Bagian 2

27 3 0
                                        

Sepulang sekolah, setelah makan siang bersama ayah dan bunda, aku bermain keluar. Tak lupa juga pamit dengan bunda. Aku bersama Raka dan teman-temanku yang lainnya sedang bosan untuk bermain. Jadi, kami bercerita-cerita saja di bawah pendopo.

"Aku ingin jadi pelaut!" Seru Raka dengan suara lantang.

"Kenapa kamu mau jadi pelaut? Kamu gak takut ombak?" Tanya Ara, turut bergabung mendengarkan cerita-cerita kami.

"Kenapa harus takut? Kalau jadi pelaut handal mah, cuma takut gak ketemu jalan pulang hehehe" Benar juga sih, apa kata Raka.
"Kalau kamu mau jadi apa Ning?" Sambung Raka.

"Apa ya? Bening belum kepikiran apa-apa nih. Bening pengen kayak Bu Salma aja deh, punya banyak uang. Tinggal bikin nasi kuning aja, deh. Bening pasti jadi kaya," Perkataanku di sambut dengan tertawaan mereka.

Tiba-tiba, Pak Dede duduk menghampiri kami. Pak Dede merupakan petani garam di desa ini. Anaknya sedang kuliah di luar negeri. Aku sangat mengagumi Pak Dede. Karena kata ayah, anak yang sukses pasti tak luput dari cara mendidik orangtua nya sendiri. Pak Dede pasti pribadi yang hebat.

"Wah, lagi bicara cita-cita, ya?"

"Iya nih, Pak. Kata Raka dia mau jadi pelaut"

"Bagus tuh Raka. Punya impian di tata sejak dini. Lakukan apa yang kamu cintai, nak. Gak ada pekerjaan yang bisa di anggap rendah, selama di dalamnya terdapat banyak manfaat bagi banyak orang. Termasuk petani garam seperti saya," Pak Dede berbicara dengan lancarnya

"Bahkan pelaut sekalipun. Kalian tahu tidak, pelaut yang hebat datang dari ombak yang dahsyat" Wah, sepertinya kata-kata Pak Dede harus aku catat baik-baik di otakku.

"Jadi kita semua harus jadi pelaut, Pak?" Dengan polosnya Ara bertanya.

Pak Dede terkekeh, memperlihatkan sederet gigi putihnya, "Bukan begitu maksudnya nak, maksud bapak, seseorang yang hebat pasti terlahir dari ujian yang hebat pula. Dia pasti telah melewati lika-liku yang tak mungkin semua orang bisa lulus melewatinya," Terang Pak Dede.

"Hehe, Ara gak paham, Pak,"

"Gak papa, nak. Suatu hari nanti juga kamu akan paham" Ujar Pak Dede sembari mengelus surai hitam pekat Ara. Aku mengangguk-angguk dalam hati. Sungguh luar biasa Pak Dede, ternyata ayah tidak salah bercerita.

Matahari sepertinya sedang melayang di atas kepalaku. Hembusan hawa panas dari laut semakin memperpanas suasana. Kami semua memutuskan untuk kembali ke rumah, dan tidur siang. Kalau tidak, pasti teriakan dari rumah kami akan terdengar satu kampung hanya untuk menyuruh tidur siang.

Aku mencuci tangan dan kakiku, lalu beranjak menuju kasur Hello Kitty ku.
Aku terlentang menatap lurus plafon rumahku. Bayang-bayang percakapan kami bersama Pak Dede tadi masih menghantui pikiranku. Segera aku membaca doa sebelum tidur, lalu tanpa sadar mata ku mulai terpejam mengikuti anak mimpi yang sejak tadi memanggil-manggilku.

                             • • • • • • • •

Indah.

Kata itu yang selalu terpatri di benakku ketika melihat laut di malam hari. Aku, ayah, dan bunda sedang makan malam di salah satu rumah makan terkenal di desa ini. Hidangan yang tersaji di hadapan kami adalah berbagai makanan seafood. Ikan bakar, cumi goreng tepung, udang asam manis, di tambah lagi es teh, minuman favorite kita bertiga.

Angin laut di malam hari sangat kencang. Bahkan suara daun-daun kelapa yang melambai seperti suara hujan, saking kuatnya angin yang menerpa. Malam ini bulan purnama. Dan aku tahu, air pasti sedang pasang. Kulihat pantulan cahaya bulan terpampang nyata di permukaan laut.
Kalau ada turis yang datang, pasti mereka sudah sibuk berpose dengan ponsel mereka, atau membuat status dengan latar pemandangan laut.
Aku tak punya itu semua. Aku bersyukur bisa tinggal di kampung ini. Dan pemandangan semua ini gratis kudapatkan tanpa harus mengeluarkan biaya, ataupun menempuh perjalanan yang lama.

Aku mencintai desa ini. Dan semua hal yang ada di dalamnya. Laut, bulan, senja, angin, kelapa, semua!
Lisanku sungguh terbatas untuk menyebutkan semua anugerah yang kucintai di tempat ini. Terlalu banyak, dan semua ini lebih dari cukup untukku.

"Innalillahi" Perkataan ayah sungguh mengejutkan lamunanku.

"Kenapa, yah?" Ayah mengarahkan pandangannya menuju televisi yang berada di depan kami. Rumah makan ini menyediakan televisi. Tak jarang, aku, Raka dan teman-teman menumpang menonton disini. Pemilik rumah makan ini sangat baik, dan terbuka dengan siapa saja yang datang.

Banjir melanda Kota Gemanuanta. Ketinggian air mencapai 5 meter. Warga di evakuasi ke tempat yang telah di sediakan pemerintah. Tim SAR sedang dalam proses pencarian korban.

Aku mendengarkan reporter itu berbicara. Dan membaca judul yang terpampang tanpa harus mengeja terlebih dahulu. Karena sejak TK, aku sudah diajarkan bunda membaca. Dan saat kelas 1 SD, aku benar-benar bisa membaca tanpa harus mengejanya terlebih dahulu.

"Kasihan ya, yah. Arum dan Siti bagaimana keadaannya ya?" Timpal bundaku.

Oh iya, aku lupa! Arum dan ibunya kan tinggal di kota. Ya Tuhan, bagaimana nasib mereka sekarang?
Aku melihat di berita semua benar-benar terendam. Atap-atap rumah bahkan hanya tinggal menampakkan permukaan warnanya. Orang-orang berperahu karet dan berpelampung orange terlihat sekuat tenaga mendayung sampannya. Benar-benar sudah seperti sungai. Sampah-sampah tersangkut dimana mana. Ada pampers, minuman kaleng, plastik plastik snack, kulkas, mobil, semua hanyut begitu saja. Bahkan barang barang mewah pun seolah sudah tak ada nilainya.

Mungkin beginilah kuasa Tuhan. Yang menggerakkan alam untuk memberi peringatan kepada manusia. Bagus bagus sudah alam memberi manfaat kepada manusia, tapi balasan yang diterima tidak setimpal. Manusia memang serakah. Dan bahkan memang kodratnya tercipta dengan rasa tak puas terus menerus. Ayah pernah bilang, seperti apa perlakuan kita terhadap sesuatu atau seseorang, pasti kita akan mendapatkan balasan yang sama pula. Apakah yang dilakukan penduduk kota sehingga banjir melanda begitu hebat? Sudahlah, aku tak ingin mencari tahu kesalahan orang. Yang terpenting adalah kita dapat mengambil makna dari semua ini, dan membantu mereka dengan segala yang kita punya.

Kami kembali ke rumah. Aku segera memasukkan buku-buku pelajaran untuk esok hari. Lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Eits, bukan mandi ya. Ayah melarangku mandi di malam hari. Karena bisa menyebabkan rematik, dan saat malam hari jantung kita sedang dalam keadaan lemah. Aku hanya sekedar berwudhu, dan menggosok gigi.

Berita yang kutonton di rumah makan tadi cukup terngiang-ngiang di kepalaku. Bagaimana kalau aku yang di posisi mereka? Membayangkan saja aku tak kuat, dan lebih memilih tidur untuk bangun pagi esok hari.

Tadaaaa aku up lagi! Walaupun yang baca masih sedikit, gak papa, aku senang banget! Bahkan pembaca yang bertambah satu aja udah bikin aku semangat nulis lagi, hehe sesederhana itu.

Kalau kamu suka sama cerita ini, please share ke teman teman kamu, dan vote ya😊

Aku bakal banyak suguhin pesan pesan tersembunyi yang aku balut dengan cerita. Tenang kok! Yang uwu uwu bakal tetap ada hehe, masih intro guys.

Terima kasih sudah membaca! Semoga siapapun yang sudah sudi menyempatkan waktunya membaca sampai bab ini hingga ending, semoga Tuhan kabulkan semua hajat hajat kamu, dan bahagia selalu yaa😚

StuckTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang