Hi guys!! It's been a long time since my last update. Alhamdulillah sekarang waktu ku udah lumayan senggang gak sepadat kemarin kemarin dan akhirnya aku bisa update malam ini. Buat kalian yang menjalani sekolah online atau kuliah online, semangat ya!!!
Oke langsung aja ya, enjoy the chapter!!❤
Sorry if there are so many typos :(
Author's POV
Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Xavier berjalan memasuki mansion sembari membawa Alora dalam gendongannya. Gadis itu benar – benar tak terusik sama sekali dalam tidurnya,padahal Ia sudah berusaha membangunkan Alora saat mereka baru sampai di mansion. Xavier tak habis pikir dengan gadis itu. Ia menggelengkan kepalanya pelan ketika menatap Alora yang terlelap begitu tenang di pangkuannya.
"Astaga apa yang terjadi pada Alora?!" Sebuah suara menyambut kedatangan mereka dengan khawatir. Marianne menatap Alora yang berada di gendongan Xavier dengan khawatir.
"Xavier, apa yang terjadi padanya?" Tanya Marianne begitu Ia mendekati Xavier.
Xavier mengisyaratkan Marianne agar tidak berisik melalui tatapannya. Hal itu membuat Marianne mengerutkan dahinya kebingungan.
"Dia baik – baik saja, dia hanya tertidur." Balas Xavier sedikit berbisik takut Alora terusik dalam tidurnya.
"Ya tuhan, aku kira Dia kenapa. Syukurlah Dia hanya tidur." Marianne menghembuskan napasnya dengan lega.
"Aku akan menaruh Alora di kamarnya." Ucap Xavier yang langsung berjalan ke kamar Alora tanpa melihat Marianne.
Marianne yang melihatnya mengerutkan dahinya aneh. Bukan cemburu, bukan. Ia hanya sedikit heran melihat sikap Xavier kepada Alora yang terlihat sedikit berbeda dengan ayah dan anak tiri pada umumnya. Namun Marianne segera menepis pikiran anehnya. Seharusnya Ia bersyukur ketika putrinya diperlakukan dengan baik oleh Xavier, suaminya. Suami? Bahkan Marianne sangat canggung unntuk mengakuinya. Sungguh Ia lebih nyaman menganggap Xavier sebagai anaknya daripada sebagai suaminya.
Xavier meletakkan Alora pada ranjang gadis itu dengan sangat hati – hati. Kemudian Ia menarik sebuah selimut untuk menutupi tubuh gadis itu sebatas dada. Tiba – tiba tangannya terangkat menuju wajah Alora. Tangannya bergerak menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah cantik gadis itu.
Xavier diam sejenak memandangi wajah Alora dengan intens. Mengagumi betapa cantiknya wajah itu. Xavier merasakan debaran di jantungnya. Sebuah debaran yang belum pernah Ia rasakan sama sekali. Nafasnya selalu tercekat tiap kali Ia berada sangat dekat dengan Alora, seolah dirinya ditarik untuk lebih mendekat pada gadis itu. Aura gadis itu memang benar – benar kuat. "Apa yang telah kau lakukan padaku, Alora." Gumamnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Semakin Ia menatap wajah itu, semakin sulit bagi Xavier untuk menyadarkan dirinya. Ia seolah terhanyut oleh sejuta pesona yang dimiliki gadis itu.
Xavier segera bangkit dari duduknya sebelum dirinya melakukan hal – hal yang diluar kendalinya. Gadis itu benar – benar memiliki magnet pemikat yang sangat kuat!
Xavier melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang terletak tidak jauh dari kamar Alora dan Marianne. Ya, kamar Xavier dan Marianne memang terpisah. Itupun atas keinginan Marianne sendiri. Sebenarnya Xavier memang hendak mengajukan keinginanya untuk tidur di kamar yang terpisah, namun rupanya Marianne mengatakannya lebih dulu sebelum Xavier mengatakannnya.
Ia tak dapat membayangkannya jika Ia harus berbagi ranjang dengan seorang wanita yang jauh lebih tua darinya. Bahkan Xavier akan merasa sangat canggung untuk berbagi ranjang dengan Ibu nya sendiri, apalagi ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
Serendipity
RomanceSerendipity adalah suatu kejadian dimana seseorang menemukan sesuatu yang indah tanpa harus susah susah mencarinya. Begitu juga dengan Xavier dan Alora. Pada awalnya mereka terjebak di dalam kondisi yang kacau. Namun lama kelamaan mereka menyadari b...
