6. KISS

1.2K 30 1
                                    

Author's POV

Xavier diam sejenak memperhatikan Alora yang sedang tertidur. Matanya menelusuri seluruh bentuk wajah Alora. Wajahnya tetap cantik dan menawan meskipun dalam keadaan kacau seperti ini. Sejauh ini Xavier sangat menyukai bibir Alora yang menurutnya sexy itu. Membuatnya ingin menyecapnya terus menerus.

Xavier menghela napasnya kasar. Alora benar benar menggoda imannya. Xavier tidak sengaja melihat dress Alora yang sedikit tersingkap sehingga memamerkan paha putih mulusnya.

"Kau nakal juga ya." Gumam Xavier kemudian ia tesenyum miring.

"hmmmm" Alora menggeliat dalam tidurnya. Dan hal itu tak luput dari pandangan Xavier.

" Tolong jangan memancing hasratku, Alora." Gumam Xavier yang merasakan sesak karena menahan sesuatu yang berdesir di dalam tubuhnya.

Alora perlahan membuka matanya. Xavier buru – buru mengalihkan pandangannya. Tiba – tiba Alora terisak. Xavier kebingungan dengan Alora yang tiba – tiba bangun kemudian menangis.

"Hikss.. hikss..." Alora menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

"Ada apa?" Tanya Xavier dengan sebelah alisnya yang terangkat tinggi.

Alora menatap Xavier dengan masih terisak.

"Kenapa dia jahat! Kenapa!" teriak Alora histeris.

Xavier bingung harus melakukan apa. Ia benar – benar tidak tau apa apa tentang menangani wanita yang sedang menangis. Dan pada akhirnya ia memilih bungkam.

"Semua laki – laki memang bajingan. Brengsek." Gumam Alora dengan tatapan kosongnya.

" Tidak semua, Alora. sudahlah tak usah kau tangisi bajingan keparat itu. Lebih baik kau berusaha membuatnya menyesal. Itu pasti akan cukup menyiksanya." Entah ada setan dari mana Xavier berbicara seperti itu.

Alora mendongak menatap Xavier. " Benarkah aku harus melakukan itu?" Tanya Alora dengan wajah polosnya yang dibalas anggukkan oleh Xavier. Alora mengalihkan pandangannya ke jalanan. Wajahnya sendu, tatapannya seakan menerawang sesuatu.

Xavier menatap Alora yang sedang melamun. Matanya menjelajahi setiap inci wajah Alora. mulai dari alisnya yang tegas, mata biru lautnya, hidung yang sempurna, dan yang terakhir adalah bibir Alora yang sangat sexy yang sialnya sangat menggodanya. Xavier mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Pikirannya sudah benar – benar tidak waras. Ia begitu mendambakan bibir Alora yang menempel pada bibirnya.

Sial. Bagaimana bisa aku mengeras hanya karena seorang gadis kecil. Gumam Xavier dalam hatinya sambil meremas pelan rambutnya.

"Persetan. Aku benar – benar tidak kuat menahannya." Gumam Xavier yang langsung menarik tengkuk Alora dan menyatukan bibirnya dengan bibir Alora.

Alora sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Xavier, ia hanya diam tidak bisa melakukan apapun. Rasanya seperti tersengat listrik dengan tegangan tinggi. Alora berusaha mengendalikan kesadarannya. Ia mendorong dada Xavier yang tidak berpengaruh apapun. Xavier tidak menjauh sedikitpun. Akhirnya Alora hanya bisa pasrah, ia diam menerima ciuman yang diberikan oleh Xavier.

Xavier terus melumat habis bibir Alora meskipun gadis itu tak membalasnya. Bibirnya terasa begitu manis dan lezat. Lama kelamaan Xavier menutut balasan dari Alora. Ia membawa kedua tangan Alora untuk disimpan di pundaknya. Tangannya mengelus pipi Alora yang terasa sangat lembut di tangannya. Kemudian tangannya menyusuri wajah Alora dimulai dari pipi sampai telinga. Saat mendapat sentuhan di telinganya, Alora mulai terangsang. Akhirnya Alora membalas ciuman Xavier.

Ciuman mereka semakin memanas. Tentu saja tangan Xavier tak tinggal diam. Tangannya mengusap paha Alora yang sedikit terekspos hingga membuat Alora melenguh pelan yang nyaris tak terdengar. Saat merasa pasokan oksigen menipis, Alora dengan sekuat tenaga berusaha melepaskan ciuman panas mereka. Napas keduanya memburu saling bersahutan. Mereka saling menatap dalam diam. Alora bisa tahu apa yang dirasakan oleh Xavier dilihat dari kilatan matanya yang seakan sedang terbakar oleh api yang sangat panas.

Alora berdehem untuk menghilangkan kecanggungan yang timbul akibat aktivitas mereka tadi.

" Kita harus pulang, aku takut Mom khawatir." Ucap Alora yang tidak berani menatap Xavier.

Xavier hanya mengangguk dan kemudian menjalankan mobilnya menuju ke kediaman mereka.

Keesokan paginya

Alora mengerjapkan matanya perlahan sembari menggeliat dengan hebat di atas kasur empuknya. Ia melirik jam di atas nakas yang menunjukkan pukul 10.03 pagi. Alora mengambil posisi duduk kemudian ia memegang kepalanya yang terasa sangat pusing. Ia menatap sekelilingnya. Dan sedetik kemudian dahinya mengerut.

"Kamarku? Bagaimana bisa aku berada di kamarku?" gumam Alora .Sesaat kemudian ia langsung memandang seluruh tubuhnya dan bernapas lega ketika melihat pakaian yang ia pakai semalam masih melekat di tubuhnya. Alora mengerutkan dahinya sembari berusaha mengingat apa yang terjadi semalam. Namun tak juga berhasil, bagaimanapun semalam ia mabuk. Dan tentu saja dirinya akan malu jika mengingat semua hal yang dirinya lakukan semalam.

Alora menggelengkan kepalanya menyerah memaksa otaknya untuk mengingat. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandinya untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket dipenuhi kuman dan keringat.

Setelah selesai mandi, Alora melangkahkan kakinya menuju ruang makan karena perutnya merasa sangat lapar. Saat ia sedang berjalan menuruni tangga, tiba – tiba sekelebat memori muncul di otaknya.

Alora berjalan ke lantai bawah club dengan emosi yang menggebu – gebu. Sebelum menghampiri seseorang, ia merampas segelas alkohol yang sedang dibawa oleh seorang bartender dan langsung meneguknya hingga habis. Dan Alora pun segera berjalan menghampiri seseorang itu.

Brak!

Alora menggebrak sebuah meja yang membuat dua orang yang sedang berada di meja tersebut terkejut. Bahkan bukan hanya mereka, tetapi Alora membuat hampir semua orang menatap ke arahnya.

"Alora?" Ucap seorang laki – laki yang tengah terperangah melihat kehadiran alora. Apalagi keadaan Alora yang tampak menyeramkan. Mata merah, tatapan tajam,tangan yang mengepal,serta napasnya yang menggebu – gebu.

"Siapa dia, honey?" Tanya seorang wanita yang terlihatsedang bergelayut manja di lengan Harry.

"Harusnya aku yang bertanya! Siapa wanita ini!" Teriak Alora sembari menunjuk wanita itu tepat di depan wajahnya.

"Alora, ini tidak seperti yang kau lihat,dia-"

PRANG!

Belum sempat Harry melanjutkan kalimatnya, Alora membuat sekelilingnya terkejut dengan melemparkan beberapa gelas dan botol minuman ke lantai.

"YOU SON OF BITCH!" Tidak cukup sampai disitu, dengan sekuat tenaga Alora meninju wajah Harry hingga pria itu meringis kesakitan. Nicki yang melihatnya berusaha untuk menarik Alora agar gadis itu tidak semakin menjadi – jadi.

" Al, dengarkan dulu penjelasanku" Ucap Harry yang masihmeringis kesakitan dan terlihat bercak darah di sudut bibirnya.

" Aku tidak sudi mendengar sepatah kata pun dari mulutmu, bajingan!" teriak Alora yang sudah begitu histeris. Di sampingnya terlihat Nicki yang nampak kewalahan menahan Alora yang semakin menjadi – jadi.

"Kau!" Alora maju dan menunjuk wanita yang bersama Harry tepat di depan wajahnya sehingga membuat wanita itu merinding.

Alora menatap wanita itu dengan tatapan permusuhan. " Aku tidak akan marah kepadamu. Tapi kalau kita bertemu lagi di lain waktu, jangan harap aku akan melepaskanmu." Ucap Alora disertai senyum miringnya.

"Alora." Terdengar suara bariton yang memanggil namanya hingga membuat semua orang bungkam,termasuk dirinya.

Alora mengerjapkan matanya berkali – kali. Tiba – tiba saja ingatannya tentang kejadian semalam hilang begitu saja.

" Shit, kenapa ingatanku tentang semalam harus hilang, padahal aku penasaran siapa yang memanggilku saat itu. Rasanya aku mengenali suaranya." Gumam Alora sembari melanjutkan langkahnya menuju ruang makan.

SerendipityTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang