11 : Ketemuan

36 11 0
                                        

"Ya sudah kalau gitu aku mau pulang dulu Di," kata Aqilla.

"Sudah mau pulang, ya sudah ayo aku antar, rumah kamu dimana ya La?" tanyaku pada Aqilla.

"Rumah aku di komplek ini juga kok," kata Aqilla.

"Oo berarti kita satu komplek dong, rumah kamu dimananya?" tanyaku lagi.

"Rumahku itu di samping rumah Michael teman satu kelas kita," jelasnya padaku.

"Letaknya dimana ya? kan aku belum tau rumah Michael," kataku pada Aqilla.

"Nanti pas keluar dari rumah kamu ini belok kanan, nah nati ada pertigaan setelah itu belok kiri, nah rumah aku yang catnya warna putih kalau rumah Michael warna biru," jelasnya padaku, lah kenapa dia juga bahas rumah Michael, yang aku tanyakan cuma rumah dia, bukan rumah cowok salju.

"Oo kalau gitu aku antar kamu pakai mobil Papa aku ya," gumamku, setelah itu aku langsung menghampiri Papa yang sedang nonton bersama Mama.

"Pa Diandra minjam mobil Papa dulu ya, mau ngantarin Aqilla dulu," kataku pada Papa.

"Iya, pakai aja, kuncinya ada di dalam kamar Papa di atas nakas ya," kata Papa padaku.

"Siap Pa." Setelah itu aku langsung berlari menuju kamar Papa untuk mengambil kunci mobilnya.

Setelah aku mengambil kunci mobil, aku langsung menghampiri Aqilla yang masih berdiam diri di ruang tamu.

"Ayo La," ajakku pada Aqilla, setelah itu dia langsung pamit pada Mama dan Papa.

"Emangnya kamu nggak punya mobil Di?" tanya Aqilla, sewaktu kami sudah berada di dalam mobil Papa.
"Belum sih, tapi kata Papa sudah di pesan dan mungkin sampainya besok," jelasku pada Aqilla.

"Oo, gitu ya," kata Aqilla, tak lama setelah itu aku pun sampai di rumah Aqilla, dan tiba-tiba pandanganku terhenti pada rumah yang catnya berwarna biru, bagus juga ternyata rumah tu cowok, batinku.

"Di, kamu nggak mau masuk dulu?" tanya Aqilla.
"Nggak deh La, lain kali aja, udah mau malam soalnya," kataku pada Aqilla.

Sewaktu aku sudah mau pergi dari rumah Aqilla tiba-tiba aku melihat Michael yang sedang duduk di balkon, dan mungkin kamarnya di situ, aku langsung kepikiran akan ajakannya padaku, kira-kira dia mau ngapain ngajak aku ketemuan ya?, aduh kenapa nggak aku tolak saja ajakan darinya, aduh Diandra, Diandra goblok banget sih kamu, kataku mencaci maki diriku sendiri.

Ya sudahlah, orang aku sudah terima ajakan darinya, mau gimana lagi, terlanjur besok pagi aku harus ketemuan dengannya.

***

Pagi ini aku sedang bersiap-siap untuk pergi joging pagi, aku sekarang sedang tidak berubah peran dan berarti aku tetap menjadi diri aku sendiri, setelah selesai aku langsung keluar rumah dan mulai berlari kecil untuk mengelilingi komplek, setelah aku selesai joging, aku langsung menuju ke taman, sesampainya di taman aku langsung melihat Michael yang sedang duduk di kursi taman, dia menggunakan baju kaos lengan pendek dan memakai celana training, lumayan juga tuh cowok, aku langsung menghampiri kursi yang didudukinya.

"Pagi," sapaku pada Michael, dan dia terlihat sangat bingung melihatku, dan tidak merespon sapaanku tadi, aku pun langsung duduk di samping dia.

"Saya sedang nunggu teman saya, jadi kamu tidak boleh duduk di sini, karena ini untuk teman saya," katanya, astaga kenapa aku bisa lupa sih, kalau Michael itu tidak tau wajah asliku, pantas saja tadi aku sapa nggak di perdulikannya, oo aku punya ide.

"Tapi aku tetap mau duduk di sini," kataku.
"Ya sudah, kalau gitu biar saya cari tempat lain saja." Setelah itu dia langsung berdiri dan mau pergi, emang ya nih cowok salju banget, ada cewek cantik kayak gini tapi malah dianggurin.

"Michael," panggilku, dia pun langsung melihat ke arahku.
"Kok kamu tau nama saya?" tanyanya, ya tau lah geblek, jelas orang yang kamu ajak ketemuan itu aku.
"Astaga, ini aku Diandra, orang yang kamu ajak ketemuan," jelasku padanya.

"Nggak usah bercanda, orang teman saya itu jelek," katanya, apa? jadi selama ini dia nganggap aku jelek, eh tapi bener juga ya, kan sewaktu aku ke sekolah aku berdandan seperti orang jelek.

"Kamu nggak percaya, ya sudah sini aku buktikan," kataku, dan aku langsung mengeluarkan ponselku dari celana trainingku.

Triiing
Dia langsung mengeluarkan ponselnya dan melihat siapa hang sedang menelfonnya.

"Jadi bener kamu ini Diandra?" tanya Michael padaku.
"Iya," jawabku.
"Tapi sewaktu di sekolah wajah kamu nggak kayak gini deh," katanya.
"Emang iya, orang sewaktu di sekolah aku nyamar," kataku padanya.

"Tapi untuk apa kamu ngelakuin hal seperti itu?" tanya Michael.
"Duduk dulu, nggak capek apa kamu berdiri terus," suruhku pada Michael dan dia pun langsung duduk di sampingku.

"Jadi ceritanya gimana?" tanyanya lagi.
"Aku ngelakuin itu semua supaya aku bisa mendapatkan teman yang memang mau nerima aku apa adanya, dan sekarang aku sudah mendapatkan teman seperti yang aku inginkan," jelasku padanya.

"Dan orangnya siapa?" tanyanya lagi, kok aku ngerasa aneh ya, kenapa kami bisa akrab seperti ini, padahalkan kami baru kenal beberapa hari, tapi ya sudahlah nggak usah dipikirin.

"Aqilla," jawabku singkat. "Oh iya, kamu ngajakin aku ketemuan mau ngomongin apa?" tanyaku.

"Aku mau bilang kalau aku iniiii," omongannya terputus.
"Aku ini apa?" tanyaku.
"Aku iniii, sahabat kamu," katanya.
"Hahaha." Aku langsung tertawa terbahak-bahak. "Nggak usah bercanda, tapi lucu kok," kataku.

"Tapi ini memang benar Di," katanya dengan raut wajah serius, aku pun langsung menghentikan tawaku.
"Sejak kapan aku jadi sahabat kamu? sejak aku nabrak kamu tanpa sengaja atau sejak kamu ngebelain aku dari Sonya," kataku.
"Kamu udah nggak ingat aku lagi Di?" tanyanya, maksudnya apa sih.
"Maksud kamu apa?" tanyaku.

"Aku ini Michael, sahabat kamu dari kecil, apa kamu sudah lupa," katanya, apa? jadi bener dugaanku selama ini kalau dia itu Michael sahabatku.
"Jadi kamu ini bener Michael, tapi kamu kok bisa tau kalau aku ini Diandra sahabat kamu?" tanyaku.

"Kamu ingat nggak sewaktu hari pertama kamu masuk sekolah dan tiba-tiba buku kamu jatuh, dan aku yang ambil buku kamu itu, pas aku ngambil buku kamu tiba-tiba aku melihat sebuah foto, dan ternyata itu adalah foto kita berdua," jelasnya padaku, jadi sejak pertama aku masuk sekolah dia sudah mengenali aku.

"Jadi ini beneran kamu Mi?" tanyaku, dan dia hanya mengangguk.
"Ih kamu jahat tau nggak," kataku sambil memukul lengannya. "Kenapa selama 8 tahun ini kamu nggak nemuin aku, aku itu rindu banget sama kamu, kamu tau nggak." Dan tiba-tiba air mata keluar dari mataku.

Tbc.

Waah akhirnya Diandra sudah tau kalau ternyata Michael itu sahabat masa kecilnya, gimana kelanjuta cerita mereka ya?
Kalau mau tau lanjut baca, aku bakalan update setiap hari ok👍
Dan jangan lupa di vote, comment dan bantu share juga ya manteman😊

Sel, 5-Mei-20

DiMi With LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang