Halo halo halo everybody, kabar gimana?
Selamat membaca, votenya jangan lupa
***
Amira berjalan masuk kedalam ruangan yang tidak seharusnya dia masuki. Ruangan itu masih bersih dan rapi seperti saat sang pemilik menggunakannya
Terdapat sebuah meja kerja dengan ukuran lumayan besar, lengkap dengan laptop dengan merk terkenal diatasnya
Tidak hanya ada laptop, di atas meja itu juga ada perlengkapan tulis, beberapa map yang entah apa isinya
Dan ada dua bingkai foto disana
Foto laki-laki yang adalah si pemilik ruangan sedang memeluk seorang wanita yang tengah hamil, foto tersebut berlatar di padang rumput yang luas dan cantik. Foto yang dapat menunjukan dengan jelas bahwa mereka yang ada dalam foto tersebut tengah bahagia. Membuat Amira merasakan kembali sesak di dadanya
Tidak ingin merasakan sesak lebih lama, Amira beralih pada foto lainnya
Foto buah hati dari pasangan tersebut, wajahnya sangat mirip dengan sang ibu.
Amira bersyukur karna wajah yang sangat mirip itu, kadang bisa menjadi menyembuh rindunya pada sang kakak. Tapi disaat yang sama pula mengingatkan kekalahannya untuk mendapatkan cinta yang dia inginkan
Harusnya wajah anak itu mirip dengannya, harusnya cinta itu menjadi miliknya
***
Di tempat lain, Rara baru akan melenggang memasuki gedung fakultasnya. Hari ini dia menggunakan atasan berwarna kuning dengan tali di bagian perutnya, membiarkan rambut panjangnya tergerai indah, itung-itung sekalian pamer habis selesai dari salon
"Akhirnya yang ditunggu dateng juga" Rara menoleh karena dengan tiba-tiba bahunya dirangkul dari samping
Melihat siapa yang merangkul membuat wajah Rara merengut "Bosen punya tangan dua ya? Yang lagi nangkring dipundak gw boleh dibuntungin?"
"Gini nih resiko naksir sama psikopat, untung cakep" kata Dikta menanggapi. Ya dia yang merangkul Rara.
"Jelas" Kata Rara sambil mengibaskan sedikit rambutnya "Buta mata lu kalau bilang gw jelek"
Haduh kuatkan hati Dikta Ya Tuhan, cewek disampingnya ini bisa membuatnya mati cepat. Sikap Rara yang ajaib dan wajahnya yang cantik adalah kombinasi mematikan untuknya
"Bebeb Rara sini, ngga usah deket-deket sama kutu loncat" sekarang tangannya ditarik oleh Arya yang tidak tau muncul dari mana
Tidak hanya menariknya menjauh dari Dikta, Arya juga menepuk-nepuk bahu Rara yang tadi dirangkul oleh Dikta. Tidak hanya itu sekarang bahunya malah disemprot oleh cairan bening berbau antiseptic
"GILAA! Baju baru gw Arya" Baju ini sudah lama diincarnya dan baru kemarin akhirnya bisa dia dapatkan.
Sekarang? Malah sudah dapat perlakuan tidak baik dari kakak tingkatnya ini.
YOU ARE READING
Beautiful Pain
Teen Fiction"Ikut gw Jan. Lo ngga percaya kalau gw bisa jaga lo hah?!" Amarah cowok yang terkenal usil dan banyak tertawa itu akhirnya pecah. Wanita didepannya benar-benar keras kepala. "Lo cuma orang luar. Gimana bisa gw percaya sama lo saat orang yang gw angg...