39. Tiba-tiba Serumah

6.1K 131 1
                                        

Halo gaiss, selamat siang. Gimana kabarnya?

Jangan lupa vote dan komen yaww.

Happy Reading

**

Hari mulai malam, namun tamu masih berdatangan. Wajah Alena tampak sangat lelah, senyumnya mulai menipis, matanya berkali-kali memandangi jam, tapi tamu undangan masih saja berdatangan. Tubuhnya jelas kelelahan, namun ia tetap berusaha terlihat ramah di pelaminan.

"Sayang, kamu sudah capek, ya?" tanya Aira pelan, penuh perhatian.

"Iya, Mah," jawab Alena dengan anggukan pelan.

"Kamu mau makan atau minum dulu?"

"Aku mau minum aja, haus banget, Mah."

Aira pun menoleh ke arah Arka. "Arka, tolong ambilin minum buat Alena ya. Dia haus."

"Iya, Tante," jawab Arka langsung.

Aira tersenyum dan menambahkan lembut, "Mulai sekarang kamu juga anak mamah, Ka."

Arka mengangguk singkat. "Iya, Mah."

"Tunggu sebentar, Sayang, Arka sedang ambilkan minuman," kata Aira lembut.

Tanpa banyak bicara, Arka turun dari pelaminan dan segera menuju meja makanan dan minuman. Ia mengambil dua gelas minuman dingin-satu untuknya, satu lagi untuk Alena.

"Mbak, boleh minta nampan?" tanyanya sopan pada petugas katering.

"Oh, tentu boleh, Mas. Ini," ucap petugas itu sambil menyerahkan nampan.

Arka meletakkan kedua gelas minuman di atas nampan, lalu melangkah ke meja dessert. Ia memilih dua potong dessert cokelat favorit Alena. Semuanya ia tata rapi sebelum kembali ke pelaminan.

"Nih," ucap Arka sambil menyodorkan nampan ke arah Alena.

Alena yang tengah melamun, sontak tersentak kecil dan menoleh. Ia menatap nampan itu sebentar, lalu mengambil segelas minuman dan langsung meneguknya perlahan.

"Tuh, ambil dessert-nya juga," ujar Arka.

"Gue nggak lapar," sahut Alena singkat.

"Ambil aja. Itu kan yang paling lo suka," Arka tetap tenang, tidak memaksa, tapi nadanya penuh perhatian.

Sekilas, hati Alena menghangat. Perhatian kecil itu membuat dadanya terasa sesak. Andai saja semua tidak serumit ini, mungkin hari ini benar-benar jadi hari bahagia mereka-bukan sekadar duduk berdampingan karena perjodohan, tapi karena saling mencintai.

"Thanks," ucap Alena singkat, mencoba menyembunyikan getaran di suaranya.

Dengan pelan, ia mengambil dessert tersebut. Tatapannya jatuh pada tangan Arka yang masih memegang nampan kosong.

Andai mereka masih bersama... andai luka dan kesalahpahaman tidak memisahkan mereka... mungkin momen kecil seperti ini akan terasa sempurna. Tapi kenyataan tak pernah sesederhana harapan.

Ia menggigit sedikit dessert cokelat itu, tapi rasanya tidak selegit biasanya. Ada rasa pahit yang muncul entah dari mana-mungkin dari hati yang belum selesai.

 Alena & Arka [Terbit, bisa dibeli di shopee]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang