13. Menghentikan Waktu

774 129 14
                                    

"Jika aku bisa menghentikan waktu, maka aku tidak akan pernah melepaskan genggaman tanganmu."

***

"Ayo, Bunda!"

Biru kembali merengek untuk kesekian kalinya, Rana yang baru saja selesai mencuci piring-piring kotor hanya menghela napas berat. Anak laki-lakinya itu sedari tadi terus merengek karena ingin bermain dengan Bara, padahal hari ini Rana sedang libur dan bisa bermain dengan Biru. Namun anak laki-lakinya itu sedang tidak ingin bermain dengannya dan malah ingin bermain dengan Bara karena menurut Biru bermain dengan Rana tidak semenyenangkan seperti saat ia bermain dengan Bara.

"Bunda..."

Rana kembali menghela napas pelan. "Bunda cuma antar Biru ke rumah Om Bara, ya. Kalau Om Bara enggak ada di rumah, Biru enggak boleh marah loh."

Biru mengangguk dengan antusias, Rana terpaksa mengikuti kemauan Biru. Lagipula belum tentu Bara ada di rumah, bukankah dia seorang dokter? Sepertinya dokter cukup sibuk dengan pekerjaannya dan tidak memiliki banyak waktu untuk beristirahat.

Kini Rana akhirnya mengantar Biru ke apartemen Bara yang berbeda gedung dengan apartemen mereka, dan tentu saja Rana hanya mengikuti arahan Biru yang pernah datang ke apartemen Bara. Rana melihat anaknya yang sekarang terlihat begitu antusias, mungkin karena Rangga dan Ragil akhir-akhir ini sibuk hingga membuat mereka jarang bermain dengan Biru.

"Biru yakin ini tempatnya?" tanya Rana memastikan.

Biru mengangguk. "Bener kok, Bunda," jawab Biru. "Nomor lima ratus lima!"

Rana mengangguk kemudian menekan bel di pintu apartemen itu, tetapi seperti tidak ada respon. "Kayaknya Om Bara enggak di rumah deh, Bi." ujar Rana yang membuat Biru nampak kecewa.

"Coba sekali lagi, Bun." Biru masih tidak mau menyerah, membuat Rana mau tidak mau menekan bel apartemen Bara sekali lagi, tetapi lagi-lagi tidak ada hasil.

Rana menatap Biru yang nampak semakin kecewa. "Biru main sama Om Baranya besok-besok lagi, ya. Kan Biru masih agak lama di sininya," Biru mengangguk pelan. "Kita pulang yuk, hari ini Biru main sama bunda dulu."

Rana segera kembali menggandeng tangan Biru, namun ketika mereka hendak beranjak, pintu apartemen Bara terbuka. "Om Bara!" pekik Biru antusias, tetapi raut wajah Biru berubah ketika melihat Bara yang nampak pucat. "Om Bara kenapa?"

"Oh, Biru.." suara Bara terdengar begitu parau, Rana juga cukup terkejut dengan kondisi Bara. Namun belum sempat Rana bertanya, tubuh Bara sudah limbung terlebih dahulu, membuat Biru memekik karena terkejut.

"Biru, kita bantu Om Bara masuk dulu, ya," ujar Rana sambil menahan tubuh Bara yang kini terasa sangat panas di kulit tangan Rana. "Ayo, Biru, kamu masuk dulu."

Biru pun mengikuti titah ibunya, sementara Rana dengan susah payah membawa masuk Bara yang tidak sadarkan diri. Perlahan Rana merebahkan Bara di sofa ruang tengah, Rana memeriksa suhu tubuh Bara dengan punggung tangannya. Laki-laki itu sedang demam tinggi. "Om Bara kenapa, Bun?" tanya Biru yang duduk di sofa lain.

"Om Bara lagi demam. Jadi hari ini Biru belum bisa main sama Om Bara, tapi hari ini kita bantu Om Bara dulu, ya," jawab Rana memberi penjelasan. "Biru tungguin Om Bara dulu, bunda mau ambil kompres sama termometer."

Biru hanya mengangguk, membiarkan Rana melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak ia mengerti. Rana bergegas mencari kotak obat di apartemen Bara, dan untungnya laki-laki itu menaruh kotak obatnya di tempat yang mudah dijangkau. Rana pun bersyukur karena Bara seorang dokter yang memiliki peralatan pertolongan pertama yang cukup lengkap. Setelah menemukan yang dia cari, Rana bergegas kembali ke ruang tengah dan segera mengukur suhu tubuh Bara dengan termometer.

RenjanaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang