"Cukup adil, kamu tahu bagaimana hidupku, dan aku tahu bagaimana hidupmu. Mungkin lain waktu kita bisa hidup bersama."
*
*
*
*
*"Jadi pergi gak sih?" Divanka bertanya, setelah puluhan menit mereka habiskan untuk berbincang ngaco.
"Yok!" Rey berdiri lantas keluar dari kamar Divanka melalui balkon, datang dari balkon, dan sekarang dia akan pergi melalui balkon juga.
"Pintu rumah gue kebuka, gak usah lewat sana." Divanka mencegah, sebenarnya dia tidak mempermasalahkan jika Rey ingin keluar melalui balkon, tapi rasanya aneh membiarkan tamu itu memanjat seperti kera.
Rey menyungging senyum culas, "Orangtua lo gak marah ada cowok dari kamar lo?"
"Cih! orang tua gue juga tau selera gue bukan lo." Divanka menoleh kesal.
Biarkan saja orang tua nya melihat kelakuan Divanka, mereka akan mengira cewek ini sudah kehilangan akal. Ini satu-satunya jalan Divanka memberontak, dia tidak bisa menerima kenyataan tentang adiknya yang hilang begitu saja.
Divanka dan Rey berjalan beriringan, Rey akui rumah keluarga Aldarez ini memang istanah. Seluruh bagian rumah ini tertata rapih, banyak foto terpajang sempurna, guci-guci indah disusun berjajar, dan satu lemari kaca yang berisi bermacam piala dan mendali.
"Ini rumah apa gedung nikahan?" Rey menyapu bersih seluruh isi rumah.
"Ini neraka." Divanka membalas tak acuh, mungkin bagi Rey ini adalah lelucon, tapi tidak untuk Divanka. Yang dikatakan nya berasal dari hati, rumah ini lebih pantas disebut sebagai neraka.
Tinggal dirumah mewah dan mendapat apa yang dia inginkan, bukan berarti kebahagiaan nya terjamin. Bahkan Divanka harus mencari titik terang dari hidupnya sendiri.
Divanka memang berasal dari keluarga Aldarez, tapi entah apa yang membuat ayah nya selalu bersikap tidak peduli dengan nya. Saat satu-satunya dari keluarga Aldarez yang peduli dengan divanka, bahkan sekarang orang itu hilang entah kemana. Darren.
Darren satu satunya manusia baik dirumah itu, walaupun berasal dari panti asuhan , Darren adalah sosok adik yang baik. Hubungan darah tidak diperlukan untuk menjalin keakraban. Itu yang dirasakan Divanka. Meski terlahir dari rahim yang berbeda, Divanka sangat menyayangi Darren, begitu juga sebaliknya.
Bunda selama ini selalu sibuk diluar negeri, dengan alasan pekerjaan. Dan ayah? dia hanya peduli tentang harta.
Kehilangan Darren bukan sesuatu yang perlu disesali bagi Ayah dan Bunda, tapi sangat berpengaruh pada Divanka.
"Siapa itu, Di?" Tampak pria dengan pakaian rapih bertanya tegas pada Divanka.
"Apa urusan lo?" Divanka balik bertanya dengan nada ketus. Pria separuh baya itu tampak menahan amarah.
"Ini hasil kamu selama dilingkungan keluarga Aldarez?" Pria itu menatap tajam, sorot matanya cukup mengintimidasi, tapi tidak membuat kekuatan Divanka goyah sedikitpun.
Pria separuh baya itu berusia 50 tahun, tapi tampak masih segar bugar, mungkin karena harta yang dia bangga-banggakan selama ini.
Mackynzie Aldarez, menyandang nama Aldarez sudah cukup membuatnya berbangga hati, seolah semua dapat dibeli dengan uang.
"Emang lo ngajarin apa ke gue?" Divanka balik bertanya. Masih dengan nada tenang nya, dia berusaha melangkah keluar dari rumah yang sangat dibenci nya itu.
"Anak tidak tahu diri! dibesarkan dalam keluarga ternama, kelakuan seperti pengemis jalanan." Mackynzie tampak tenang saat mengucapkan nya, dia sama sekali tidak berpikir tentang perasaan puteri nya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Aldarez (On Going)
General FictionCewek seperti dia memang mirip singa, iya singa buas yang siap menerkam siapapun, termasuk keluarga nya. Aldarez adalah salah satu keluarga yang mempunyai tahta, kekuasaan, dan tentunya harta yang berlimpah. Tapi siapa yang menyangka, Divanka Ghresy...