Jangan lupa vote dan komen <3
Selamat membaca!
***
Bara menatap langit biru dari dalam ruangannya, pikirannya menerawang jauh ke sana hingga tak lama sebuah ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Sosok yang hampir setiap hari mengusik jam istirahat Bara muncul dengan senyum lebarnya dan menunjukkan plastik putih yang ia bawa, Bayu.
"Gue beli nasi Padang." ujar Bayu yang kini sudah masuk dan duduk di sofa sambil mengambil dua bungkus nasi yang ia beli. "Gue beliin pakai ampela loh." Bara hanya bergumam tidak berminat, ia memutar kursinya hingga membelakangi Bayu dan memilih kembali menatap langit.
"Lo masih utang cerita sama gue, Ra," Bayu kembali bersuara, seolah tidak mau membiarkan Bara tenang barang sedetik. "Kenapa sih lo akhir-akhir ini badmood terus?"
"Gue ketemu dia."
"Siapa?"
"Rana."
"Oh, Rana—Hah?! Rana balik?! Kapan?!" tanya Bayu antusias. "Gimana dia? Masih sesuai ekspetasi lo nggak? Masih secantik yang lo ceritain nggak?"
Bara menyunggingkan senyumnya dengan tetap menatap langit. "Dia masih cantik kayak dulu, sejauh ini.. gue rasa enggak ada yang berubah." jawab Bara sambil membayangkan sosok Rana.
"Terus gimana? Kalian ngobrol?" Bara mengiyakan. "Terus kalau lo sama dia udah ketemu, kenapa lo malah galau? Nggak doyan makan? Nggak ada motivasi diri gini?" tanya Bayu heran. "Lo sadar nggak sih, kalau lo itu udah mirip kayak zombie? Akhir-akhir ini lo tuh kayak mau terus hidup udah nggak kuat, tapi kalau mati masih belum mau."
Bara tersenyum getir. "Emang gue separah itu?"
Bara membenarkan. "Lo enggak lagi depresi, kan?" tanya Bayu. "Perlu gue teleponin Iqbal?" Bara menghela napas pelan. "Kalau lo udah ketemu sama Rana, harusnya lo bahagia dong, tapi kenapa sekarang malah kebalikannya? Kenapa sih sebenernya?"
"Rana udah nikah."
"Hah?"
"Iya, lo enggak salah denger," jawab Bara kemudian menghela napas berat. "Dia udah nikah, bahkan udah punya anak."
Kini giliran Bayu yang menghela napas pelan. "Berarti, penantian lo selama ini sia-sia dong?"
"Belum."
"Hah? Kok belum?"
"Nggak usah kebanyakan hah heh hah heh deh, Bay," omel Bara yang kini sudah menatap Bayu jengah. "Ya, gue belum tahu dia udah bener-bener nikah atau belum," jelas Bara. "Gue mau tahu dia bener udah nikah apa cuma mau buat gue mundur."
"Sinting," maki Bayu. "Jelas-jelas dia udah nikah, buktinya udah ada, kenapa masih lo raguin juga?" Bayu mendengus. "Lama-lama gue santet juga lo, Ra. Cinta boleh, tapi ngotak dikit lah," omel Bayu dengan gemas. "Jelas-jelas dia udah punya anak, udah nikah, masa masih mau lo kejar?"
"Gue cuma mau mastiin, nggak lebih."
"Gila lo, gue mau telepon Iqbal dulu biar lo dirawat sama dia," ujar Bayu sambil mencari-cari ponselnya di saku bajunya. "Lo tuh udah sakit jiwa, Ra."
"Emangnya cinta itu salah?"
"Ya enggak salah, cara lo yang salah," sahut Bayu. "Gue ingetin ya, Ra. Lo enggak boleh ngerusak kebahagian orang lain demi kebahagiaan lo sendiri," ujar Bayu dengan tegas. "Apapun alasanya, lo enggak akan bahagia kalau lo dapetin kebahagiaan itu dengan cara yang enggak semestinya."
Bara menghela napas pelan. "Gue enggak berusaha ngerusak kebahagiaan siapa-siapa, Bay," Bara membela diri. "Gue cuma mau mastiin, kalau dia udah nikah ya udah.. gue bakal relain dia." meski berat.

KAMU SEDANG MEMBACA
Renjana
General Fiction[Selesai] Sekeras apapun kau melupakannya, itu hanya akan sia-sia, karena berusaha melupakan adalah kata lain dari memupuk rasa. Dan pada akhirnya, kau semakin ingin memilikinya. - Renjana - Jumat, 27 Maret 2020 *** Selesai, Sabtu, 29 Agustus 2020