Sepanjang perjalanan menuju kerumahku, tidak ada yang memulai pembicaraan sama sekali. Kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing, aku sibuk memikirkan kejadian yang sudah terjadi tadi di apartemen Niall. Setelah Niall menciumku, aku tidak mampu berbicara apapun, dan Niall pun sepertinya menjadi salah tingkah. Kami berdua terlarut dalam keheningan, waktu bergulir semakin malam dan Niall menawarkan diri untuk mengantarku pulang. Aku hanya mengangguk menerima tawarannya.
Satu belokan lagi dan aku akan tiba di rumahku, namun aku menjadi panik sendiri. Apa yang harus aku lakukan nanti sebelum turun dari mobil Niall? Apa yang harus aku ucapkan nanti? Sial! Aku tidak biasanya seperti ini.
Laju mobil pun mulai melambat, dan akhirnya berhenti tepat di depan rumahku. Oh bagus, dan sekarang tubuhku terasa membeku di tempat. Perlahan aku melepas sabuk pengamanku, meraih tasku yang aku taruh di pangkuanku lalu menoleh pada Niall "Umm terima-kasih, ya terima-kasih" ucapku dengan suara yang bergetar, sial.
Niall menoleh padaku kemudian mengangguk dan tersenyum kaku "Ya, masuk lah sudah malam"
Aku mengangguk pelan, memutar tubuh dan membuka pintu mobil. Aku merangkak turun sambil berusaha mengatur nafasku, karena entah mengapa aku merasa sikap Niall mampu membuatku canggung seperti ini. Ugh aku benci karena aku tidak bisa mencarikan suasana.
Belum aku menutup pintu, namun Niall memanggil namaku di barengi dengan suara pintu mobil yang tertutup. Aku berdiri mematung, menunggu Niall menghampiriku. Ya Tuhan aku tidak pernah segugup ini sebelumnya.
Niall kini berdiri di hadapanku, dia menutup pintu mobil penumpang kemudian menatapku lekat-lekat.
"Ada apa?" tanyaku dengan nada suara serendah mungkin agar dia tidak dapat mendengar suara tercekatku.
"Aku minta maaf soal tadi, karena aku lancang sudah men—ya kau tahu, maaf kan aku" ujar Niall dengan terburu-buru, aku tidak menyangka bahwa Niall akan meminta maaf padaku. Ya dia memang harus meminta maaf padaku karena dia telah bersalah, dia sudah bersalah karena hampir membuat jantungku berhenti bekerja akibat ulahnya.
Tapi ya Tuhan, kenapa Niall harus terlihat sangat tampan di bawah sinar bulan? Aku benar-benar serius jika Niall sangat tampan jika berada di hadapan wajahku.
"It's ok" jawabku singkat.
"Apa kau marah padaku? Kau diam setelah aku men—ya kau tahu itu"
"Aku tidak marah, aku hanya kaget"
"Ya aku pun kaget, aku tidak tahu mengapa aku bisa melakukan hal tersebut"
"Apa karena banyak saus spageti yang menempel di sekitaran bibirku, jadi kau melakukannya?"
Yeah Niall sukses membuat suasana kembali mencair.
"Ya—eh tidak—atau mungkin bisa jadi, ugh aku tidak tahu" Niall mengacak rambutnya yang dibentuk jambul ke atas.
Ugh hentikan Niall, kau terlihat seksi saat melakukan hal tersebut.
"Jadi jika tidak ada spageti disana kau tidak akan melakukannya?"
"Aku tidak tahu"
"Mengapa tidak tahu?"
"Aku takut jika kau akan marah padaku, dan membenciku"
Aku menghela nafas pelan, Niall adalah sahabat yang baik. Dia benar-benar menjaga perasaanku, namun aku tidak ingin jika dia hanya menjadi sahabatku. Aku ingin lebih.
Aku tersenyum tipis "Kau bisa menganggap kejadian tadi, ciuman persahabatan mungkin? Atau cara baru membersihkan saus spageti ... ya seperti itu"
Sakit itu ketika aku selalu mengharapkan sesuatu yang lebih, namun pada kenyataannya tidak ada yang lebih dari sebuah persahabatan. Aku benci memiliki perasaan ini, aku benci memiliki perasaan pada sahabatku sendiri. Aku benci karena aku harus membatasi diriku sendiri, aku harus bisa berlapang dada dan berfikiran positif. Dan aku tidak boleh banyak mengharap atau banyak menghayal.
Aku tahu Niall melakukan itu semua karena dia memang jahil dan dia memang menyayangiku sebagai sahabat, ya sahabat.
"Ciuman persahabatan? Apakah ada yang seperti itu?" tanya Niall terkekeh pelan.
Aku ikut terkekeh "Ya ada, seperti apa yang kau lakukan tadi"
"Namun aku merasa seperti seekor anjing yang menjilati bibir majikannya"
"Tidak, kau bukan anjing Niall"
"Tapi aku rela menjadi anjing jika aku bisa melakukan hal tersebut, lagi"
APA?!
"Apa?"
"Apa?"
"Apa yang baru saja kau bicarakan?"
"Tidak ada, masuklah sudah malam"
"Ya, terima kasih dan sampai jumpa"
"Selamat malam Julie"
"Selamat malam Niall"
Aku memutar tubuhku dan melangkah menuju rumah, dalam hati aku merutuki diriku sendiri. Mengapa tadi Niall tidak mau mengakui apa yang baru saja dibicarakannya? Aku benar-benar mendengar suara rendah dan pelan Niall itu, aku tidak mengerti mengapa dia mengatakan hal tersebut 'Tapi aku rela menjadi anjing jika aku bisa melakukan hal tersebut, lagi'
Apa maksudnya?
