Four

4.3K 528 92
                                        

The Wager

SEKAI! HUNKAI!

YAOI

Typo? Ya maap, gk sengaja..

Selamat membacaa













Waktu pendidikan selama tiga tahun telah mereka lewati. Saat ini para siswa-siswi khususnya di tingkat akhir sudah tidak ada mata pelajaran lagi, dan diwajibkan untuk tetap hadir hanya untuk mengisi kekosongan kelas, namun memiliki waktu bebas untuk jadwal kedatangan ke sekolah. Termasuk Jongin yang tetap berangkat ke sekolah lebih awal disaat siswa lain memilih datang pada pukul 9 pagi.

"Eh, ada si brengsek lewat."

Jongin hanya diam saat telinganya mendengar jelas sindiran dari Baekhyun saat mereka jalan melewati koridor dan berpapasan dengan Sehun.

"APA?! Kau mau perotes? Ayo sini lawan aku!" Baekhyun sudah siap dengan menaikkan lengan bajunya hingga memperlihatkan lengan atasnya yang tidak berotot namun cukup kuat untuk membanting seseorang.

"Cih!" Sehun hanya lewat tidak ingin meledeni Baekhyun yang terlihat sangat membencinya. Seingatnya dia tidak ada masalah dengan pria pendek itu.

"Beruntung bulan depan kita sudah tidak sekolah lagi. Aku muak melihat wajahnya. Aku membenci si brengsek itu!"

Jongin hanya tertawa melihat kelakuan Baekhyun yang kini berapi-api menyuarakan kebenciannya. "Hati-hati. Aku dengar antara benci dan cinta itu tipis. Bagaimana kal-"

"Oh tidak! Aku akan tetap membencinya meskipun hanya tersisa kami berdua di dunia ini. Akan aku bunuh dia dan aku makan dagingnya untuk bertahan hidup. Hahahaha.."

"Baiklah, hentikan pembicaraan ini."

Baekhyun terdengar seperti seorang psikopat. Jongin jadi takut dan melangkah cepat meninggalkan Baekhyun menuju kelas mereka.

Jongin senang mempunyai sahabat seperti Baekhyun. Jongin yang punya masalah pada Sehun dan ia bersikap biasa saja, tapi justru Baekhyun yang terlihat marah dan benci pada Sehun.

"Jongin, mejamu."

Keduanya menatap meja Jongin yang penuh dengan coretan dan ucapan kebencian yang tertuju pada di pemilik, entah dari siapa.

"Ini pasti dari si jalang itu! Awas saja kau Kim."

Jongin seperti mendengar umpatan Baekhyun yag tertuju padanya, walau ia tahu jelas pasti teruntuk Sejeong. Kenapa juga marga mereka sama.

"Sudahlah, duduk saja, Baek. Bagaimana kalau bukan dia."

"Aku tahu tulisan tangannya yang jelek seperti ceker ayam. Lihat! Tulisannya ini mengganggu pemandangan saja." Baekhyun sudah siap melangkah menuju kelas sebelah dimana Sejeong yang selaku pembenci Jongin berada.

"Tidak apa, jangan marah begini. Kita juga tidak belajar. Sudah, tenanglah."

"Kau juga! Kenapa diam saja, melarangku ini itu. Padahal aku ingin membelamu, Jongin. Laporkan saja mereka yang jahat pada ayahmu."

"Untuk apa? Minta mereka dikeluarkan? Bukankah kau bilang minggu depan kita sudah tidak sekolah lagi? Percuma juga jika aku minta pada ayahku. Sekarang kau tenang." Jongin mengeluarkan ipadnya dari dalam tas, membuka aplikasi permainan.

"Wow. Kau mulai menunjukkan siapa dirimu?"

Jongin hanya melirik sekilas ke arah Baekhyun, membenarkan kembali kacamatanya dan mulai bermain.

Sebenarnya selama tiga tahun sekolah Jongin hanya menunjukkan bahwa dirinya adalah pria yang beruntung dapat sekolah di sekolah elite dengan biaya persemester begitu mahal. Bahkan handphonenya yang ditunjukkan masih samsung seri note 9 edisi EXO dari awal ia masuk sekolah hingga tingkat akhir ini saat sebentar lagi lulus. Tidak seperti Baekhyun dan beberapa siswa lainnya yang sudah berganti ponsel dua sampai empat kali dalam 3 tahun terakhir. Padahal mereka tidak tahu saja jika setiap ada ponsel keluaran terbaru akan Jongin beli, khususnya samsung dan iphone.

Sekarang mereka berdua bermain bersama dengan 100 orang lainnya dan membentuk tim hanya berdua. Ruang kelas kini diisi oleh teriakan Baekhyun saat bermain. Berbeda dengan Jongin hanya bermain dengan tenang. Tidak ada yang berani menegur Baekhyun, jika ingin mendapatkan umpatan dari bibir tipisnya.

SREK!

Jongin ingat dia ada di lingkungan sekolah, membuatnya mengurungkan niat untuk mengumpati seseorang yang dengan kurang ajarnya merebut ipad miliknya. Di hadapannya berdiri Sehun dengan wajah menyebalkannya menatap Jongin kesal.

"Yak! Oh brengsek Sehun! Kami kalah!" Baekhyun berteriak karena lawan satu timnya tidak membantu.

"Aku tidak punya urusan denganmu." Sehun menatap Baekhyun tidak peduli jika permaian kedua sahabat ini kalah. "Dan kau!"

"Berbicara dengan baik, atau aku ikut dalam pembahasan ini." Baekhyun menggenggam kuat pergelangan tangan Sehun yang dengan beraninya menunjuk wajah Jongin.

Sehun melepaskan genggaman tangan Baekhyun dengan sedikit menghempaskannya. Pergelangannya terlihat memerah karena cengkraman tangan Baekhyun sangat kuat. Tubuh kecil tapi kekuatan besar seperti seme.

"Apa yang kau katakan pada mama?"

"Apa?" Jongin tidak mengerti dengan pertanyaan Sehun. Seingatnya dia tidak mengatakan apapun pada nyonya Oh, kecuali saat pertemuan terakhirnya di pusat perbelanjaan beberapa minggu lalu bersama Baekhyun.

Sehun menarik salah satu sudut bibirnya, sedikit mendekat membuat Jongin memundurkan tubuh memberi jarak.

"Kau masih berharap untuk jadi kekasihku?"

Jongin semakin tidak mengerti. Keningnya berkerut bingung mencoba memikirkan ucapan Sehun, membenarkan kacamatanya dan menatap Sehun tanya. "Huh?"

"Woah, ternyata kau masih cinta padaku. Kenapa mama datang padaku dan marah karena tahu kita sudah tidak ada hubungan? Kau tahu? Mama memarahiku dan menyalahkanku! Memaksaku untuk meminta maaf dan memperbaikinya lagi. Kau jelas tahu hub-"

"Tapi aku tidak mengatakan apapun pada mama Oh, Sehun." Tentu saja Jongin harus membela dirinya. Ia memang tidak mengatakan hal buruk apapun tentang Sehun hingga pria di depannya ini bisa dimarahi oleh ibunya sendiri. Jongin berkata jujur jika mereka memang tidak cocok lagi, justru ia menambahkan hal baik jika Sehun meminta putus secara baik-baik. Salah Jongin apa lagi.

"Kau iya. Aku yakin kau menjelekkan namaku di depan mama. Kenapa tidak kau saja yang katakan kalau 'kau hanya mempermainkanku'? Setidaknya dengan begitu mama tidak akan mau bertemu denganmu lagi dan memaksaku untuk mendekatimu."

"Kau gila?!" Baekhyun memilih ikut bergabung. Dari sudut manapun jelas Sehun yang salah, tapi masih saja berusaha mencari nama baik. "Kau! Aku harap unuk besok dan selamanya kami tidak melihat wajah brengsekmu dimanapun." Menarik tangan Jongin untuk keluar kelas, tidak lupa merebut kembali ipad Jongin dari tangan Sehun, juga tas ransel Jongin karena Beakhyun sendiri tidak membawa tas.

"Aku juga tidak berharap untuk melihat kalian lagi." Sebelum keduanya benar-benar meninggalkan kelas, Sehun lebih cepat menahan pergelangan tangan Jongin dan berbisik di telinga mantan kekasihnya, dengan menatap tajam Baekhyun.

"Tapi kalau Jongin datang padaku dan memohon untuk kembali menjadi kekasihku ... akan aku pertimbangkan." Melepas genggamannya pada Jongin.

"Aku harap kau menyesal." Lebih baik Baekhyun pergi dengan menarik Jongin menjauh, daripada mengeluarkan tenanganya walau telapak tangannya ingin sekali mendarat di pipi Sehun.

Hari ini keduanya memilih untuk membolos, dengan kata lain pulang lebih cepat dari waktu yang ditentukan. Hanya mereka berdua, karena tidak ada yang bisa menolak, termasuk guru kesiswaan yang baru tahu beberapa hari lalu jika Jongin adalah anak pemilik pendiri sekolah.












Dah lama gk nongol. Maap ya, mungkin untuk sementara slow up dulu, mau fokus ke revisian skripsi sampe akhir bulan, setelahnya baru bisa balik wp buat sering2 update

THE WAGER [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang