بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Melupakan itu tak semudah yang dibayangkan. Melupakan bukan berarti menghapus, tapi melupakan adalah ikhlas. Ikhlas dengan kenyataan yang menitahkan untuk pergi.
~N a l u r i~
🌼🌼🌼
"Daaahh...." Salwa melambaikan tangannya saat Ariana memasuki taksi yang ia pesan lewat daring.
Mulanya Satya ingin mengantarkan dirinya, tapi ia tolak. Selain untuk tidak merepotkan Satya, katanya ia ada urusan lain. Satya awalnya memaksa, tapi sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik. Jadi ia membiarkan Ariana pulang sendiri.
Tin tin
Baru saja Ariana pulang, sekarang mobil pamannya itu sudah menangkring di teras. Satya merasa bersyukur, kalau Ariana pulang telat sedikit, mungkin dirinya sudah diinterogasi habis-habisan oleh pamannya itu.
"Habis ada tamu siapa?" Matanya menilisik ke arah meja yang penuh dengan makanan.
Satya menepuk dahinya pelan. Kenapa gak langsung di beresin sih tadi.
"Itu temen Salwa." Ah, kenapa harus ada dusta diantara mereka. Tapi tidak, Ariana juga teman Salwa, jadi Satya tak berdosa karena berbohong.
"Oh, cewek apa cowok?"
"Cewek." Untung saja Salwa sudah masuk kamar lebih dahulu, kalau tidak rusak semuanya. Beda cerita kalau Satya jujur.
Arga hanya manggut kemudian duduk di atas sofa mengusir penat.
"Satya masuk dulu ya om?" Kalimat itu diiyakan oleh Arga. Satya merasa selamat. Tak perlu terburu-buru untuk mengenalkan seseorang yang belum sepenuhnya dekat. Menyembunyikannya adalah jalan terbaik. Toh nanti kalau sudah jadian Satya pasti memberi tahu pamannya itu. Eh.
Baru saja ia merebahkan dirinya di atas ranjang, bahkan belum sampai hangatnya membekas sudah ada seseorang yang mengetuk pintu kamar Satya.
"Disuruh ke bawah sama tuan den." Satya hanya mengangguk malas. Padahal rencananya tadi ia akan bermain game online, rencananya pupus sudah.
Satya turun kemudian mencari sosok pamannya itu. Ia mencarinya kemana-mana dan akhirnya ia menemukan Agra sedang berdiri di halaman belakang menikmati pemandangan bunga matahari yang ditanamnya tadi.
Tanpa sengaja dari belakang Satya membuyarkan lamunan Arga, "ada apa om?"
Arga berbalik menampilkan matanya yang sedikit memerah. Seperti habis menangis. "Siapa yang tanam bunga di sini?"
"Kita." Satya maju mensejajarkan diri dengan Arga. Mengambil posisi senyaman mungkin untuk menghirup udara.
"Kita? Siapa aja?"
Lah bodoh banget sih lu Sat. Tadi udah lolos sekarang malah setor.
"Aku, Salwa sama temennya."
"Oh, ada tugas emang? Kok ada temennya juga ikutan."
"Iya, tata boga." Wait, apa hubungannya bunga matahari dengan tata boga? Kenapa alibinya terlalu absurd seperti ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Naluri
RomancePerubahan judul! Judul awal it's not wrong Ketika mimpi berubah menjadi kenyataan dengan skenario yang berbeda. Raga yang sama namun nama, sifat dan penampilan berbeda. Tapi apa rasa itu sama? Maksudnya getaran yang dirasakan Satya malam itu. *** G...
