28. Salah Paham

7K 158 0
                                        

Halo, selamat malam semuaa. Gimana kabarnya?

Selamat istirahat ya semuaa. Besok harus kembali beraktivitas.

Alhamdulillah aku masih ingat sedikit-sedikit alurnya. Sebenarnya chapter kali ini panjang dikit, tapi karena aku lupa apa aja isinya, jadi yaudah seingatku aja yaww.

Masih sedih banget aku tuhh. Pen nangiss.

Semoga Wattpad segera dibenahi deh, gaenak banget kalau ga ada kuota nggak bisa buka Wattpad kalau pakai wifi. Gemes banget aku sama Wattpad sekarang, sering eror ih!

Udahlah. Jangan lupa vote dan komen yaww.

Happy Readingg

***

Tiga hari telah berlalu sejak insiden kecil yang membuat hati Alena sedikit tercubit—tentang Liora dan masa lalu yang sempat membayang. Tapi waktu, perhatian, dan sikap Arka yang tulus berhasil meredakan rasa itu perlahan. Hari ini, mereka berdua sepakat untuk bertemu kembali di kafe langganan mereka—bukan di Monokafe yang biasanya ramai dan penuh teman, tapi di tempat yang lebih tenang, seolah ingin menciptakan ruang hanya untuk mereka berdua.

Namun berbeda dari biasanya, mereka tidak datang bersama. Arka harus mampir ke kampus lebih dulu untuk menyelesaikan beberapa urusan organisasi. Alena pun setuju untuk menyusul.

Sekarang, Arka sudah tiba lebih dulu di kafe. Ia memilih duduk di sudut dekat jendela, tempat favorit mereka, sambil menunggu Alena yang belum juga datang.

Namun, seseorang tak terduga tiba lebih dulu.

"Aka," sapa seorang perempuan dengan suara lembut namun mantap.

Arka menoleh cepat. "Liora?"

Liora tersenyum canggung. "Iya, ini gue."

Arka sedikit terkejut. "Kok lo bisa ada di sini?"

"Tadi gue nggak sengaja lihat lo di jalan. Terus gue ikutin aja. Ternyata lo ke sini," jawab Liora sambil duduk di kursi di seberangnya.

Ia menarik napas dalam. Sejenak terdiam, lalu menatap Arka lurus-lurus.

"Ka, sebenarnya alasan gue balik ke Jakarta bukan cuma karena urusan keluarga atau kerjaan," katanya pelan. "Tapi karena gue pengin ketemu lo. Kita udah lama banget nggak ngobrol. Dan, ada yang harus gue sampaikan."

Liora menarik napas sekali lagi, kali ini lebih panjang. Ia menunduk sejenak sebelum mengangkat wajahnya kembali.

"Aka, gue mau jujur. Dari dulu, gue suka sama lo. Dari cara lo perhatian, dari semua sikap kecil yang bikin gue nyaman. Awalnya gue kira lo juga punya perasaan yang sama. Tapi ternyata itu cuma perasaan gue sendiri ya?"

Arka masih diam, tak langsung menjawab.

"Alasan gue ke Jakarta sebenarnya, buat memperjuangkan perasaan ini. Tapi kayaknya semua udah terlambat. Lo udah jadi milik orang lain."

Yang tidak mereka sadari adalah, dari luar kafe—tepat di balik jendela kaca—Alena berdiri. Matanya tertuju pada mereka berdua. Tangannya yang menggenggam ponsel perlahan melemas. Senyumnya lenyap begitu saja.

Ia tidak bisa mendengar percakapan di dalam, tapi ekspresi Liora, dan raut wajah Arka yang tidak menampik, membuat pikirannya dipenuhi berbagai dugaan.

“Jadi ini alasan Arka bilang dia harus ke kampus dulu?”

 Alena & Arka [Terbit, bisa dibeli di shopee]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang