Jimin mengayunkan kakinya main-main dari atas single sofa yang ia duduki. Pipinya menggembung lucu saat potongan pizza kembali masuk ke mulutnya.
Katanya jadi orang hamil itu gak enak. Bullshit! Buktinya Jimin sangat menikmati saat kejayaan seperti ini. Yaa walaupun terkadang morning sickness menjadi musuh terbesarnya. Tapi lihat yang ia dapat; kemewahan, kenyamanan, kejayaan, bahkan kebaikan ayah mertuanya yang sebelum pernikahan digelar saja sudah mengibarkan bendera peperangan. Tapi lihat sekarang, pria tua itu bahkan jadi lebih banyak memperhatikan Jimin ketimbang menantu pertamanya, Jung Soojung.
"Semua ini berkat aegi~" dendangnya sambil mengelus perutnya yang sudah mulai terlihat membuncit.
Gerakan kecil ia rasakan dari perutnya. Ah, bayinya sudah bisa menendang. Ini terhitung sudah kedua kalinya, dan Jimin makin tidak sabar untuk memberitahu sang suami yang juga pasti akan sangat gembira.
Omong-omong tentang Kim Taehyung, lelaki yang sudah menjadi suami sahnya itu jadi super sibuk sekarang. Seminggu setelah pernikahan mereka, lelaki itu menjadi lebih giat dengan tugas-tugas kuliah. Berkat kemampuan dan kerja kerasnya juga, lelaki Kim itu bisa menyelesaikan kuliah lebih cepat daripada teman-temannya, bahkan sangat cepat. Jangan tanya Jimin bagaimana Taehyung melakukannya, karena Jimin sendiri masih bertanya-tanya. Dan sekarang Taehyung sudah memegang kunci menuju kursi CEO di perusahaan ayahnya. Tentu saja disebut maupun tidak, Jimin memiliki andil dalam hal ini. Taehyung sendiri yang memberitahunya bahwa "Aku akan jadi CEO setelah putraku lahir." Hal itu pula lah yang membuat Jimin menjadi manusia paling di agungkan di rumah keluarga Kim sekarang.
Mengingat hal itu Jimin jadi tersenyum sendiri. Kakinya menapaki lantai perlahan, lalu mengambil langkah menuju ruang kerja sang suami.
Didepan pintu bercat kayu itu Jimin berdiri, membenahi penampilan yang dirasa sedikit berantakan. Tapi sebelum tangannya menggapai kenop pintu, sayup-sayup ia mendengar suara yang tak asing. Penasaran, telinganya pun ia tempelkan ke daun pintu, berusaha mendapat pendengaran yang lebih baik.
"Jadi, lo beneran udah jatuh cinta sama Park Jimin?!"
Kim JongIn? Ya, ia yakin ini suara Kim JongIn, kakaknya Taehyung.
"Isn't he's just your toy? Lo bilang gitu ke gue, tepat sebelum hari pernikahan."
Jimin tidak tau bagaimana suasana di dalam sana. Tapi ucapan sepihak JongIn memercik arus kejut bagi Jimin. Ia terdiam mematung, dengan pandangan kosong.
" Ya."
Taehyung? Apa yang dia bilang barusan?!
"He's just a toy. Setelah anak itu lahir, dia bisa tinggal atau minta cerai. Pilihan manapun ga bikin dia rugi, dan gue pastiin gue juga gak rugi."
Sudah. Cukup sudah. Jimin tidak sanggup lagi mendengar lebih banyak kebenaran. Dengan langkah gemetar, ia menjauhi ruangan itu, mengunci diri di kamarnya dan Taehyung, lalu terisak dibawah selimut.
.
.
"But it has past now!" nada suaranya meninggi.
"Dan kayak yang pertama lo tanyain tadi, gue emang beneran jatuh cinta sama Jimin. So, lo gak bisa ancam-ancam gue lagi pake omongan gak berarti itu sekarang."
Taehyung tersenyum remeh, begitu pula dengan JongIn.
"Lo pikir sampai kapan Jimin gak bakal tau hal ini?"
Dahi Teahyung berkerut. Matanya memicing, menilik sang kakak penuh antisipasi.
"Dia udah tau," jeda singkat, "barusan."
Raut murka tergambar jelas di wajah Taehyung, sangat kontras dengan ekspresi yang diberikan JongIn; tampak puas dengan raut marah adiknya.
Tangan Taehyung mencengkram jas yang JongIn kenakan. Lalu tanpa aba-aba, ia melayangkan satu bogeman mentah pada rahang kiri sang kakak. Jongin tersungkur, membentur meja di belakangnya. Lelaki yang lebih tua itu tertawa walau darah keluar dari sudut bibirnya.
"Haven't I told you before, you'll never reach your hapiness, my lil bro. Hahaha khk uhuk hahaha"
TBC
Tadinya mau end di part ini tapi kenapa gajadiiiii 😭
Yodadeh end nya kapan2 aja :'))
Smoga masih ada yg mau baca dan nungguin lanjutannya :'))
Semangatin aku ya temans 😘
