Chapter 8🌸

913 172 85
                                        

Tersenyum memiliki dua fungsi, yang pertama untuk menunjukkan kebahagian dan yang kedua untuk menyembunyikan kesedihan.
.
.
.
.

Author POV

"Jadi Lo milih ekskul apa Al?" Tanya Rani,

Saat ini Alya, Rani, Fira dan Diva sedang duduk di kursi kantin, dengan masing-masing membawa kertas yang berisikan formulir untuk mengikuti salah-satu ekskul yang ada di sekolah Angkasa.

"Ran, sekali lagi nanya palalo copot y" Alya kesal, pasalnya Rani sudah menanyakan hal itu lebih dari tiga kali.

"Boleh gw copot duluan palalu kalo sekali lagi Lo nulis terus hapus lagi tu kertas?" Rani tak kalah kesal melihat Alya yang terus-terusan menulis ekskul dan menghapusnya lagi sambil bilang "gajadi ah kayanya gw gacocok kalo ikut ekskul ini".

Fira dan Diva hanya tertawa melihat kedua sahabatnya bertengkar seperti anak kecil.

"Udah ah jangan berantem gitu" ucap Diva berusaha melerai disela-sela kekehannya.

"Tulis aja yang sesuai bakat Lo Al" Fira bersuara.

Alya mengacak-acak rambutnya frustasi. Tapi tiba-tiba tangan kekar melingkar dilehernya dari belakang.
Sontak Alya mendongakkan kepalanya terlihat wajah tampan dengan rambut ikal menampilkan senyum lebarnya.

Demi Patrick yang berubah bentuk jadi kotak, itu senyum yang menyebalkan!

"RIZKYYYYY NGAPAIN SII" iya itu Rizky. Siapa lagi yang berani mengganggu Alya seperti itu.

"Gangguin lo" jawabnya cengengesan.

"Lepas ga tangannya, gw gigit ni"

"Gamau!"

Tanpa aba-aba Alya menggigit lengan Rizky yang melingkar di lehernya, membuat si mpu meringis dan refleks melepaskan lengannya dari leher Alya.

"Dasar drakula" Rizky akhirnya duduk disebelah alya, yang tidak ditanggapi Alya.

"Lo gada kapok-kapoknya ya ganggu si Alya" fira mengatakannya dengan kekehan.

"Nih ya selagi si Rizky sekelas sama Alya ya dia gabakalan berenti gangguin" tambah Rani sambil meminum es teh manisnya.

Diva yang melihat interaksi kedua manusia itu, hanya menanggapinya dengan senyuman tipis.

"Nih denger y, kalaupun gw ga sekelas sama Alya gw abkal tetep gangguin" ucap Rizky dengan kekehan.

"Belum ngisi ekskul Al?" tanya Rizky yang hanya dibalas anggukan lesu oleh Alya.

"Masuk band ajaa bareng gw, Lo kan jago gitar terus suara Lo juga bagus"ucap Rizky.

"Bentar-bentar" Alya mengernyitkan alis, tangannya ia tempelkan pada dahi Rizky, lalu beranjak dari duduknya untuk melihat langit.

"Lo lagi ngapain? Aneh banget" ucap Diva heran.

"Kagaa, aneh aja gada angin, gada hujan, badan juga gapanas bisa-bisanya tu bocah muji gw" jawab Alya yang kembali duduk dan memakan batagornya.

"Yeuu dasar" Rizky mencubit pipi Alya kemudian mengusapnya lembut setelah mendapat tatapan tajam Dari Alya. "Haha sakit ya? Ucupcupcup"

"Aduh aduh disini banyak nyamuk yaa" ucap Rani.

"Kenapa si kalian ga jadian aja cocok tau" ucap fira yang tiba-tiba membuat diva tersedak.

Uhuuk uhuuk.

"So--sorry" ucap Diva sambil tertawa, yang berujung mendapat ceramah dari Rani karna tidak hati-hati.

Sedangkan Rizky yang mendengar pertanyaan itu, langsung tertawa geli.

"Gila ya Lo! Gw ini sahabatan sama Alya, best friend forever assik.. iya kan Al?" Rizky mengatakannya dengan merangkul pundak Alya.

Alya hanya diam melihat kearah Rizky sambil tersenyum.

Senyum yang didalamnya penuh dengan rasa sesak.

"Sejak kapan gw jadi sahabat Lo? Geer banget." Ucap Alya sambil menaikkan alisnya.

"Jadi selama ini kita bukan temen?" Rizky cemberut membuat Alya gemas sekaligus kesal. "Emang Gapeka banget ni cowok" batinnya.

"Udah-udah diem, gue pusing!!" Alya menutup kedua telinganya dengan telapak tangan.

"Al, keknya Lo cocok deh ikut ekskul Qosidah" celetuk Rani yang membuat satu meja tertawa. Apalagi Rizky sampai hampir terjungkal karna tertawa.

"Sini-sini gue yang tulis" ucap Rizky merebut kertas Alya. Dan keributan kembali terjadi.

"RIZKYY!! IH"

"Dahlah gue masuk ekskul padus" lanjut Alya masih dengan wajah kesal.

.
.
.

To be continue


19 Mei 2020

SOULMATE [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang