"Ayah! Aku bahkan baru saja masuk kepolisian. Apa aku harus mengikuti persidangan itu? Ya Tuhan!"
Seperti biasa Oh Seoung Hoon selaku ayah Oh Sehun hanya tersenyum dan melanjutkan acara minum kopinya pagi ini. Menghadapi anaknya dengan sama keras kepala justru membuatnya darah tinggi.
"Terserahmu Sehun. Namun ku peringatkan sekali lagi, mungkin jika kau mengikuti persidangan ini kau bisa meningkatkan kualitasmu. Hanya mengahadirinya, kau hanya perlu duduk dan menyaksikan"
Sehun menatap malas ayahnya. Ia kemudian ikut duduk di sebelah ayah tampannya itu.
"Kukira kasus itu bersifat rahasia. Bukankah pelakunya masih dibawah umur?"
Seung Hoon tertawa keras. Sampai sampai ia meletakkan kopinya dan memegangi perutnya yang terasa padat itu.
"Kau seperti tak tau ayahmu saja. Kau tau hakim Gong Yo kan? Dia temanku tentu saja kau boleh kesana. Dengan sedikit kekuasaan apapun bisa dilalui"
Sehun mengangkat sebelah alisnya.
"Haruskah aku pergi kesana?"
"Ayah hanya menawarkan. Atau kau ingin melihat proses introgasinya? Itu lebih mudah untukku memberimu akses kesana"
-
Sehun memasuki lorong ruang introgasi itu. Ia melihat ke sekitar sambil bergidik ngeri membayangkan wajah bocah yang menjadi tersangka utama. Sehun membayangkan wajah bocah itu pasti sangat kejam dan tak berperikemanusiaan. Ia bergidik ngeri sambil membayangkannya.
Bayangkan saja bocah dibawah umur membunuh ayahnya sendiri dengan tanpa ekspresi.
"Kalau bukan penasaran, mana mau aku kesini"
Ia menatap tak yakin pintu introgasi itu. Saat dia membukanya terdapat 3 orang yang ada di ruangan itu. Satu orang sedang duduk di depan anak kecil, mereka berada di depan ruangan terhalangi kaca yang tebal. Dua orang sedang memantau sambil membaca beberapa dokumen di depannya.
"Selamat siang. Saya Oh Sehun dari.."
"Tidak usah memperkenalkan diri. Kami sudah diberi tau kau akan kesini. Siapa juga yang tidak kenal dengan Oh Seoung Hoon"
Sehun hanya tersenyum getir menahan emosinya yang sedikit memuncak. Ia sudah tau polisi didepannya ini berniat untuk menyindirnya karena mempunyai koneksi.
Lupakan itu! Ia kemudian memperhatikan wajah bocah yang sedang diintrogasi itu. Tak terlihat menyeramkan baginya, justru terlihat tak mempunyai dosa. Bahkan ia tak menyangka bocah se menggemaskan itu bisa berbuat hal yang tak diduga.
"Bukannya kemarin aku sudah di periksa oleh jaksa? Kenapa sekarang kau menanyaiku lagi?" Kata Baekhyun dengan wajah yang datar seperti biasa nya.
"Ya bocah aku tau kau memang sudah diintrogasi jaksa. Namun belum dengan kepolisian. Jadi intinya saja apa alasanmu membunuh ayahmu hah? Tak tau kau jika tak ada dia kau pun tak ada?"
"Bajingan itu pantas mati"
Sehun agak terperanjak sedikit dengan apa yang ia dengar barusan. Bajingan? Ayahnya? Oh Tuhan apa yang ada di pikiran anak kecil itu.
"Dasar naif. Hei! Itu orang tuamu bodoh!"
"Polisi macam apa yang menanyai bocah dibawah umur dengan kasar? Kau tau pak polisi? Aku tak sudi menyebutnya sebagai orang tuaku. Dibanding orang tua, ia lebih pantas menjadi babi hutan"
Polisi yang sedang menanyai Baekhyun tertawa terbahak bahak mendengarnya.
"Kau sok jagoan sekali bocah pembunuh"
"Lee Seung Gi? Itu namamu kan? Setelah kuingat ingat mungkin kau tau tentang perginya imigran gelap dari Vietnam"
Polisi itu, Lee Seung Gi tiba tiba menjadi tertegun. Tangannya mengepal. Sejauh mana anak ini mengetahuinya? Batinnya. Ia kemudian berdehem pelan dan bersiap meninggalkan Baekhyun yang masih duduk dengan gaya cueknya.
"Bocah sepertimu tak lebih dari seorang pembunuh"
Sehun yang melihat itu mengeryitkan alisnya heran. Memangnya ada apa dengan imigran Vietnam sampai sampai Seung Gi pergi begitu saja dari sana. Bukankah ini hak yang aneh menurutnya.
Sehun menatap ke arah bocah itu sambil memikirkan sesuatu.
"Imigran Vietnam?"
-
"Kau akan dipindah tugaskan ke Seoul bersama rekanmu, Chanyeol"
Sehun membungkuk dan pergi dari ruangan itu. Ia berjalan menuju meja nya. Disana ia langsung mendudukkan badannya yang terasa pegal. Memiliki ayah dengan koneksi tinngi? Ia tak mau memanfaatkan itu semua terus menerus.
"Seoul? Apa disana akan menyenangkan ya?"
Ia kemudian menyalakan tv yang kebetulan berada di tengah tengah ruangan itu. Sangat beruntung memang ia ditempatkan di ruangan yang dilengkapi dengan tv.
Ngomong ngomong ia sudah lama tak melihat Seung Gi semenjak proses introgasi saat itu. Mungkinkah? Ah ia tak mau ambil pusing dengan itu.
"Hei Sehun! Tega sekali kau tidak mengabariku kalau kau kesini"
Sehun tertawa. "Maafkan aku Chanyeol,kau tau kan aku sedang sangat lelah?"
"Ya aku tau"
Chanyeol kemudian mengambil posisinya di depan Sehun tak perduli dengan tv yang masih menyala.
"Kau tau? Senior kita Seung Gi, dia pagi tadi ditangkap karena kasus korupsi"
Sehun mengalihkan atensinya kepada Chanyeol. Seung Gi katanya? Pantas saja ia tak melihatnya sejauh ini. Memang Seung Gi merupakan individu yang sangat ia benci bahkan ia pernah memiliki niatan untuk menggunakan kekuasaan ayahnya agar Seung Gi segera dipindah tugaskan.
"Dia menerima suap dari imigran gelap asal Vietnam"
Sehun tertegun. Seketika bayangan wajah bocah itu, Baekhyun muncul di dalam pikirannya. Namun seketika ia tersenyum dengan penuh makna.
"Kau tau Chanyeol? Ini akan sangat menarik. Dan akhirnya temanmu ini sudah memilih pasangan hidupnya"
Chanyeol mengeryitkan dahinya
"Apa maksudmu?"
"Aku tertarik dengan seseorang"
_______
KAMU SEDANG MEMBACA
Police (Completed)
أدب الهواةBerprofesi polisi bukanlah hal mudah untuk. Terlebih dengan kasus yang sedang dihadapi membuat para polisi kebingungan. Jalan terakhir dipilih para penyelidik dengan meminta bantuan mantan terdakwa kasus Bucheon tahun 2011 lalu, Byun Baekhyun. Apa y...
