Jogja Tanpanya

7 0 0
                                        

🎶Maukah lagi kau mengulang ragu dan sendu yang lama 🎶 -Tulus

***

Subuh yang dingin untuk hati yang sedikit kalut. Semalam, selepas Dayu mengiyakan keinginannya, Ara langsung mencari tiket penerbangan menuju Jogja. Dapat, jam 08.15. Itulah sebabnya Subuh-subuh sekali ia bangun, dan pagi-pagi sekali juga adiknya masuk kamar.

"Mbak?"

Ara hanya menoleh ketika Gani berjalan ke arahnya.

Dari tampilannya, Gani seperti hendak keluar berolahraga.
"Mbak mau kemana?" Tanya Gani heran. Barangkali karena melihat backpack yang cukup mengembang di atas kasur.

"Mau keluar kota, ada kerjaan."

"Weekend?"

"Hari Senin. Tapi berangkatnya sekarang."

"Kota mana?"

"Malang."

Ada jeda. Ara tahu Gani menatapnya dengan tidak percaya. Lalu gadis itu segera duduk di tepi ranjang, samping Ara. "Malang atau Jogja?" Kakaknya itu tidak segera menjawab, "Tapi sebenarnya, kalau Mbak tiba-tiba di Jogja juga aku nggak heran. Sumpah."

"Ke Malang, tapi sekalian mampir dulu ke Jogja," ucapnya parau dan berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa dirinya bukan berniat kabur–lagi.

"Lama nggak?"

"Hari Senin pulang."

Dan terdengar suara rengekan kemudian. "Mau ikut, tapi Senin ada simulasi ujian."

"Nggak apa-apa, lain kali aja. Nanti, Mbak berangkat ke bandara sendiri aja. Kamu masih banyak nggak benarnya kalau bawa mobil."

"Aku mau keluar juga, mungkin sampai siang."

"Sendiri?"

"Ya, Mbak Ara kan mau pergi."

Ara melirik adiknya. "Panggil Nala aja."

"Nala sama keluarganya nggak ada dari semalam."

"Di Kelapa Gading?"

"Nggak tahu, dari kemarin sepi rumahnya." Gani bangkit lalu menoleh kembali ke kakaknya. "Nggak kasih tahu Mbok? Siapa tahu ada mau dikirim ke Lingga."

"Udah semalam."

"Nitip salam ke orang-orang panti ya, Mbak."

"Iya."

***

Ara dari lama selalu punya cita-cita, bahwa ia pasti akan selalu kembali ke Jogja. Entah menghabiskan masa tua di sana atau hanya sebagai pengunjung di penghujung tahun.

Di kota ini, semuanya berjalan terasa begitu lambat. Tidak tergesa-gesa. Di lain sisi Jogja menyimpan banyak kenangan. Ara, Gani lahir dan tumbuh di sini. Ayah, ibu, keluarganya identik dengan kota ini.

Dan setiap kali menginjakkan kembali ke kota ini, wajah mereka selalu membayangi. Wajah ceria, seolah perpisahan tidak mungkin akan terjadi.

"Mbak Ara?"

Suara Lingga memecah lamunannya. Ara menoleh. Kunci rumahnya sudah di tangan dan remaja laki-laki itu menatap bingung. "Kenapa melamun?"

"Oh, nggak," Ara menggeleng lalu tersenyum haru. Senang sekali rasanya melihat rumahnya di sini dijaga baik oleh keluarga Mbok Suti. Ia menghela napas beberapa saat sebelum mengedarkan pandangan. Sejak menginjakkan kaki beberapa menit lalu, ia tidak menemukan kakak perempuan laki-laki itu. "Hanum mana?"

"Hanum baru juga Mbak kasih tau mau ke Jogja udah sibuk, pusing mau masak apa. Ke pasar, Mbak," ujar Lingga dengan kekehan.

"Sendiri?"

PulangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang