36. Tidak Bisa Menolak

5.7K 144 0
                                        

Halo selamat malam gaiss. Gimana kabarnya hari ini? Semoga sehat yaww.

Ini aku usahain nulis nih demi kalian, walaupun dari tadi pagi mood jelek banget dan nahan perut sakit.

Aku 5 menit berhenti karena perut kerasa sakit, nulis lagi-berhenti gitu terus.

Maklum day 1 tamu bulanan datang.

Udah ya jangan lupa vote dan komen sebanyak-banyaknya.

Babayy author mau istirahat, perutku udah sakit banget ini yaAllah.

Happy Reading

**

Dua hari telah berlalu, Alena sudah kembali seperti biasa. Ia sudah terpuruk lagi, ia sudah kembali menjadi Alena yang ceria.

Siang ini, kedua keluarga sedang melakukan pertemuan di rumah keluarga Mahendra. Alena dan kedua orang tuanya sudah siap.

"Udah siap semua?" tanya Haris pada kedua perempuan tercintanya.

"Udah, Pah," jawab Aira yang duduk di sebelahnya.

"Leya udah siap kan?" tanya Haris sambil menoleh ke kursi penumpang.

"Iya udah, Pah," jawab Alena sambil tersenyum.

Haris menyalakan mesin mobilnya dan melaju melewati Pak Joho yang berada di dekat gerbang, karena untuk membukakan gerbang.

"Makasih ya, Pak Jojo," ucap Alena dari balik kaca mobil yang ia buka sedikit, sambil tersenyum ramah.

Pak Jojo mengangguk sambil tersenyum. "Iya, Non, sama-sama," sahut Pak Jojo. 

"Duluan ya, Pak Jojo," kata Haris.

"Iya, Tuan. Hati-hati," ucap Pak Jojo dengan menunduk hormat.

Haris melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumahnya dan segera menuju ke kediaman Mahendra.

Alena di mobil sambil berfikir, kira-kira nanti mereka akan membahas apa ya di sana? Apakah dirinya dan Arka akan tunangan? Atau apa ya kira-kira?

"Leya," panggil Aira, menoleh ke belakang dengan suara lembut.

"Iya, Mah," jawab Alena.

"Kamu gapapa kan?" tanya Aira sambil menatap sang putri.

"Maksud mamah, kamu gapapa kan kalau kita ketemu Arka nanti?" lanjut Aira menjelaskan.

"Gapapa kok, Mah," jawab Alena sambil mengangguk dan tersenyum.

Aira menatap sang putri dengan serius. "Beneran?" tanyanya, mencari kepastian.

"Iya, Mah. Leya gapapa, Leya udah gapapa," jawab Alena menyakinkan.

"Yakin?" tanya Haris, menengok ke belakang sebentar dengan ekspresi khawatir.

"Iya, Pah. Leya gapapa," jawab Alena, sambil tersenyum lembut.

"Yaudah deh kalau gitu Leya turun aja nih di sini," canda Alena, dengan nada lucu dan genit.

"Eits... Jangan dong. Nanti kamu diculik orang lagi," sahut Haris, dengan bercanda juga.

"Nanti papah nggak punya anak cewek yang cerewet dan manja lagi. Iya kan, Mah?" imbuhnya, sambil menantap sang Istri.

"Iya bener, Pah. Nanti sepi deh nggak ada yang bawel di rumah," timpal Aira, sambil tersenyum.

"Nanti gak ada yang nyeramahin papah kalau papah sibuk kerja, terus gak perhatiin kesehatan," ucap Haris, dengan nada menggoda.

 Alena & Arka [Terbit, bisa dibeli di shopee]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang