Author's POV
"Mom akan menikah, Alora..." Marianne tak berani menatap wajah Alora. Ia tak sanggup melihat ekspresi yang akan tampak di wajah cantik putrinya.
"APA?!" secara spontan Alora melepas genggaman tangan ibunya dan bangkit dari kursi. Ia seakan kehilangan oksigen. Nafasnya memburu dan wajahnya memerah padam. Lututnya terasa lemas sehingga ia harus bertumpu pada sebuah kursi. Marianne yang melihat hal itu langsung menghampiri Alora dan membantunya untuk bangkit. Namun uluran tangannya langsung ditepis oleh Alora.
Alora merasakan sakit pada tenggorokannya. Napasnya tercekat, dan matanya terasa perih. Ia merasa jantungnya berdenyut dengan keras. Kelopak matanya sudah dipenuhi oleh air yang bersiap mengalir dengan deras.
"Maafkan aku nak, tapi kupikir ini adalah jalan terbaik.." lirih Marianne yang saat ini pipinya telah basah oleh air mata.
" Kenapa kau melakukan ini?! Kenapa?!" Alora meraung – raung tak kuasa mendengar kata – kata yang keluar dari mulut ibunya. Dunia nya baru saja runtuh.
" Aku tak mungkin mengorbankan dirimu Alora, aku tahu kau mempunyai seseorang yang kau cintai. Aku tak mau kau merasakan apa yang Mom rasakan dulu. Aku tak mau mengorbankan kebahagiaanmu demi kepentinganku, Alora." Marianne merengkuh putrinya yang menangis dengan hebat. Ia tahu kalau pernikahan itu juga tak akan membahagiakan dirinya. Tapi setidaknya bukan putrinya yang merasakannya.
"Aku tak mau ada yang menggantikan posisi Dad! Dad tak bisa digantikan oleh siapapun!" teriak Alora yang semakin histeris sehingga mengundang para pekerja yang ada di mansion untuk menyaksikan keributan yang ada.
Para pekerja mansion merasa prihatin kepada Alora maupun Marianne. Karena mereka tahu kedua belah pihak merasakan sakit yang mendalam.
"Dengarkan Mom Alora, posisi ayahmu tak akan pernah terganti dan tak ada yang bisa menggantikannya. Ayahmu tetap dirinya walaupun tempatnya bukan lagi di dunia ini. Tapi Mom mohon kepadamu untuk mengerti, nak. Mom tidak ingin kau sendirian jika suatu saat Mom tidak bisa berada di sisimu lagi. Mom ingin ada seseorang yang dapat menjagamu." Marianne mengusap lembut kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.
" Kenapa kau bicara seperti itu! Sampai kapanpun kau akan tetap bersamaku!" Alora menjerit histeris.
" Aku tidak memaksamu untuk menerimanya, tapi setidaknya kau mengerti kenapa aku melakukannya." Marianne berkata lirih sembari terus terisak.
Alora melepas rengkuhan ibunya dan bangkit dengan susah payah.
" Silahkan kau menikah. Tapi jangan harap aku akan datang." Ucap Alora dengan nada dingin. Setelah itu Alora berlari ke luar dari mansion dengan sisa tenaga yang dimilikinya.
"Alora! Kau mau kemana nak!" teriak Marianne dengan isak tangisnya.
"Maafkan aku, Alora. Aku harus melakukan ini." Lirih Marianne meskipun Alora tak dapat mendengarnya.
***
Sekarang tibalah saatnya. Hari yang sebenarnya tidak ditunggu oleh siapapun. Hanya ada satu orang yang menunggu hari ini. Tony Mcguaire.
Di sebuah gereja yang ada di tengah – tengah kota New York, beberapa gerombolan orang berkumpul di dalamnya. Tidak terlalu ramai, hanya ada segelintir orang – orang penting yang datang di hari yang seharusnya menjadi hari bahagia bagi Xavier dan Marianne. Namun tidak. Mereka justru tak bahagia dengan pernikahan yang akan mereka laksanakan sebentar lagi.
"Dad memang brengsek." Gumam Steve-Ayah Xavier- yang merasa prihatin melihat anaknya. Miranda hanya mengangguk lemah membenarkan ucapan suaminya.
"Aku tak ingin berada disini sayang, aku tak sanggup melihatnya." Ucap Miranda kepada suaminya sembari menunduk lemah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Serendipity
RomanceSerendipity adalah suatu kejadian dimana seseorang menemukan sesuatu yang indah tanpa harus susah susah mencarinya. Begitu juga dengan Xavier dan Alora. Pada awalnya mereka terjebak di dalam kondisi yang kacau. Namun lama kelamaan mereka menyadari b...
