Chapter 26🌸

913 99 106
                                        

Air mata Lo itu sama berharganya kaya mutiara, jadi jangan nangis lagi ok? -Rizky Afandi Putra
.
.
.
.

Alya bersama tim padusnya baru saja turun dari panggung. Lega rasanya sudah melewati rasa gugup saat tampil tadi.

Tapi sangat disayangkan, Alya tidak melihat sosok Rizky di depan panggungnya. Bahkan pacarnya sendiri tidak ikut melihatnya perform. Mungkin Devan sibuk di Stan kelasnya. Oh iya Devan kelas IPA 8, jadi cukup jauh dari kelas Alya. Stan nya pun berjauhan.

Setelah berfoto bersama, Alya kembali ke stan kelasnya. Ia melihat Rizky yang sedang menuntun Diva menuju UKS.

"Diva sakit katanya" ucap Rani tiba-tiba yang seolah bisa membaca pikiran Alya. Sedangkan Alya hanya ber-oh ria sambil menganggukan kepalanya.

"Gue ke stan Devan dulu ya Ran" ujar Alya sambil menepuk bahu Rani. Dan Rani membalasnya dengan acungan jempol.

Dari kejauhan, tawa Devan sudah terdengar nyaring ditelinga Alya. Membuatnya tersenyum geli karena suaranya yang lucu. Entah sejak kapan ia sudah mulai menyukai Devan. Tapi setelah itu senyum Alya perlahan memudar ketika samar-samar dia mendengar.

"Setau gue dulu dia Deket sama si Rizky temen sekelasnya"

"Lo tau dulu pas foto Alya sama Rizky ke sebar di Mading?"

Semakin Alya berjalan mendekat, suara itu semakin terdengar dengan jelas dan menusuk ke dalam hatinya.

"Itu gue yang nyebarin"

"Jadi gini, gue tau waktu itu Alya sama Rizky Deket. Nah gue juga tau Rizky itu udah punya pacar. Waktu itu kebetulan gue ga sengaja liat mereka pelukan. Terus gue foto, besoknya gue sebarin"

"Dengan cara itu, Pacarnya Rizky pasti bakal marah. Jadi nanti hubungan Rizky sama Alya bakalan renggang meskipun itu cuma sahabatan doang. Dan disitu peluang gue dapetin Alya juga gede kan"

"Gilaa!! Hebat banget broo"

"Yoii"

Ada yang menjalar dari ujung kaki sampai ke puncak kepalanya, lalu berakhir pada matanya yang mulai memanas. Kemudian bulir bening itu menumpuk dipelupuk matanya, membuat penglihatannya buram. Ia tidak menyangka, ternyata Devan yang sudah ia percayai ternyata selicik ini. Itu membuat hatinya sakit sekaligus tak percaya.

"ALYAAAAA?!?!?"

karna merasa Devan mengetahui keberadaannya, Alya langsung berbalik badan berusaha meninggalkan tempat itu. Tapi dengan cepat Devan berlari mengejarnya lalu mencekal tangan Alya.

"Please kamu udah salah paham, dengerin penjelasan aku dulu ya?" Ucap Devan dengan nada yang lembut seperti memohon.

Alya menepis cekalan Devan, bersamaan dengan jatuhnya air mata yang sudah tidak bisa ia bendung. Sesak rasanya melihat wajah yang selama ini selalu mendukungnya, bersikap baik padanya namun dibalik itu ada sosok iblis yang tidak Alya ketahui.

"Please Al, aku ngelakuin itu karna aku cinta sama kamu. Aku sayang sama kamu" ucap Devan meyakinkan Alya, seraya menggenggam tangannya dengan menatap lekat manik coklat yang sudah dibanjiri airmata itu.

Alya semakin menggigit bibir bawahnya menahan agar tidak terisak.

"Le..pa..sin" ucap Alya disela-sela tangisnya. Tapi Devan terus menggenggam tangan Alya sambil menggelengkan kepalanya.

Sampai akhirnya Devan membawa Alya ke dekapannya. Meskipun Alya berulang kali berontak sambil memukul dada bidangnya. Devan tak menggubrisnya.

Alya terus terisak, hatinya tak mampu menerima kenyataan yang pahit ini. sangat sesak sampai ia sulit untuk menghirup oksigen. Ia benci pria yang ada dihadapannya saat ini. Dan dengan sekuat tenaga Alya melepaskan pelukan Devan.

"KK....KITA PUTUS!" Ucap Alya dengan suara yang bergetar karena air matanya tidak dapat berhenti.

"Jangan pernah muncul didepan gue lagi!" Lanjut Alya sambil menyeka air matanya. setelah itu berlari meninggalkan Devan dengan perasaan yang masih terasa sesak.

Sedangkan Devan mengacak-acak rambutnya frustasi. Lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
"ARRGHHH!!!"

🌸🌼🌸🌼🌸

Disinilah sekarang Alya berada, ditaman sekolah sedang duduk dikursi sendiri, ditemani sepi, dengan pikiran yang terus berkecamuk. Sesekali ia mengingat moment manis bersama kekasihnya itu. Ralat, lebih tepatnya mantan! Hhh sekarang ia hanya tersenyum miris.

Selama ini Alya sangat percaya pada sosok pria tampan, lembut yang selalu perhatian padanya. Tapi ternyata Devan tidak sebaik apa yang ia pikirkan. Dan itu kembali membuat Alya merasa orang terbodoh, karna telah menerima orang seperti Devan.

Alya juga kembali mengingat hoodie abu-abu yang ada dimobil Devan waktu itu, ternyata itu adalah Hoodie yang sama dipakai oleh orang yang menempelkan fotonya dimading dan kelasnya. Sekarang Alya tau kenapa dia pada saat itu merasa Familiar dengan Hoodie itu.

"Bodoh!"batinnya.

Ah semakin dipikirkan, semakin membuatnya sakit hati dan tidak terasa bulir bening itu kembali mengalir dari sudut matanya.

"Dasar cengeng" gumam Alya sambil mengusap pipinya dengan kasar.

Sampai akhirnya, Alya merasakan ada sosok orang yang ikut duduk disampingnya. Merasa diperhatikan, Alya memalingkan wajahnya ke arah lain.

"Kenapa?" Ucap laki-laki itu lembut dengan nada khawatir.

Alya yang mendengarnya semakin terisak. Ah saat seperti ini, kenapa harus ada orang yang menanyakan keadaannya? Itu semakin membuat air matanya tidak dapat berhenti mengalir. Dan gadis itu hanya menunduk, menyembunyikan wajahnya agar tidak terlihat menangis.

Karna tidak ada jawaban, pria itu beranjak dari duduknya lalu berjongkok dihadapan Alya. Sambil memiringkan kepalanya berusaha melihat wajah gadis yang tertutup rambut panjang itu.

"Nangisnya puasin aja, mumpung gue bawa sapu tangan" ucapnya seraya menyodorkan sapu tangan berwarna biru sambil tersenyum tulus.

Alya mengambil sapu tangan itu lalu menyeka air matanya. Kemudian ia mengangkat wajahnya yang ia yakin sudah kacau.

"Gue boleh meluk Lo?" Tanya Alya yang dijawab dengan gelengan oleh pria berjaket jeans itu. Melihat respon laki-laki itu, Alya mengerucutkan bibirnya dan kembali menunduk.

Tapi setelah itu ia terpatung ketika pria berambut ikal itu menariknya ke dalam pelukannya. Dan seketika itu Alya merasakan hangat pada tubuhnya bersamaan dengan matanya yang kembali memanas. "Kenapa harus nanya?" Ucapnya sambil mengusap lembut kepala Alya.

"Lo tau, putri duyung kalo nangis airmatanya jadi mutiara?" Tanya Rizky. Alya menggelengkan kepalanya dan masih diposisi yang sama yaitu dalam pelukan Rizky.

"Sebenernya itu cuma ungkapan, kalo airmatanya terlalu berharga layaknya mutiara" ucap Rizky sambil melepaskan pelukannya. Lalu menatap Alya lekat.

"Jadi abis ini, gue minta Lo berhenti buat buang mutiara Lo yang berharga itu ok? karna itu sia-sia" Lanjutnya seraya mengusap sisa air mata Alya yang ada dipipinya.

Alya tersenyum lalu mengangguk kecil. "Makasi ky"

.
.
.
.

Untuk part ini
Ada pesan untuk Devan?
Atau pesan untuk Rizky?
Atau untuk author? AHAHHAA

17 Juli 2020

SOULMATE [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang