Gemericik.
Riak.
Petrichor.
Kata-kata yang identik disandangkan dengannya, selain kenangan.
Kehadirannya lebih sering membawa sendu, walau bagi orang-orang "oportunis" bisa dimanfaatkan sebagai sebuah alasan. Seperti saat ini, saat aku menerima sebuah pesan permintaan maaf untuk rencana yang gagal karena kehadirannya, meninggalkan aku yang hanya bisa meremas gaun manis yang sengaja kubeli jauh-jauh hari hanya untuk rencana malam ini.
Ingin marah, tapi perasaan terbiasa menghalanginya. Ini bukan yang pertama dan aku tahu ini juga tidak akan jadi yang terakhir. Namun, masih saja aku berharap sifat bisa berubah. Aku menghela napas, mencepol rambut asal, dan berbalik langkah menuju kamar.
"Loh, enggak jadi pergi?" tanya Mama saat aku melintas di depannya yang sedang menonton sinetron.
Aku mengedikkan bahu, sambil menatap langit-langit—walau sebenarnya yang kuisyaratkan adalah keadaan langit saat ini. Mama mengangguk mengerti. "Mau makan?"
Aku menjawab sambil lalu, "Enggak! Lagi diet." Alasan yang sangat asal, karena sampai lima menit yang lalu aku masih berencana untuk pergi makan malam di luar. Namun, siapa peduli? Aku memilih menenggalamkan diriku di pulau kapuk, diiringi rinai-rinai yang bergantian jatuh menyentuh atap kamar. Rinai-rinai yang membuatku harus puas dengan rencana tanpa realita.
—bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
UnKnown - DWC 2020
Diversos[COMPLETED]Sebuah ketidaktahuan tentang ketidakpastian. Participant of npc2301's DWC2020 Cover ciamik by @alizarinlake
