Hati Yang Kau Sakiti

225 22 2
                                        

Kumenangis, membayangkan betapa kejamnya dirimu atas diriku.
Kau duakan cinta ini.
Kau pergi bersamanya.

Sial! Kena pula saat menghidupkan tv, yang tertayangkan adalah sinetron adzab. Semakin sial karena lagi pengiring sinetron tersebut seakan mengejek kisah cintaku saat ini.

Aku tertawa kecil.
Kalau dipikir-pikir hidupku sudah cocok dijadikan sinetron. Mungkin judulnya, "Calon Suamiku Berselingkuh dengan Rekan Kerjaku Setelah Kuserahkan Jabatanku".

Sejujurnya, aku tidak mau mengungkit pengorbananku. Namun, terkadang rasanya sakit sangat menusuk. Aku tahu, aku pantas mendapatkan posisi itu. Hanya saja aku mengalah. Untuk mempertahankan hubungan kami, harus ada yang dikorbankan. Dia sempat mengusulkan untuknya mencari kesempatan berkarir di perusahaan lain, tetapi melihat kondisi sulitnya mencari posisi baru, aku memilih aku yang berkorban.

Pikirku saat itu adalah dia yang mulai membicarakan tentang pernikahan. Bahkan, dia sempat berbicara empat mata dengan Papa. Kalau pada akhirnya aku akan mengundurkan diri—karena, aku tahu dia lebih menyukai aku tidak bekerja kantoran—kenapa tidak dipercepat saja? Jadi, aku memutuskan mengundurkan diri dan mulai merintia bisnis baru. Dia? Dia otomatis mendapatkan jabatan itu. Koordinator bidang, posisi yang sebenarnya sudah sejak lama aku impikan.

Saat itu, aku tidak kecewa, karena ada mimpi lain yang siap aku bangun. Rumah tanggaku dengan Doni. Namun, kalau sudah begini jadinya, hanya ada aku yang jatuh tersungkur. Menyadari itu, genggamanku pada buket bunga yang sejam lalu diantarkan pun semakin mengerat.

"Mama bukan mau jerumusin kamu sama Doni, Ndin. Hanya saja semua bisa diperbincangkan baik-baik."

"Baik-baik gimana sih, Ma? Anak kita jelas-jelas hampir mati gara-gara laki-laki itu." Papa menjawab penuh amarah.

"Kalau berakhir seperti ini, cuma ada Andin yang tersiksa. Dia enggak akan pernah mendapatkan jawaban. Hidupnya ke depan enggak akan tenang. Dia enggak akan pernah bisa maju dengan bebas. Akan selalu ada perasaan menyalahkan diri sendiri dan penyesalan." Mama berargumen.

Dalam hati, aku menyetujui pembelaan Mama. Aku butuh pengakhiran, tapi bukan yang seperti ini. Hanya saja, melihat Doni pada waktu sekarang ini hanya membuat kejadian tempo hari itu kembali terulang.

Dia yang menggandeng wanita itu. Mereka begitu rapat dan lekat. Bahkan, Doni berbisik manja di telinga wanita jahanam itu. Uh, pardon my language.

"Sudah lah, Ma. Kalau pun, memang harus berbicara, Andin enggak sanggup untuk saat ini. Dia... terlalu kejam."

Lagi-lagi, lewat televisi suara Rossa menyuarakan isi hatiku.

Harus selalu kau tahu
Akulah hati yang telah kau sakiti.

—bersambung

UnKnown - DWC 2020Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang