enem belas

96 7 2
                                        

"Lo-"

"Chenle, aku kangen. Kenapa kamu gak balik ke Korsel?" Cewek tersebut memeluk Chenle erat.

"H-hyeongjun, dia selalu ngikutin aku terus. Beberapa hari yang lalu aku mutusin buat balik ke Jepang biar gak ketemu dia, tapi dia tetep nyusul aku." ucap cewek tersebut, Hitomi.

"Lalu, aku diam-diam kabur dari Jepang ke sini buat nemuin kamu," sambungnya

"Lo-gakpapa? Dia lukain lo gak?" Chenle melepas pelukannya, lalu mulai meneliti sekujur tubuh Hitomi. Tangis Hitomi semakin kencang, "i-itu lengan lo lebam kenapa? Jangan bilang kalo-"

"Dia mukul aku, aku takut," Hitomi jongkok sembari memeluk dirinya sendiri, "d-dia mau-"

"Eh sebentar ayo sini ikut ke kamar gue, gue obatin luka lo sambil dengerin lo cerita!"

Hitomi menggelengkan kepalanya, "k-kamar?"

Astaga Hitomi, suasana gini masih sempet-sempetnya mikir begituan.

"Hah? Iya, gue gak bakal apa-apain lo kok, paling cuma grepe doang,"

"Chenle!" bentak Hitomi kesal

"Canda grepe, gue masih hargain lo sebagai perempuan kok. Lagipula, hati gue masih buat Yiren,"

Hitomi tertawa, lalu merangkul lengan Chenle dan mengajaknya pergi ke kamar.

°°°

"Gih, cepetan cerita, " suruh Chenle.

Tangannya tak tinggal diam, ia menekan kapas yang telah diberi betadine ke tubuh Hitomi yang lebam.

"Hyeongjun berusaha buat ngelecehin aku,"

Chenle melotot tak percaya, yang benar saja? Murid kelas 10 udah berpikiran gitu? Anjir, Chenle 1 tahun yang lalu belum paham begituan ಥ‿ಥ

"Dasar ya, tuh bocah nekatnya minta duit," maki Chenle.

"Yaudah, lu tinggal disini aja sama gue. Sekalian sekolah sama gue, gue bakal jaga lo terus kok. Btw, tuh kok bisa lebam gimana?" sambungnya.

"Aku berusaha buat kabur, terus ketahuan, dia mukul aku. Tapi, aku bisa bebas gara-gara aku nendang itunya."

Seketika Chenle bergidik ngeri, membayangkan jika dia yang berada di posisi Hyeongjun.

"Yaudah lu tinggal disini aja sih sama gue, ntar gue kabarin eomma appa gue kalo lu tinggal sama gue."

"Makasih Chenle, kamu temen terbaik aku!"

"Sa ae kutil jaran!" canda Chenle, lalu tertawa lepas diikuti dengan Hitomi.

"Ih gemoy!" Hitomi nguyel-uyel muka Chenle, sedangkan Chenle hanya pasrah merelakan wajah tampannya diuye-uyel Hitomi.

Hitomi memeluk Chenle erat, "aku sayang sama kamu, sebagai kakak doang sih. Aku tuh udah anggep kamu kayak kakak aku, kamu tuh paling baik ke aku. Jangan pergi ninggalin aku ya!!"

"Yeah, ofcourse babe!!" Chenle membalas pelukan Hitomi.

Mereka larut dalam sebuah dekapan, saling menghangatkan satu sama lain. Hujan tiba-tiba saja turun, merendahkan suhu ruangan Chenle.

"Lu laper gak?" tanya Chenle di sela-sela dekapan mereka.

"Laper banget!" balas Hitomi semangat, tanpa berniat melepaskan pelukan mereka.

"Jangan lepas dulu, aku nyaman begini. Rasanya tuh beda banget, dulu pas masih sama Hyeongjun, pelukannya gak senyaman kamu."

"Haha, gakpapa. Peluk sampe besok aja juga gakpapa, gue kosong hari ini,"

"Kamu serius nantangin aku pelukan sampai besok? Siapa takut!"

"Yah, kita liat aja siapa yang bakal lepasin pelukan duluan. Yang menang dapat apa?"

"Yang menang, keinginannya selama 24 jam dikabulkan orang yang kalah."

Chenle ngangguk.

30 menit kemudian

"Eumm, Chenle? Kamu tidur? Aku pengen ke toilet, lepasin dulu."

"Gak mau, ntar gue kalah!" kata Chenle setengah sadar, karena dia tengah tertidur. Ia menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Hitomi, membuat Hitomi geli.

"Enggak Le, aku yang kalah. Aku nyerah, cepetan udah kebelet nih,"

Chenle perlahan melepas pelukannya, lalu mengucek matanya.

"Udah jam berapa sih? Gue suruh bawain makan ke sini ya,"

"Bi, tolong bawain 2 porsi makanan sama 2 gelas teh anget ke kamar Chenle ya!"

"Siap!"

Tok tok tok

"Ini makanannya Tuan muda," tutur pembantu Chenle ramah.

"Taruh aja di meja sana bi, Chenle nunggu temen."

"Baik, bibi pamit balik ke dapur dulu ya."

"Sipp!"

"Ayo makan!" ajak Chenle ketika Hitomi barusaja keluar dari toilet.

Hitomi berjalan mendekati Chenle, "makan apa?"

"Tau tuh, liat-"

Brak

Hitomi terpleset dan jatuh, diikuti dengan Chenle. Jadi, posisi mereka saat ini sedikit berlebihan. Hitomi ambruk diatas badan Chenle, dan-bibir mereka tertaut.

Chenle juga pria normal, bukannya berdiri, dia malah memperdalam tautan dibibir mer-























"Chenle!!"




°°°

Halo, do you miss me? :3

Maap ceritanya agak gitu, jujur aku juga rada gimana bacanya  maapkeun yeu.

Kayanya, aku bakalan usaha sering up deh.

2. Dear you; Chenle Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang