41. Berdebat Setiap Hari

5.8K 140 0
                                        

Halo gaiss, selamat pagi. Gimana kabarnya hari ini? Jangan lupa jaga kesehatan kalian.

Jangan lupa sarapan dan selamat beraktivitas ya gaiss.

Jangan lupa vote dan komen yaww.

Happy Reading

**

Setelah perbincangan, Alena langsung masuk ke kamarnya. Ia membuka koper dan memilih baju yang akan ia bawa ke Apartemen.

Ini sangat berat bagi Alena. Ia harus meninggalkan rumah ini. Meninggalkan kamar ini. Rumah penuh kenangan manis, dari kecil ia tinggal di sini. Ini terlalu cepat, untuk Alena meninggalkan rumah penuh kenangan ini.

"Gue nggak siap ninggalin rumah ini," gumam Alena.

Ia menatap kamarnya—sebentar lagi ia tak tidur di kamar ini lagi. Tempat yang menjadi saksi bisu ia tersenyum dan menagis. Ternyata, semalam adalah hari terakhir ia tidur di kamar ini.

"Nggak pernah nyangka ternyata semalam adalah terakhir gue tidur di kamar ini," bisiknya lirih.

"Gue bakal kangen sama kamar ini. Kamar yang jadi saksi bisu gue nangis dan tertawa."

Air matanya jatuh membasahi pipi. Entah sejak kapan.

"Gue nggak siap," ucapnya dengan suara bergetar.

"Kenapa harus sekarang?" tanyanya pada diri sendiri. Kamarnya penuh dengan kenangan—tempat nginap teman-temannya, tempat mereka bercanda dan tertawa. Hari ini, Alena harus meninggalkan kamar itu.
Pintu kamar pun terbuka, masuklah Arka.

"Ley, lo nangis? Kenapa?" tanya Arka pelan.

"Gue nggak apa-apa," jawab Alena sambil menghapus air matanya dengan kasar. Ia pun langsung bergegas memilih baju-bajunya.

"Lo beneran nggak apa-apa, Ley?" tanya Arka sekali lagi, menatapnya khawatir.

"Iya," sahut Alena singkat, masih sibuk memindahkan baju-bajunya ke dalam koper.

"Jangan panggil gue dengan nama itu. Hanya keluarga gue yang boleh panggil gue gitu," ucap Alena tanpa menatapnya.

"Eh, iya, maaf," balas Arka cepat.

"Perlu bantuan?" tanya Arka.

"Nggak usah," jawab Alena tegas.

Alena sudah memutuskan hanya membawa setengah bajunya dan setengahnya lagi ia tinggal di rumah. Tak lupa juga ia membawa buku-buku, laptop dan keperluan kuliah lainnya.

"Lo beneran mau tinggal di apartemen?" tanya Arka, duduk di sofa sambil menatap Alena.

"Iya," jawab Alena singkat.

"Yakin?" Arka memastikan.

"Iya," ulang Alena, kali ini tanpa ragu.

🍁🍁🍁

Sore hari telah tiba, seluruh keluarga Pratama sudah berkumpul di ruang keluarga.

"Onty, onty," panggil Zara sambil menghampiri Alena. "Katanya Onty sama Om Arka mau pindah ya?"

"Iya, Sayang," jawab Alena, sambil mengelus kepala keponakannya.

"Kok pindah sih, Onty? Nanti yang ngajak aku main siapa?" wajah Zara terlihat sedih.

"Nanti Zara boleh kok main ke tempat Onty sama Om," kata Arka menenangkan.

"Beneran, Om?" tanya Zara penuh harap.

"Iya," jawab Arka sambil tersenyum.

"Horee," Zara bersorak riang.

"Udah siap-siap semuanya, Sayang?" tanya Aira pada putrinya.

 Alena & Arka [Terbit, bisa dibeli di shopee]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang