Now playing: Going With You by Joshua Radin
Isabelle dan Samuel mengakhiri perjalanan di Richmond pada pukul 04.00 p.m., setelah mereka mampir sebentar ke kafe kecil di tengah kota untuk memastikan perut mereka akan aman sepanjang perjalanan pulang. Kunjungan ke West End Antiques Mall sebenarnya merupakan bagian yang paling luar biasa dan sangat menyenangkan bagi Isabelle, andaikan Samuel tidak mengungkit tentang botol parfum antik. Namun, Isabelle tetap tidak bisa menyalahkan Samuel, kan? Sejauh yang cowok itu tahu, Isabelle sangat menyukai botol parfum antik. Samuel sudah berusaha menunjukkan perhatian dan itu merupakan hal baik.
Jadi, Isabelle memutuskan untuk menanggapi Samuel sewajarnya. Ia bersikap seolah-olah ia masih ingin mencari botolnya di antara pajangan-pajangan di toko barang antik, meskipun ia tahu itu tak berguna. Namun, setidaknya Isabelle tidak akan membuat Samuel bingung atau mengubah situasi jalan-jalan ini menjadi memusingkan. Cewek itu membeli sebuah piring antik berdiameter empat puluh senti yang memiliki lukisan tipis di bagian tengahnya. Selain itu, ia masih bisa menikmati kegiatan-kegiatan yang dilakukan sesudahnya, seperti makan es krim, makan di kafe, dan berjalan-jalan bersama Samuel.
Jika sudah terlatih menutup diri dari orang lain, lama-kelamaan itu hanya akan menjadi kebiasaan yang sangat normal dan tidak membebani. Menurut Isabelle, cara ini cukup bagus. Hanya saja, entah bisa bertahan hingga berapa lama. Isabelle sudah mengubur pelan-pelan keinginannya untuk membeli botol parfum antiknya kembali, karena … ia jelas tak tega meminta barang yang sudah disimpan Samuel selama bertahun-tahun. Namun, siapa tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Isabelle hanya berharap kondisi stabil ini bisa bertahan selama mungkin, supaya hubungannya dengan Samuel paling tidak tetap baik-baik saja.
***
Hari itu merupakan hari puncak perayaan Thanksgiving. Semua keluarga di seluruh daratan Amerika Serikat berkumpul di rumah mereka masing-masing—atau mungkin di rumah kerabat mereka—untuk makan bersama dan menyemarakkan perayaan bersejarah ini. Meskipun hanya ada dua orang di rumahnya, Isabelle dan neneknya tetap merayakan Thanksgiving dengan baik. Neneknya juga memasak daging kalkun panggang, seperti di keluarga-keluarga lain.
Pukul 05.00 a.m. hari itu, Isabelle dan neneknya bagun tidur, lalu segera bersiap di dapur. Mereka memasak berbagai hidangan lezat untuk dinikmati siang nanti. Mereka juga menyiapkan jatah makanan untuk dibagikan kepada tetangga. Meskipun persiapannya melelahkan, tetapi perayaan Thanksgiving selalu penuh sukacita.
Sekitar pukul 10.00 a.m., setelah selesai menyiapkan semua makanan untuk dipanaskan dan disantap siang nanti, Isabelle merebahkan diri di sofa dan mengambil remote televisi. Ia bersantai sejenak sembari menonton acara variety show memasak yang menampilkan Selena Gomez sebagai bintang tamunya.
"Isabelle!" Suara neneknya terdengar beberapa saat kemudian. Isabelle segera beranjak dari sofa, lalu berjalan ke dapur untuk menemui neneknya.
"Apa yang bisa kubantu, Grandma?" tanya Isabelle sambil memperhatikan keadaan dapur. Ia menunduk sedikit, lalu memasukkan sampah sisa rempah-rempah ke dalam tong.
"Ah, itu. Apakah temanmu ada yang punya waktu luang saat hari Thanksgiving begini? Kita mempunyai seekor daging kalkun besar yang tidak akan habis bila kita makan sendiri. Kau mesti mengajak temanmu supaya mereka dapat ikut menikmatinya. Apakah ada temanmu yang bisa berkunjung dan bermain sebentar ke sini?" tanya nenek Isabelle. "Mungkin Olivia? Atau itu—siapa namanya, ya?—temanmu yang mengajakmu berjalan-jalan ke Richmond kemarin?"
Isabelle menggigit bibir bawah sembari menimbang-nimbang. "Olivia biasanya punya banyak acara di hari-hari seperti ini. Nanti aku akan tetap mengabarinya, karena ia sebenarnya juga suka daging kalkun. Tapi aku tidak dapat menjamin ia pasti datang. Kalau Samuel," ujarnya sambil berpikir, "aku tidak tahu jadwalnya secara menyeluruh. Nanti akan kutanyakan padanya."
Neneknya mengangguk beberapa kali. "Baiklah. Kalau begitu, kau kembalilah dan hubungi teman-temanmu itu dulu. Kalau tidak ada yang datang, aku akan mengajak seorang tetangga di kompleks kita yang mempunyai anjing berbulu lebat itu."
Isabelle melengkungkan bibir ke atas. "Oh, tolong jangan anjing berbulu." Ia bukannya takut pada binatang peliharaan, tetapi anjing tetangganya itu sering merontokkan bulu di berbagai tempat. Akan sangat merepotkan jika rumahnya menjadi kotor karena bulu-bulu itu.
Neneknya terkekeh pelan. "Baiklah, baiklah. Cepat hubungi teman-temanmu."
"Baik, Grandma." Isabelle pun keluar dari dapur, lalu masuk ke kamarnya untuk mengambil handphone. Setelah itu, ia menuju ruang tamu dan duduk santai di sofa.
Isabelle mengirimkan pesan kepada Olivia dan Samuel melalui WhatsApp. Olivia menjawab lebih cepat, tetapi jawabannya tidak terlalu memuaskan.
Olivia Johnson: 10.34 a.m. Oh, tidak! Astaga! Daging kalkun! Keluargaku bahkan tidak membuat hidangan tersebut. Astaga, aku ingin sekali mampir ke rumahmu, tapi acara keluargaku banyak sekali, hiks. T_T
Isabelle tertawa pelan sambil memutar bola mata. Ia pun mengirimkan balasan.
Isabelle Clarke: 10.34 a.m. Kalau begitu, tahun depan saja, hahaha.
Beberapa menit kemudian, respons dari Samuel pun masuk. Isabelle segera berpindah ke laman chat-nya dengan Samuel.
Samuel Simms: 10.36 a.m. Wah, kebetulan sekali aku tidak ada acara nanti siang. Momku sedang merayakan Thanksgiving bersama rekan kantornya dan baru kembali malam nanti. Ia sangat sibuk. Sepertinya tidak masalah jika aku mampir ke rumahmu nanti.
Isabelle Clarke: 10.36 a.m. Baiklah. Kalau begitu, aku akan menunggumu.
Isabelle mengulum senyum, lalu meletakkan handphone-nya di meja bufet di samping sofa. Ia pun lanjut menonton televisi.
***
Isabelle membantu neneknya menyiapkan meja makan dan menata berbagai hidangan pembuka. Sesuai perintah neneknya, Isabelle meletakkan dua buah botol parfum antik yang di dalamnya diberi lilin. Api kecil menari-nari dengan gembira di balik botol parfum transparan yang cantik tersebut. Isabelle tersenyum memandang benda-benda tersebut.
Andaikan ada satu botol lagi, pikirnya sambil menghela napas. Namun, begitu mengingat efek samping dari membeli botol parfum antik itu, Isabelle segera menggelengkan kepala dan membuang jauh-jauh pemikiran tersebut. Tidak, tidak. Jangan pikirkan ini dulu. Kurang satu saja juga tidak terlalu buruk. Isabelle menggembungkan pipi, lalu melanjutkan aktivitasnya.
Beberapa saat kemudian, bel pintu depan berbunyi. Isabelle segera menyudahi kegiatannya di meja makan, lalu berjalan cepat ke pintu depan.
Samuel langsung terlihat begitu Isabelle membuka pintu. Cowok itu bersandar di dinding dengan sikunya sambil melambaikan tangan ke arah Isabelle. Hari itu, ia mengenakan kaus wol putih polos dan jaket biru tua beserta celana jeans. Sangat kasual dan cocok untuk berkunjung ke rumah teman. Sama sekali tidak berlebihan. Isabelle menyukai itu. Ia tersenyum tipis, lalu menyapa, "Hai, Sam. Ayo, masuk."
"Oh, halo, Samuel," celetuk nenek Isabelle yang baru saja keluar dari dapur. Wanita itu membawa sepiring besar daging kalkun panggang.
"Halo, Mrs. Clarke," sahut Samuel sambil tersenyum ramah.
"Silakan duduk di mana pun kau mau, Sam. Rumah kami memang tidak besar dan tidak bisa menjamu orang dengan terlalu baik, tapi kau jangan merasa tidak nyaman. Anggap saja rumah sendiri," ujar nenek Isabelle ramah.
"Baik, Mrs. Clarke." Samuel melihat ke sekeliling ruangan untuk mencari tempat duduk. Ruang tamu hanya berisi satu sofa reyot warna hijau yang dipenuhi barang-barang, satu kursi lingkaran yang ditaruhi kardus, tungku perapian sederhana, dan sebuah lemari kayu besar. Memang tidak ada tempat duduk. Samuel menggaruk tengkuknya dengan bingung.
"Di meja makan ada kursi. Bagaimana kalau kau duduk di sana saja?" usul Isabelle begitu melihat tingkah bingung Samuel.
Samuel mengangguk. "Boleh juga."
Kemudian, Samuel, Isabelle, dan neneknya pun duduk bersama di sekeliling meja makan. Nenek Isabelle menambahkan beberapa camilan ringan di meja, lalu mereka pun menyantap makanan-makanan yang tersaji sambil berbincang santai.
"Omong-omong, bagaimana suasana rumahmu saat Thanksgiving, Sam? Apakah sepi seperti di sini?" tanya Isabelle sekilas.
Samuel mengangguk. "Aku dan momku bahkan bisa dibilang merayakan Thanksgiving kami masing-masing," ujar cowok itu sambil tertawa.
Isabelle dan neneknya tergelak. "Bagaimana bisa?"
"Ya, seperti ini. Momku merayakan Thanksgiving yang meriah dengan teman sekantornya. Sementara aku merayakan Thanksgiving dengan teman atau tetangga. Lalu kami masing-masing akan membawa pulang makanan yang bisa dibawa untuk disantap bersama saat malam," jelas Samuel santai. "Kalau tidak ada waktu, kami baru akan menyantapnya sehari setelah Thanksgiving."
Isabelle mengulurkan ibu jari ke depan wajah Samuel. "Keluargamu keren," tuturnya.
Samuel tertawa sambil menyingkirkan ibu jari Isabelle dengan lembut. "Makanlah dulu yang banyak supaya sehat. Jangan mengurusi orang lain," canda cowok itu.
Isabelle cemberut sambil setengah tersenyum. Kemudian, ia lanjut menyantap kue pie-nya.
***
Seusai acara makan bersama selesai, Isabelle membereskan piring-piring dan membawanya ke dapur. Ia meletakkan benda tersebut ke mesin pencuci piring dan menunggunya sambil mengecek handphone. Ucapan hari raya dari teman-teman sekelas dan gereja memenuhi notifikasi WhatsApp-nya.
Sementara itu, di ruang makan, nenek Isabelle dan Samuel berbincang santai.
"Samuel, apakah aku boleh mengatakan sesuatu padamu?" tanya nenek Isabelle.
Samuel menaikkan sebelah alis. "Tentu saja, Mrs. Clarke."
"Aku bukannya bermaksud mengatakan sesuatu yang kekanak-kanakan, tapi kau tadi berlalu lalang di rumah ini dan aroma yang muncul dari tubuhmu mengingatkanku pada salah satu parfum yang pernah kumiliki. Hanya saja … aku agak lupa yang mana itu. Apakah kau juga suka memakai parfum, Samuel?"
Samuel tertawa canggung. Ia menggaruk tengkuk. "Keluargaku juga suka mengoleksi botol parfum antik, seperti kalian. Lalu aku sering menggunakan salah satu botolnya sebagai wadah reed diffuser."
"Benda apa itu?" tanya nenek Isabelle sambil mengerutkan kening.
"Semacam pengharum ruangan dari cairan," jawab Samuel sabar. "Mungkin aroma itu yang terbawa hingga ke sini."
"Ah, aku mengerti. Keren sekali. Jarang ada anak muda yang menyukai benda-benda antik seperti itu," sanjung nenek Isabelle.
Samuel mengangguk sambil tersenyum ramah. Kemudian, cowok itu mengganti topik pembicaraan dengan wanita tersebut.
Di dapur, mesin pencuci piring baru saja menyelesaikan tugasnya dan Isabelle tengah menata piring-piring tersebut di rak. Beberapa saat kemudian, ia samar-samar mendengar pembicaraan Samuel dan neneknya yang mengarah ke perihal yang tidak umum. Isabelle melengkungkan alis sambil mempertajam pendengaran. Ia menghentikan kegiatannya menata piring sebentar.
Begitu mendengar neneknya berkata bahwa ia teringat pada aroma dari tubuh Samuel, wajah Isabelle spontan pucat pasi. Tubuhnya kaku dan pikirannya kacau. Bagaimana ini? Bagaimana ini? Bagaimana jika Grandma benar-benar mengingatnya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Fragrance Between Us
Roman d'amour[OPEN PRE ORDER 02-22 FEBRUARI 2021] Isabelle Clarke ingin membeli kembali botol parfum antik yang dijual neneknya sepuluh tahun lalu. Jadi, sejak duduk di bangku sophomore, ia mengambil kerja paruh waktu di Dalton's, toko barang antik di Culpeper...
