Author's POV
Di sebuah tempat yang gelap diiringi dentuman musik yang keras serta aroma alkohol yang menyeruak. Semua orang tahu tempat apa itu. Night Club.
Di sudut ruangan VIP terlihat beberapa orang pria berjas dengan beberapa wanita penghibur yang bergelayut manja kepada pria – pria itu. Botol minuman, gelas, rokok,terlihat berserakan di atas meja. Mereka tampak menikmati suasana yang sudah menjadi makanan mereka sehari – hari.
Seorang wanita penghibur berambut merah terlihat sedang duduk di atas pangkuan seorang pria tampan yang terlihat risih. Bukan karena tak tergoda, tapi pria itu risih karena wanita itu mengganggunya yang sedang membaca pesan penting. Wanita itu berusaha meraih bibir pria itu yang membuat pria itu berdesis.
" Bisakah kau minggir?" ucap pria itu yang terlihat kesal.
" kenapa? Apa aku kurang menggoda untukmu?" Wanita itu memasang wajah cemberutnya sambil mengelus dada pria itu.
" Ku bilang minggir." Ucap pria itu dengan nada tak terbantahkan.
Wanita itu bangkit dengan perasaan kesalnya lalu menghentakkan kakinya dengan keras. Kemudian wanita itu berlalu meninggalkan ruangan VIP itu.
" Wow.. ada apa denganmu Xav?" ucap salah seorang pria yang bernama Arthur. Ia terlihat bingung dengan tindakan Xavier yang tak seperti biasanya.
" Xavier si pemangsa wanita, mengusir wanita yang menggodanya." Arthur menggerakkan tangannya di udara seakan membuat sebuah judul.
"Tutup mulutmu bajingan." Ucap Xavier dengan kesal.
Sedangkan pria yang disebut bajingan itu hanya terkekeh atas ucapan Xavier.
"Ada apa denganmu Xav?" celetuk salah seorang pria dengan rambut berwarna pirang. Pria itu adalah Dave teman yang paling dekat dengan Xavier di antara yang lainnya.
" Si tua bangka itu membuatku kesal. Kapan dia akan mati?"
Seketika semua orang yang ada di tempat itu menoleh kepada Xavier yang hanya memasang wajah tak berdosa. Sedetik kemudian mereka terkekeh mendengar kata – kata Xavier.
Dave memberikan kode kepada Jamie dan Arthur melalui tatapannya. Sesaat kemudian para wanita penghibur itu bangkit dan pergi meninggalkan ruangan itu menyisakan Dave, Xavier, Jamie, dan Arthur.
"Apa yang membuatmu kesal begitu?" Tanya Jamie sembari menuangkan Vodka ke dalam gelasnya.
"Memang aku belum menceritakan kepada kalian?"
Mereka hanya mengangkat bahunya sembari memasang wajah bingung. Xavier menghela napasnya kasar.
" Si tua bangka itu memang selalu membuatku kesal. Aku terus menerus berada di bawah kendalinya." Xavier melonggarkan dasinya untuk mengurangi sesak yang ia rasakan akibat emosinya.
"maksudnya kakekmu?" Tanya Arthur yang hanya dijawab anggukan oleh Xavier.
" Dia menyuruhku untuk menikah" Xavier mengepalkan tangannya dengan kuat
" Lalu kenapa kau marah? Bukannya itu bagus untukmu? Sadarlah bung, sebentar lagi umurmu 30 tahun. Kau semakin tua dan ini memang sudah waktunya kau untuk menikah dan mempunyai anak." Ucapan Dave disetujui oleh Jamie dan Arthur.
"Bukan itu masalahnya." Jawab Xavier dengan gusar. Ia menjambak rambutnya merasa frustasi.
"Ya tuhan, kau ini bertele – tele sekali seperti perempuan! Cepat katakana apa masalahnya!" ucap Jamie yang kesal karena penasaran dan Xavier yang bertele – tele.

KAMU SEDANG MEMBACA
Serendipity
RomanceSerendipity adalah suatu kejadian dimana seseorang menemukan sesuatu yang indah tanpa harus susah susah mencarinya. Begitu juga dengan Xavier dan Alora. Pada awalnya mereka terjebak di dalam kondisi yang kacau. Namun lama kelamaan mereka menyadari b...