Setelah 2 minggu berlalu, luka lebamku sudah sembuh total dan akhirnya aku dapat beraktivitas tanpa menggunakan masker lagi.
Seorang remaja berambut ikal memasuki kelas sambil mengibaskan rambutnya, "Good morning guys, ada yang kangen gue gak?"
"Enggak ada. Hahaha!" jawab Stevan tertawa.
"Gimana rasanya diskors selama 2 minggu? enak gak Tin?" tanya Ara meledek.
"Heh, gue diskors juga gara-gara ulah lo sama si cupu! jelas-jelas gak enak lah bol!" balas Tina sewot.
Oh iya, tak lama setelah keributan di kantin itu, duo Antagonis habis diskors sejak 2 minggu lalu karena berulah lagi karena memalak uang adik kelas.
"Masih pagi. Jangan bikin emosi ya lo, udah tau salah gak sadar diri!" ujar Ara.
Untung aja ada guru masuk kalau enggak, perdebatan keduanya gak kelar-kelar.
•••
Waktu istirahat..
"Lo gak ikut ke kantin?" tanya Ara. Aku menggeleng.
"Mau nitip makanan gak? gue sekalian mau jajan ," tawarnya. Aku menggeleng lagi.
"Yaudah yang penting lo bawa bekal kan? jangan sampe gak makan sama sekali. Gue ke kantin dulu, lo jangan kemana-mana. Takutnya dicariin guru," kata Ara. Aku mengangguk.
Aku sengaja gak ke kantin dulu, untuk menghindari Duo Antagonis dan para antek-anteknya. Tapi yang sering terlihat, ya dua anak manusia itu. Selain Tina, anak buahnya Angel ada 3 orang lagi, yaitu Vanya (si centil, Denisa ( si kalem yang salah masuk geng), Sisil (a.k.a Mak Ijah si biang gosip) dan 1 orang dari kelas IPS 3, namanya Kak Sasya ( kakel yang gak naik kelas dan ngulang setahun lagi)
Ku beranjak dari bangku dan melangkah menuju lokasi pohon rambutan yang terletak di dekat salah satu gedung sekolah.. Di gedung ini hanya ada satu kelas yaitu XI IPS 3 yang terletak di lantai 3. Sedangkan lantai 1 dan 2 digunakan untuk ruang keperluan lainnya seperti laboratorium, ruang English club, ruang musik, dll.
Sejujurnya aku males kesana, karena ada segerombolan siswa IPS 3 yang suka menggoda siswi yang melintasi koridor di gedung tersebut. Dan berhubung aku sedang bosan, lebih baik fokus dengan tujuanku saja yaitu memanjat pohon rambutan.
Dan benar saja, saat aku melintasi koridor tiba-tiba salah satu dari mereka bersiul lalu mendekatiku.
"Oi cewek!"
"Pepet terus Dil! jangan sampai lolos!" celetuk siswa lainnya.
"Sendirian aja Neng. Bestie lo kemana?" tanya Adil, ketua kelas IPS 3.
Aku tak menjawab pertanyaan Adil dan melanjutkan langkah menuju pohon rambutan.
"Eits, jangan pergi dulu dong. Sini kita ngobrol-ngobrol dulu," cegah Adil.
"Benar itu. Cewek secantik lo sayang kalau dianggurin," ucap temannya.
"Minggir," ucapku singkat.
"Gue gak bakal kasih jalan, sebelum lo jawab pertanyaan gue," kata Adil.
"Minggir!" ucapku lagi.
"Udahlah Dil, kasih aja jalan buat Kila. Dia itu altet karate tau. Nanti lo kena hajar baru tau rasa!" ucap temannya itu sambil bergidik ngeri saat menatapku.
Meskipun aku lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan, sebagian besar anak IPS 3, telah mengenalku dari Ara dan Adnan.
"Lo, atlet karate? Berarti, bisa bela diri dong?" tanya Adil padaku. Aku mengangguk.
KAMU SEDANG MEMBACA
RafaKila
RomanceShakila, gadis remaja berusia 16 tahun yang memiliki sifat pendiam dan pemalu. Masa lalunya yang kelam, tidak diketahui banyak orang membuatnya seolah baik-baik saja. Pada suatu hari, seorang pria yang merupakan teman masa kecilnya hadir di kehidupa...
