24. Kembali Menjadi Mahasiswa

6.2K 150 0
                                        

Halo gaiss, selamat malam. Gimana kabarnya hari ini?

Maafnya aku beberapa hari menghilang, karena aku lagi sibuk nonton film yang lagi seru.

Aslinya kemarin mau update karena hari bahagia aku, karena kemarin aku ultah. Nggak nyangka banget aku sekarang udah kepala dua, aku kira baru 15 tahu hihihi...

Oh iya jangan lupa istirahat ya. Jangan begadang nggak baik.

Jangan lupa vote dan komen yaww.

Happy Reading

***

Liburan telah usai. Para mahasiswa mulai kembali menjalani rutinitas sebagai mahasiswa aktif. Sementara itu, Alena masih belum sepenuhnya rela melepas suasana liburan. Rasanya baru kemarin ia menikmati waktu luang, dan kini ia sudah harus kembali ke dunia perkuliahan.

Pagi itu, Alena sudah bersiap dengan celana jeans dan atasan berwarna navy, lengkap dengan tas kuliah yang tersampir di bahunya. Dari bawah, terdengar suara motor disusul suara pintu gerbang yang terbuka. Ia pun segera turun untuk menyambut tamunya.

“Tuh orangnya,” ujar Aira, menunjuk ke arah Alena yang baru saja menuruni tangga.

“Lagi ngomongin aku ya?” Alena menyapa Arka dan ibunya yang tengah berdiri di ruang tamu.

“Dih, pede banget,” sahut Arka.

“Ngaku aja, iya kan?” goda Alena.

“Udah, sana langsung berangkat,” potong Aira.

“Nanti telat lagi,” tambahnya.

“Hari pertama biasanya masih santai, Mah,” kata Alena ringan.

“Ya, tapi tetap antisipasi. Siapa tahu macet di jalan,” sahut Aira, mengingatkan.

“Kalian kuliah yang rajin, ya,” pesan Aira.

“Iya, Tante,” jawab Arka.

“Siap, Mamah sayang,” timpal Alena sambil tersenyum.

Sudah satu bulan sejak hubungan mereka diketahui oleh kedua orang tua, Arka tak lagi menjemput Alena dari depan pagar. Kini ia masuk ke dalam rumah dan menyapa orang tua Alena terlebih dahulu.

“Tante, kami pamit berangkat dulu, ya,” ujar Arka sembari mencium punggung tangan Aira.

“Iya, Ka. Hati-hati bawanya motornya, jangan ngebut-ngebut,” kata Aira sambil menepuk pundak Arka.

“Siap, Tante.”

“Mah, Alena berangkat dulu,” ujar Alena.

“Hati-hati di jalan, ya,” pesan Aira.

“Iya, Mah.”

“Yaudah, kami berangkat dulu, Mah,” kata Alena.

“Permisi, Tante,” ucap Arka.

Mereka pun melangkah keluar dan menuju motor Arka. Setelah memakai helm, mereka segera meluncur ke kampus.

“Nanti kalau weekend kita jalan-jalan ya,” ucap Arka sambil melirik gadis di boncengannya melalui kaca spion motor.

Alena hanya diam, wajahnya mendung seperti langit yang belum sepenuhnya pagi.

“Jangan cemberut gitu dong mukanya, Sayang,” ujar Arka lembut, sembari mengelus tangan Alena yang melingkar di perutnya.

 Alena & Arka [Terbit, bisa dibeli di shopee]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang