Perempat Jalan dan Kenangannya

7 0 0
                                        

🎶 Seperti sejak pertama jumpa dirimu di kala senja duduk berdua tanpa suara 🎶 -Pamungkas

***

"Ia ketemu di sana aja. Keretanya jam 2 siang," kata Ara menjawab telepon dari teman kerjanya. Ia sekarang sedang duduk santai di teras rumahnya setelah puas melihat-lihat. Baru jam 7 lewat dan ia masih punya banyak waktu sebelum jam 2 siang. "Nggak. Nggak terlalu jauh kok." Temannya itu merengek karena harus berangkat berdua bersama Pak Kala yang katanya sangat kaku itu. "Ya nggak apa-apa dong. Pak Kala baik tau." Iya. Setahunya begitu. Tapi kalau menurut legal assistant-nya sendiri yang kebanyakan waktu dihabiskan bersama dalam setiap kasus, maka Pak Kala baik-itu sendiri perlu dipertanyakan. Toh selama ini, ia cuma sekali dua kali terlibat langsung dengan laki-laki itu.

Suara Putri di seberang hendak menyela ketika Ara tiba-tiba bangkit. "Eh, Put. Udah dulu ya aku ada urusan sebentar." Ara segera bangkit. Ada yang lebih mencuri perhatiannya. Sebuah mobil berhenti tepat di depan pagar rumahnya, seseorang dengan kaos abu-abu dan celana kain berwarna hitam turun dari sana dan membuat Ara cukup terperangah.

"Kirain aku lambat," ujar laki-laki itu mendekat.

"Bukannya kamu di Bandung?" tanya Ara bingung. Rambut laki-laki terlihat masih basah. Sangat segar dibandingkan dengan Ara yang bahkan belum mencuci muka.

"Iya tadi malam," jawab Rayi santai, sesantai ketika mengambil posisi duduk di teras.

"Kok tiba-tiba di sini?" Ara masih berdiri mengintrogasi.

"Dari Bandung langsung terbang ke sini. Ibu nelpon mau ketemu, kangen katanya."

Ia sebenarnya belum cukup puas, "Oh, udah ketemu ibu?"

"Sudah tadi subuh-subuh."

"Ya terus kenapa ke sini?"

"Ya mumpung kamu di sini."

Ara mendesah lalu ikut duduk di samping Rayi. "Keretaku nanti jam 2."

"Ya makanya."

Ara hanya menatap Rayi diam beberapa saat.

Lalu laki-laki itu membalas tatapannya. "Sudah sarapan? Mau ke Lantana nggak?" Melihat Ara menggeleng.

Ara masih menggeleng. Jarak dari sini ke Lantana yang dimaksud Rayi cukup jauh. "Lantanamu jauh. Cari yang dekat dan yang buka aja."

Laki-laki itu diam beberapa saat. "Mau ke perempatan di ujung?"

"Makan apa?" Ara bingung, setahunya di sana sudah steril dari gerobak-gerobak jualan.

"Seperti biasa."

"Aku liat kayanya udah nggak ada."

"Masih ada lah."

Ara tampak berpikir, ia hendak berlari ke rumah Hanum untuk bertanya. "Tunggu, aku tanya Hanum dulu, dia masih suka ketoprak nggak."

"Hanum?" Rayi mencegat Ara lalu menambahkan. "Kayaknya masih suka."

Laki-laki itu juga langsung menunjuk mobil dan Ara segera menggeleng. Perempatan di ujung sana cukup dekat, mereka hanya perlu jalan kaki beberapa menit.

Mereka sampai dan angkringan yang dulu sering ia singgahi bersama Rayi berubah menjadi rumah makan yang penuh pelanggan dengan area parkiran yang lumayan luas. "Yi, ini beneran?" Tanya Ara masih berusaha mengenali sekelilingnya. Ia berbalik dan menemukan Rayi tertinggal tak jauh. Ara terus berjalan mundur seraya melanjutkan, "Berkembang banget, ya."

"Orang-orang pada jago banget bisnisnya, ya." Alis Ara naik turun merayu Rayi.

Rayi hanya tertawa kecil menimpali. "Hati-hati jalannya."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 20 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

PulangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang