26. Hati Yang Sedingin Es

224 9 0
                                        

Untungnya belum hujan, Jiya dan Aldy sudah sampai di kafe

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Untungnya belum hujan, Jiya dan Aldy sudah sampai di kafe.

"Silahkan kak, mau pesan apa?" Tanya barista laki-laki itu pada Aldy dan Jiya.

"Gue yang itu aja, Dy." Jiya yang berdiri di kiri Aldy menunjukkan minuman yang ada didaftar menu di depannya.

"Oh yaudah, ini 2." Kata Aldy pada barista itu.

"Ok kak, totalnya 84.000," ujar barista itu yang sibuk dengan layar monitor pembayarannya.

Selagi Aldy membayar, Jiya melihat sekitar dan terpaku pada meja yang berada didekat jendela sana.

Sontak kaget. Melebarkan mata. Tak percaya. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali, lalu melihat ke arah sana lagi.

Ga salah, Jiya melihat Vira dan Abin di sana sedang tertawa bersama di satu meja.

Jiya menggoyangkan lengan kiri Aldy, "Dy, Dy, Dy. Liat, Dy. Vira, sama Abin di sana. Bener kan?" Tanyanya sambil menunjuk, masih tak percaya dengan penglihatannya.

"Apa, Ji?" Aldy menoleh ke Jiya lalu mengikuti arah yang ditunjuk Jiya.

Aldy juga ikut terkejut tak percaya. Melebarkan mata. "Gue juga liat Ji, coba samperin yok." Ajaknya.

Jiya menatap Aldy mengangguk.

Sambil menunggu pesanan, mereka menghampiri Vira dan Abin di pojok sana.

Brakk!!

"Keciduk kalian, ngapain ha?" Tanya Jiya penuh penasaran, menatap mereka bergantian.

"Setan!" Latah Vira, lalu ia segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena suaranya begitu besar.

Abin yang sedang minum pun tersedak lantas dikejutkan oleh kehadiran Jiya, lalu diakhiri dengan batuk.

Jiya langsung memangku silangkan tangannya di depan dada. Memicingkan matanya pada mereka berdua untuk segera menjawab pertanyaannya.

"Kok kalian bisa di sini bareng?" Tanya Aldy sambil menunjuk mereka berdua bergantian.

Abin berdeham, "Elah, trus kalian juga napa bisa bareng di sini coba?" Tanya balik Abin sambil meletakkan minumannya.

Vira menyingkirkan kedua tangannya pelan-pelan.

"Ya ngekafe lah iya berenang masa?" Sahut Vira, ia mengambil minumannya lalu meminumnya.

Sedingin Es (S1)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang