Halo, selamat malam gaiss. Jangan lupa makan malam yaww.
Jangan lupa vote dan komen yaww.
Aku ada lagi buat kalian nih.
Happy Reading
**
Di sebuah kamar yang masih diselimuti keheningan, seorang gadis baru saja terbangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba menyesuaikan pandangannya dengan cahaya yang mulai masuk melalui celah tirai.
Perlahan ia menyandarkan tubuh ke sandaran kasur, lalu meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas. Dengan gerakan refleks, ia menyalakan layar ponsel itu—namun yang muncul hanya layar kosong tanpa satu pun notifikasi masuk.
Tumben sekali.
Biasanya, Arka sudah membanjiri notifikasi pesannya dengan ucapan selamat pagi, ajakan mandi, atau sekadar spam emotikon agar dirinya segera bangun. Tapi kali ini, tak ada apa-apa.
"Tumben banget..." gumam Alena pelan.
Tangannya refleks membuka ruang obrolan dengan Arka. Namun sebelum sempat mengetik pesan, ingatannya menabrak kenyataan pahit.
Kilasan kejadian kemarin sore kembali berputar di benaknya. Saat ia melihat Arka berpelukan dengan Liora. Saat Arka, dengan amarah yang meluap, memukul Mahendra hingga berdarah. Dan yang paling menyakitkan—saat Arka sendiri yang mengucap kata perpisahan.
Barulah ia tersadar. Mereka memang sudah tidak bersama lagi.
Pantas saja tidak ada notifikasi. Pantas saja tidak ada sapaan pagi.
"Gue lupa... kalau gue sama Arka udah nggak ada apa-apa lagi," ucap Alena dengan senyum kecut.
"Haha... gue lupa." Ia menyibak rambutnya ke belakang, mencoba mengusir rasa pedih.
Ia lalu meletakkan ponselnya kembali di atas nakas.
"Gimana mau ada notifikasi... orang kita udah bukan siapa-siapa lagi," bisiknya lirih.
"Bodoh banget, bisa-bisanya gue lupa."
Matanya mulai memanas, namun ia menahan diri.
“Dia sekarang udah sama orang dari masa lalunya,” ucapnya pelan, nyaris tanpa suara, mengingat bagaimana Arka memeluk Liora sore itu. Pemandangan yang masih terpatri jelas di benaknya.
Hari ini, Alena benar-benar kehilangan semangat. Rasanya ingin sekali bolos kuliah dan bersembunyi di balik selimut sepanjang hari. Tapi ia tahu itu tidak mungkin. Tidak ada alasan kuat untuk izin, dan ia tak ingin membuat orang-orang bertanya-tanya.
Dengan enggan, Alena menarik selimutnya dan melangkah turun dari tempat tidur. Ia mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi, menyeret langkah dengan berat.
Beberapa waktu kemudian, ia keluar dengan rambut basah dan tubuh segar usai mandi. Langkahnya menuju meja rias, tempat berbagai botol skincare tertata rapi. Ia mulai merawat wajahnya, lalu merias diri dengan makeup tipis.
Bukan karena ingin tampil cantik, tapi agar wajahnya yang sembab tak terlalu kentara. Ia tahu, jika tidak berdandan, orang-orang pasti akan mulai bertanya.
Dan ia belum siap untuk menjawab pertanyaan apa pun.
Hari ini, Alena memang tidak memiliki jadwal kuliah pagi. Tak heran jika ia bangun lebih siang dari biasanya. Setelah selesai berdandan dan mempersiapkan diri, ia meraih tas dengan gerakan malas.
Ia menatap ponselnya yang masih sepi, sama seperti hatinya pagi ini—sunyi dan kosong. Tanpa notifikasi, tanpa pesan dari seseorang yang biasanya mengisi paginya dengan sapaan dan perhatian. Ia lalu memasukkan ponsel itu ke dalam tas, mengambil kunci mobil, dan segera berjalan menuruni anak tangga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alena & Arka [Terbit, bisa dibeli di shopee]
Teen FictionAlena dan Arka, dua remaja yang baru saja memasuki dunia perkuliahan, ternyata sejak mereka lahir sudah dijodohkan oleh kedua orang tua mereka. Meskipun merasa terpaksa dan enggan, mereka tak bisa menghindari kenyataan bahwa takdir mereka sudah dite...
![Alena & Arka [Terbit, bisa dibeli di shopee]](https://img.wattpad.com/cover/222692566-64-k988998.jpg)