(Frendzone dua puluh tujuh)

657 31 6
                                        

Seutas senyum dari pria itu sedari tadi tak pernah pudar,matanya terus menyipit,menandakan ia sedang tersenyum cerah.

Kedua temannya yang melihat itu hanya menggeleng heran dengan sikapnya.

"Kamu tuh kenapa si zam,kaya orang gila,"thariq berujar.

Rizam terkekeh,bangkit dari duduknya dan mendekat kearah rendra,"makasih ya ndra,lo bikin gue bisa ngeliat rani,ya walaupun dari jauh,"rendra terkekeh kecil dan mengangguk men-iyakan.

"Kalian berdua nih apaan si,kita tuh kemaren ditegur sama ustad farid,untung aja masih bisa ngasih alesan,"thariq kesal.

"Udahlah riq,yang pentingkan gue bisa ngeliat rani,"rizam merebahkan badanya diatas kasur milik rendra.

Rendra mendekat kearah thariq,yang berada diambang pintu kamar.

Rendra menepuk pundak thariq,"gapapa kali riq,kamu kan juga bisa ngeliat nisa,"rendra membisik.

Thariq berdecak,sambil memalingkan pandanganya dari rendra,dan tanpa rendra sadari thariq tersenyum karna ucapanya.

Kini rendra berubah,tidak ada lagi kata lo-gue dalam prolognya,
digantikan dengan aku-kamu,sifatnya juga sudah membaik,mungkin bisa dibilang ini secara drastis.

Setahun hampir berlalu,semuanya berjalan dengan baik disini.

"Ah bentar lagi lulus,"helaan nafas keluar dari bibir rizam.

Rizam beranjak dari ranjang dan mendekati rendra dan thariq,"dan gue harus terkurung disini lagi,"

Thariq menggeleng dan memposisikan tubuhnya,agar bisa melihat jelas rizam yang kini berada didepanya.

"Tenang,rendra juga bakal disini kok,dia gak pindah,"ucap thariq.

"Bener?,"rizam memastikan dan dibuahi anggukan dari rendra.

Rizam menggeleng takjub,"keren lo ndra,"

"Terus kalo kita tetep disini,kamarnya pindah atau tetep disini?,"rendra bertanya.

"Ya pindahlah,digedung sebelah,"rizam menjawab,dan rendra mengangguk paham.

"Eh ndra,cerita dong,tentang cerita cinta lo sebelum disini,"

Pertanyaan dari rizam itu membuat rendra mengingat seorang azika,sahabatnya,dan kini telah mengisi hatinya,sampai sekarang cinta itu masih ada dihati kecilnya.

Rendra berdehem kecil dan mulai bercerita.

"Aku disana punya temen,kita temenan dari kecil banget,kita seumuran,dan kedua orang kita juga saling kenal dekat,"

"Terus?,"thariq mulai penasaran.

"Ya gitu,kita sahabatan sampe sekarang,dan beberapa bulan belakangan ini aku gak liat mukanya lagi,jujur si kangen,tapi mau gimana lagi?,"rendra tersenyum kecut.

"Ck!pas weekend ditelfon lah,"rizam berdecak kesal.

"Dia gak mau,kayanya masih marah,soalnya aku pergi pesantren itu tiba-tiba,"

Rizam mengetuk ngetukan jarinya didahi miliknya,seraya berfikir,"gue yakin,dia suka sama lo,makanya dia gak rela lo berangkat,"

"Enggak mungkin,dia pernah bilang kalo dia suka sama orang lain,"rendra mengingatnya,bahwa azika menyukai zidan,bukan dia.

"Lah terus emangnya kenapa?lo kan sahabatnya?,"

"Aku suka sama dia,dan itu yang ngebuat dia ngejauh zam,dia gak suka kalo aku suka sama dia gitu,"

"Tapi kamu yakin kalo temenmu itu beneran suka sama orang lain?,"thariq ikut bertanya.

"Ya yakin lah!orang dianya yang cerita sendiri,"

Thariq menepuk pundak rendra pelan,"sebelum janur kuning melengkung ndra,tikung dia disepertiga malam,"

Skip.

Setelah mengetikan pesan untuk seseorang azika membuang ponselnya sembarang diatas ranjangnya.

Azika bimbang,rasanya ia tak mau menyakiti nadiya,namun.

Flasback on

"Lo terima lamaran kak zidan ya zi,lo mau kan?ngeliat gue bahagia?,"

Azika menggeleng lalu menggenggam tangan nadiya erat"gue bakal bikin lo bahagia,tanpa nikah sama kak zidan nad,"

"Pliss zi,plis,terima yah,"

Flasback off

Skip.

"Ada apa ya zi?kok tiba-tiba ngajak ketemu gini?,"tanya zidan.

Azika menelan savilanya susah payah,menetralkan kegugupannya terlebih dahulu.

"Aku mau nanya kak,"ujarnya.

"Mau nanya apa?,"

"Apa alasan kakak ngelamar aku?dan menurut aku ini terlalu cepat kak,"

Zidan tersenyum,"karna saya yakin,kamu jodoh yang telah Allah siapkan untuk saya,"

"Sebegitu yakinnya kakak akan hal itu?,"

"Iya saya yakin,dan saya juga tau kalo kamu juga suka sama saya?iyakan?,"

Demi apapun,azika tak  mau hal ini terjadi,namun ini sudah terjadi,ia terlanjur malu,tapi kenapa zidan bisa tau?

"Kakak tau soal ini dari siapa?,"

"Dari nindy,dan nindy tau dari sahabat kamu,rendra,"

Oh Allah,rasanya ia ingin menjambak dan menyiksa seorang rendra sekarang juga.

"Dan soal membiayai kamu nanti,insyaAllah saya bisa zi,saya punya usaha dan itu dari ayah saya,dan itu sudah sangat cukup untuk membiayai kita nanti,dan saya juga bekerja dikantor ayah saya,"zidan berusaha meyakinkan azika.

"Oke kalo itu keputusan kakak,"zidan tersenyum lagi.

"Aku menerima lamaran kakak,kakak boleh bawa orang tua kakak untuk ke rumah,"

Bersambung...
Update cepet hehe.

Ditunggu update selanjutnya:)

-wassalam.

Freindzone Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang