunya -nyonya Jung-.
"Hanya melakukan pemotretan dan mengunjungi agensi, tidak perlu mencemaskan kami."
"Kalian sudah makan malam?"
"Mungkin setelah ini," Yunho membantu Jeyun berdiri, bermaksud menggandeng sang putra ketika kaki kecil itu tertahan oleh tanah kasar dan terjatuh.
Bruk!
"Yunho! Suara apa itu?"
Yunhho belum membalasnya, namun matanya memperhatikan Jeyun yang mulai menampilkan raut kesakitan atau mungkin terkejut? "Gwenchana, Jeyun-ah. Jja... bangun kembali, tidak perlu menangis."
Nyaris Jeyun menangis, tentu saja dirinya sangat terkejut ketika tubuhnya telah telungkup di atas kerasnya aspal dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul. Bayang-bayang wajah sang umma memenuhi kepala namun hanya sosok appanya yang terlihat di hadapan. Ditambah kalimat itu membuat kekesalannya tertelan seketika.
Tidak seperti Jaejoong yang akan membantunya dan memberikan dekapan lembut, Yunho akan memintanya untuk bangkit sendiri dengan dorongan kalimat. Hal yang tentunya tanpa sadar membentuk karakter Jeyun, dimana balita itu refleks akan mengendalikan respon yang akan ditunjukan sesuai dengan situasi yang ada. Tentu bermanja-manja hanya cocok dilakukan bersama sang umma.
Tubuh mungil itu beranjak dengan raut biasa sebelum meraih tangan Yunho untuk berjalan bersama, kali ini Jeyun berusaha untuk lebih berhati-hati lagi dalam melangkah bahkan sepenuhnya terbangun tanpa raut kantuk yang tersisa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Baby Bear -Jung Jeyun-
Fiksi PenggemarSpesial Jung Jeyun's story from Two Sides~~~ Kisah singkat dari tingkah nakal dan menggemaskan si kecil Jeyunnie bersama kedua orang tuanya~ Untuk yang merindukan Jeyun, silahkan merapattttt!!!
