10

2K 220 15
                                        



"JUNGKOOK?!"

Pukul dua dini hari, dan Jimin dikejutkan dengan kedatangan Jeon Jungkook ke kostannya. Nafas pria itu tersengal, putus-putus. Keringat mengucur tak teratur.

"Kena-"

BRUK

Belum apa-apa, tubuh mungilnya sudah diterjang, dipeluk sangat kencang.

.
"Aku ada berita baik." ucap Jungkook semangat, dengan mata besar berbinar, juga senyuman lebar.

Jimin hanya mengangguk diam. Pasalnya, 2 X 24 jam pasca drop out-nya yang tidak terhormat, Jimin tidak pernah mendapat berita baik. Bahkan Taehyung yang menghilang tanpa pemberitahuan pun tidak bisa membuat mood-nya baikan.

"Mulai besok kamu bisa kuliah lagi."

HAH?!

APAAN?!

Ia tidak salah dengar kan?

Menyadari raut terkejut milik Jimin, Jungkook kembali mengulang,

"Mulai besok kamu bisa kuliah lagi. Mereka bilang salah paham dan bakal minta maaf secara langsung pas penyambutan."

Jimin makin terperangah.

Apa katanya? Penyambutan?!

.

.

"Gimana? Udah?"

"Ya, tuan. Tuan muda Jeon Jungkook  yang memberitahukannya. Sekarang ini beliau masih di kediaman Park Jimin-ssi."

Jungkook?

"Sama siapa dia ke sana?"

"Sendiri, tuan."

Jungkook kampret! Ngapain dia ke kostan Jimin?!

"Oke. Pantau terus. Pastiin Jimin dateng besok. Dan pastiin aki-aki itu beneran minta maaf. Jagain Jimin. Kalo ada hal yang mencurigakan dan kira-kira membahayakan, langsung cepat tanggap. Pokoknya pastiin Jimin baik-baik aja."

"Baik, tuan."

Menghela nafas sejenak. Lalu bayangan wajah Jimin kembali terlihat. Hanya sekejap, karena senyum menyebalkan Jungkook tiba-tiba terbayang.

Anjir!

"Pastiin juga si kodok itu ga macem-macem."

"Maaf,-"

Matanya meneleng, sebelum bibirnya kembali berucap, "Jungkook."

"Baik, tuan Kim Taehyung, saya mengerti. Sa-"

tut tut tut

Sambungan diputus sepihak. Bukan apa-apa, Taehyung hanya tidak sabar untuk segera mengumpat.
"Jeon Jungkook kampret sialan!!"

.

.

Ini bukan kali pertama ia menginjakkan kaki disini. Tapi kenapa rasanya berbeda? Terlebih dengan tatapan dan ucapan maaf yang tiada henti ia terima. Sudah kayak air aja; ngalir gaada ujung. Batinnya bermonolog.

Lalu sampai di tengah lapangan, ia makin di kejutkan dengan sambutan dari rektor dan para dekan yang menyalami dan meminta maaf beraturan.

"Kami benar-benar minta maaf. Kami sangat berharap maaf dari kamu, Jimin. Kami juga meminta kamu untuk kembali kuliah di sini. Beasiswa kamu tidak jadi kami cabut. Ah, juga, maaf karena baru mengatakan ini sekarang, karena tentunya banyak hal yang harus kami 'urus' terlebih dahulu."

BULLY || VMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang