Semenjak hari itu kamipun menjadi beda.
Ingin rasanya aku minta maaf kepada aldi tapi, aku terlalu malu. Tapi aku tau itu salah aku. Mestinya aku ga egois seperti itu.
Lagian kalau di pikir pikir percuma juga marah marah kaya gitu toh aldi juga gabakalan punya keinginan untuk putus sama cewenya.
Dia pasti udah sayang banget sama feminita.
Sekarang aldi lebih sering menghabiskan waktunya dengan feminita dibanding sama aku.
Hidup kami jadi masing masing.
Ingin rasanya aku pulang dari rumah ini. Tapi aku masih terikat dengan sekolah. Gamungkin aku tiba tiba keluar lagi gitu aja, sekarang aku udah kelas 12 aku gaboleh main main lagi.
•••••••
Di sekolah.
"Nad lo bengong terus akhir - akhir ini, kenapa sih? Ga cerita?"
Tanya baby kepadaku dengan begitu perhatian. Aku tiba tiba menangis karena teringat aldi. Biasanya aldi yang selalu nanya begitu, dulu aldi peduli sama aku.
"Yaampun nad... Kenapa lo nangis"
Akupun memeluk baby karena tidak kuat menahan sedih. Aku butuh bahu. Aku butuh aldi.
"Beb.... Gue sa....lah.. G.. ga sih" kataku sambil sesenggukan.
"Lo nangis kejer banget nad... Yaampun.. Coba cerita dulu ada apa"
"Beb gue bingung.... Aldi marah sama gue"
"Hah marah kenapa?" babypun melepaskan pelukannya dan langsung menatapku bingung.
"Lo ribut lagi nad?"
"Kemaren gue pulang sekolah. Aldi pacaran di rumah sama cewenya beb... Terus gue mesti gimana. Gue nangis, dan aldi tau. Tapi aldi malah nuduh gue nyuruh dia putus" kataku menjelaskan sejelas jelasnya namun aku tahu baby tidak begitu jelas mendengarku karena suaraku yang terputus putus itu.
"Tapi emang lo pengen mereka putus kan?"
"Iya tapi ga begitu juga, gua ga maksud buat nyuruh dia putus ko" ucapku meyakinkan baby.
"Beb... Apa yang mesti gue lakuin sekarang, gue gaenak. Gue musuhan terus gue tinggal di rumahnya, udah gitu mamanya belum pulang dari kalimantan."
"Mending lo minta maaf aja deh. Daripada makin ribet" kata baby sambil memegang bahuku.
"Gue takut ga di maafin beb.."
"Coba dulu..." babypun meyakinkanku.
"Yaudadeh. Eh gue ke wc dulu yah bentar" kataku lalu pergi keluar kelas untuk menuju kamar mandi.
akupun berjalan dengan menunduk karena aku tidak mau teman teman lain tahu aku habis nangis.
Saat aku berjalan menuju kamar mandi, akupun berpapasan dengan dicky namun kami tidak saling tegur menegur. Biasanya dicky selalu menyapaku. Aku tau dicky marah kepadaku.
"Eh nad....?" terdengar suara orang di belakangku yang memanggilku. Akupun menoleh dan ternyata itu dicky.
"Mmm.. Ada apa"
"Ko mata lo sembab, lo abis nangis ya" tanya dicky kepadaku sambil mengangkat daguku. Kamipun saling bertatapan namun aku mengalihkan pandanganku.
"Engga ko" akupun berbalik untuk beranjak pergi.
"Ga nad.." ucap dicky tegas dengan memegang tanganku untuk mengehentikan ku.
Akupun memandang dicky lagi dengan mengucurkan air mata. Ini membuat dicky semakin heran dan panik.

KAMU SEDANG MEMBACA
just friend
Teen FictionKetika kita sadar cewe dan cowo gabisa selamanya temenan tapi saat salah satu dari mereka mengambil keputusan, dan saat itu pula mereka akan bersatu -- just friend.