1- Mimpi & masa lalu

64 38 1
                                    

"Hans jangan lari-larian. Nanti kamu jatuh"
Ucap wanita yang sedang berdiri di depan teras rumahnya ini.

"Hans lagi main bola nih sama papa"
Jawab Hans yang tengah asyik bermain bola dengan ayahnya.

"Udahan dulu mainya! sekarang waktunya makan"

"yahh mama"
Rengek anak itu sambil memberhentikan aktivitasnya.

"Yaudah Hans, kita turutin aja Mama kamu ya, ntar kalo gak kita turutin Mama kamu bisa marah sama kita"
Ujar Laki-laki itu kepada anak kesayangannya.

"Yaudah pa, ayuk"
Ucap Hans sambil menarik tangan Papanya.

Keluarga kecil itu sangat bahagia. Ketiganya menikmati makanan di meja makan sambil bercerita dan tertawa ria. Anak itu sangat bahagia terlihat dari senyum yang merekah di wajahnya dan begitu juga dengan kedua orang tuanya.

Hm keluarga yang sempurna. Dengan adanya Ayah dan ibu dan juga seorang anak laki-laki yang tampan.
Keluarga yang sangat harmonis.
Hans tidak melupakan masa-masa bahagianya ketika masih kecil bersama orang tuanya.

Namun, kini cerita itu berubah.

"Mama! Papa! Jangan tinggalin Hans. Hans takut sendirian. Hiks... Mama! Papa!"

Tangis bocah berumur 7 tahun itu semakin menjadi-jadi. Ayah dan ibunya pergi meninggalkannya. Ia terus mengejar ayah dan ibunya yang sudah masuk kedalam taksi.

"Udah Hans! Mama papa kamu gak sayang lagi sama kamu. Dia udah buat keputusan buat ninggalin kamu Hans. Sekarang Hans sama Kakek dan Nenek aja. Nanti Kakek sama Nenek bisa jagain Hans"

Ujar seorang pria tua bernama 'Damar danadyaksa' itu kepada Hans. Damar adalah ayah dari 'Lovina minayaksa' (mama Hans).

"enggak! Hans maunya sama Mama Papa"

"Hans kamu sama Nenek. Mama sama papa kamu pergi sebentar, nanti mereka balik lagi kok buat jemput kamu"

Bohong seorang wanita tua kepada Hans untuk menenangkanya. Wanita tua itu bernama 'Yuana adamina' ibu dari mama Hans, Lovina.
Damar melirik kearah istrinya tidak percaya dengan ucapanya barusan. Istrinya mengedipkan matanya pertanda untuk mengiyakan perkataanya kepada Hans. Damar pun mengangguk mengerti.

"Iya Hans. Untuk sementara Hans sama kakek dan nenek ya? Nanti mama papa kamu bakalan jemput kok"
Lanjut Damar.

"Enggak! Hans gak mau! Hans maunya sama mama dan papa"
Ucap anak itu tidak menuruti perkataan nenek dan Kakeknya.
"Mama Papa jangan tinggalin Hans hiks" lanjutnya dengan air mata yang terus keluar membasahi pipinya.

Terpaksa Damar harus menggendong Hans masuk kerumahnya dan memasukanya ke dalam kamar lalu menguncinya agar anak itu tidak keluar dari rumahnya.

Hans terus menangis dipojok kamarnya sambil merangkul kedua lututnya dengan tangan lalu menenggelamkan kepalanya diantara lutut dan tanganya.

"hiks...mama...papa..."
Tangis Hans sambil memanggil mama dan papanya itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

"Hah!"

Hans terbangun dari mimpinya dengan nafas yang masih terengah-engah dan keringat membasahi tubuhnya. Sekarang Hans berusaha untuk menetralisirkan nafasnya.
Ia tak mengerti kenapa mimpinya selalu berkaitan dengan masa kecilnya dulu.

Hans berdiri dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi yang ada dikamarnya untuk mencuci muka dan menjernihkan pikiranya.

"Kenapa? Kenapa mimpi itu terus datang?"
Ucap Hans setelah mencuci mukanya di wastafel dan melihat dirinya dipantulan cermin.

"Arghtt"
Teriak Hans sambil memegang kepalanya disaat rasa sakit itu menghantam kembali. Hans segera keluar dari kamar mandi dan langsung meminum obat yang ada dinakas samping tempat tidurnya itu.

Hans mendudukan dirinya di atas kasur dan terus menetralisirkan nafasnya yang tengah terburu.

"Arghttttt"
Ucap Hans frustasi sambil menarik rambutnya sendiri.

Hans menjatuhakan semua barang-barangnya. Sekarang Hans benar-benar merasakan sakit. Sakit dikepalanya dan juga sakit di uluh hatinya.

Nenek dan Kakeknya yang mendengar suara pecahan kaca pun langsung berlari menuju kamar Hans.

"Hans! Kamu kenapa?"
Ucap neneknya sambil membuka pintu kamarnya.

Hans yang melihat kedatangan nenek dan Kakeknya pun langsung memberhentikan aktifitasnya menjatuhkan barang ke lantai.
Hans berjalan hontai menuju kakek dan neneknya.
Hans memeluk neneknya. Sekarang ia menangis dipangkuan neneknya lagi. LAGI.

"Nenek...Hans takut sendiri nek. Hans gak mau hidup sendiri"
Ucap Hans diselah isakan tangisnya.

"Kamu gak sendiri kok Hans. Disini kan ada kakek sama nenek yang bakal jaga kamu"
Ucap Nenek Hans sambil memeluk cucunya itu dan mengusap-usap punggungnya.

"iya Hans. Kamu gak perlu takut sendiri. Kakek sama nenek bakalan jagain kamu kok"
Kali ini kakek Hans yang berbicara.

"Kakek sama nenek jangan tinggalin Hans ya"
Ucap Hans lirih.
Kakeknya pun sekarang ikut memeluk Hans dan menenangkanya.

Mungkin kalian berfikir Hans terlalu lebay sampai-sampai ia menangis seperti perempuan. Tapi Hans bukanlah laki-laki lemah! Hans adalah seorang laki-laki yang kuat. Hans tidak selemah itu!

Flashback on

Sudah 7 tahun lamanya Hans ditinggalkan oleh kedua orang tuanya. Sekarang ia sudah terbiasa dengan kehidupanya yang sekarang. Ada Kakek dan Neneknya yang terus menyayanginya.
Namun kenyataan pahit menghantamnya lagi disaat kakek dan neneknya bercerita tentang mengapa ayah dan ibunya meninggalkannya pada saat itu.

"Hans Kakek sama Nenek mau bicara sama kamu! Penting!"
Ucap Damar Kakeknya.

"Soal apa kek?"
Tanya Hans.

"Kita bicara diruang tamu aja"
Ajak kakeknya.

Disana sudah ada Neneknya.
Hans mendudukan dirinya di sofa berhadapan dengan Damar dan Yuana.

Damar dan yuana bertatapan satu sama lain. Hans merasa bingun di buatnya.

"Hans! Sekarang kamu sudah berumur 15 tahun. Nenek rasa, ini gak perlu lagi kami sembunyiin. Kami sudah cukup tua. Kamu perlu tahu semuanya sebelum terlambat"
Ucap Yuana lirih kepada cucunya itu.

"Emangnya ada apa nek?"
Tanya Hans dengan rasa bingung

"Sebenarnya, Ada banyak sekali sesuatu yang tidak kamu ketahui Hans. Tapi, lambat laun kamu pasti akan mengetahuinya"
Ujar Damar.

"Untuk saat ini, Nenek mau ngasih tahu kamu sesuatu yang sangat penting dan Nenek rasa ini gak pantes buat disembunyiin dari kamu."
Lanjut Yuana.

"Sebenarnya Nenek sama Kakek mau ngomongin soal apa sih? Kenapa ucapan Kakek sama Nenek penuh teka-teki kayak gini. Hans gak ngerti"

Ucap Hans bingung dengan perkataan Nenek dan Kakeknya yang seolah-olah penuh dengan sesuatu yang tidak seharusnya untuk dilontarkan.

Damar menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskanya sebelum melanjutkan ucapanya kembali.

"Sebenarnya Ayah kandung kamu sudah meninggal dunia Hans"

'dug!'

Hans seperti berhenti bernafas saat mendengar ucapan dari kakeknya barusan. Dadanya terasa sesak untuk menghirup oksigen.
Kenyataan pahit yang selama ini tidak diketahuinya menampar dirinya lagi. Menghancurkan dan merobek-robek hatinya.

"Hans... Laki-laki yang bersama Mama kamu saat ini bukanlah Ayah kandung kamu. Dia juga yang menyebabkan kematian Ayah kamu Hans. Kakek berharap Mama kamu segera mengetahui tentang hal ini"
Lanjut Damar menjelaskan.

Flashback off

HanszhellaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang