(Frendzone tiga puluh)

490 24 0
                                        

Zidan terhenyak,ia bangun dalam tidurnya,keringatnya bercucuran dengan derasnya.

Larissa,dia kembali hadir dimimpinya,
kejadian empat tahun lalu terasa terulang lagi.

Bolehnya ia membenci takdir?

Jika itu boleh,zidan teramat membenci takdir nya bersama larissa.

Zidan mengusap wajahnya,ia menangis?ah sudahlah.

Zidan menatap jam beker yang berada di nakas kamarnya,pukul 4 pagi,dan adzan belum berkumandang.

Tanganya bergerak untuk membuka laci nakas,ia meraih benda didalam sana,dan ia keluarkan dari sana.

Zidan membuka kotak blurd merah itu,cincin ini sebenarnya milik rissa yang ia berikan dulu,tapi karna rissa pergi ia mendapatkan ini kembali.

Dulu ia rasa,dirinyalah yang akan pergi selamanya,dan meninggalkan larissa seorang diri,namun ini malah sebalikanya.

Adzan subuh berkumandang disetiap antero kota,zidan turun dari kasurnya setelah meletakkan cincin itu ditempatnya kembali,ia menuju kekamar mandi berniat untuk wudhu dan bersiap sholat subuh dimasjid.

*****

Terlihat kediaman azika sangatlah ramai,banyak orang yang disibukan oleh sesuatu,tak terkecuali fatimah,ia terlihat mondar mandir kesana kemari tanpa habisnya.

Tepat dihari ini adalah hari pertunangan azika dan zidan,semuanya nampak sederhana,
Namun masih ada kesan elegan di dalamnya.

Warna silver menghiasi hiasan-hiasan tempat dimana akan dilakukan penukaran cincin,sudah terbayang betapa cantiknya itu.

Azika kini sedang dirundung gugup,sedari tadi ia hanya diam didepan kaca kamarnya,sesekali mengucap basmallah untuk kelancaran acara ini.

Azika sudah siap,semuanya hanya menunggu datangnya pihak keluarga zidan yang masih berada dijalan katanya.

Ceklek

Pintu kamar terbuka,azika berbalik badan,ia tersenyum cerah ketika tau siapa yang masuk kekamarnya.

"Cantik sekali anak bunda,"dewi-ibu rendra mendekat kearah azika.

"Bunda juga cantik,"kekehan kecil keluar dari bibir dewi.

"Oh ya dek,maafin rendra ya,dia gak dateng dihari pertunangan kamu hari ini,"

Azika merasa semuanya terhenti seketika.

Azika tersenyum paksa,"gapapa ko bun,"

Bunda membelai kepala azika yang terbalut jilbab silver itu.

"Semoga kamu bahagia ya nak dengan lelaki pilihan kamu,"

Bolehkan azika berkata jujur sekarang?

*****

Azika menatap lekat cincin yang terpasang dijari manisnya,kini ia sudah sah menjadi tunangan dari zidan,ia masih tak percaya dengan ini.

Zidan tersenyum kearahnya,azika membalas senyuman itu.

"Bisa liat kesini dulu,"

Zidan dan azika kompak menatap fotografer yang akan memotret mereka.

"Cincinya mana dong,"

Semua orang terkekeh dengan ucapan fotografer yang seakan-akan menggoda zidan dan azika.

Zidan dan azika memamerkan cincin mereka didepan kamera.

"Nah gitu dong,jangan malu-malu,"

*****

"Ha?lo serius?,"

Rizam terkejut bukan main,bagaimana dia tidak terkejut?
Rendra baru saja memberitahunya tentang sahabatnya yang ia cintai telah bertunangan dengan orang lain.

"Serius zam,"rendra lemas.

Rendra sudah pasrah dengan keadaan.

"Kok bisa?,"tanya rizam.

"Ya bisalah,mereka kan saling cinta,"jawab rendra.

"Ikhlas?,"

Rendra menghela nafasnya pelan,lalu berganti posisi dengan bersender dipintu kamar yang terbuka,sedangkan rizam berada dikasur bawah.

"Engga,"

"Gue udah ngira si,"

"Udah lah ndra,masih banyak kok cewek-cewek yang masih mau sama lo,lo kan ganteng,pasti banyak tuh yang minat,"lanjut rizam

"Tapi aku maunya dia,"rendra mengusap wajahnya kasar.

"Inget kata si thariq,tikung dia disepertiga malam,"

Rendra diam,apakah ia harus melakukan hal itu?,mungkin hanya itu jalan satu-satunya untuk ia melupakan azika,atau mendapatkan azika.

*****

Pukul 02.45 rendra terbangun dari tidurnya,kakinya bergerak turun dari kasur,ia berjalan keluar asrama,ia berjalan ke masjid pondok seorang diri.

Ternyata bukan hanya dia saja yang ada disini,boleh dibilang banyak juga yang ingin sholat.

Rendra mengambil wudhu terlebih dahulu sebelum melaksanakan sholat 2 rokaat.

Tangan mengadah keatas,setelah sholatnya selesai rendra berusaha menahan air matanya yang ingin jatuh,karna dia memanjatkan do'a dengan kyusyuk,bukan hanya do'a untuk azika,tapi juga untuk dirinya,keluarganya,dan para sahabatnya,rasanya rendra rindu dengan kelvin dan gabriel.

Rendra selesai,kini rendra hanya diam,sambil bermain sajadah dengan telunjuknya.

Rendra menoleh kebelakang ketika merasa ada seseorang yang menepuk pundaknya.

"Ustad farid,"rendra tersenyum,lalu meraih tangan farid dan menciumnya.

Ustad farid ini wakil dari pemilik pondok ini,ustad farid bisa dibilang muda,usianya yang menginjak 27 tahun tapi sudah menjadi wakil dari ustad ahmad,namun diusianya yang sudah matang berumah tangga,beliau belum sama sekali meminang seorang perempuan sampai sekarang.

"Alhamdulillah,nambah lagi satu langganan sholat tahajud disini,"

Rendra tersenyum malu,sudah ia duga,ustad farid pasti setiap harinya sholat tahajud disini,dan suka memperhatikan jamaah-jamaah yang itu-itu saja,dan karena ustad farid melihat jamaah yang jarang ia lihat jadi ia berniat mendekatinya.

"Jangan berlebihan jika mencintai sesuatu,Allah itu cemburu ketika hambanya mencintai sesama manusia lebih dari seseorang itu mencintai Allah,"

Rendra diam sejenak,"jadi jika saya mencintai manusia secara diam-diam itu tidak diberbolehkan ustad?,"

Ustad farid terkekeh pelan,"mencintai dalam diam itu lebih baik,dari pada kita mengutarakan perasaan kita dan berujung zina,tapi harus ada batasanya,"

"Biasanya seseorang yang mencintai dalam diam akan dirundung kerinduan,tapi percayalah mencintai dalam diam lebih nikmat dari pada kita mengutarakannya,tentu kita harus bisa mengerti batasanya agar tidak terlalu terfikirkan,takut nantinya malah zina pikiran,"

"Benar juga,"

"Dari kisah fatimah dan ali kita bisa percaya,bahwa mencintai dalam do'a itu lebih indah,"

Rendra tersenyum,lalu mengangguk kecil.

Tapi tunggu,kenapa sedari tadi ustad farid seakan akan membahas persoalan tentang mencintai dalam diam,rendra fikir,itu seperti dirinya.

"Maaf ustad,kok dari tadi bahasnya tentang itu ya,"

Ustad fariq menepuk pundak rendra pelan,"saya tidak sengaja mendengarkan bait terakhir do'a kamu tadi,"

Rendra mati kutu,rasanya malu setengah mati jika mengingat do'anya tadi,karna terlanjur malu rendra hanya tersenyum sambil menggaruk tengkuknya.

Bersambung...

Freindzone Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang