Doa

646 93 7
                                        

"Hei, hei. Come to earth, Lika. Tarik napas. Pelan-pelan." Razka membimbingku bernapas. Napasku tersengal hebat. Persis seperti anak kecil yang terlalu lama menangis, aku megap-megap. Ketika, aku sedikit bisa mengendalikan diri, Razka melepaskan pegangannya di pundakku. "Sebentar ya."

Razka kembali kehadapanku dengan segelas air hangat. "Minum dulu, Yang." Razka membantuku untuk minum. Aku hanya mampu meneguk sedikit dan mengembalikan gelas tersebut pada Razka. "Feel better?"

Aku mengisi paru-paruku dengan oksigen sebanyak mungkin dan mengembuskannya sangat perlahan. Lalu, aku mengangguk. "Maaf," cicitku. "Aku bukan enggak peduli. Aku beneran enggak tahu anak kamu sakit. Kamu enggak bilang anakmu sakit. Jangan anggap aku monster, please." Aku menampilkan puppy eyes, meminta ibanya.

Razka membelai rambutku. "Enggak, sayang. Aku juga salah enggak bilang apa-apa sama kamu."

Aku memukul dadanya. "Kenapa jahat sih? Enggak mau bilang. Aku enggak tahu apa-apa tentang kamu dan Kayana. Kamu bilang mau kenalin aku sama dia tapi sudah berapa bulan kita jalan, kamu belum pernah bawa Kayana. Aku jadi bingung. Aku saja baru tahu tadi, waktu Mama bilang tiap Jumat, Sabtu dan Minggu adalah giliran kamu menjaga Kayana. Tapi, belakangan, kamu malam mingguan terus sama aku. Kamu enggak pernah tuh bawa Kayana. Kenapa? Kayana enggak suka aku ya?"

"Lika." Razka menyebutkan namaku sambil merapatkan posisi kami. Tangannya menjulur di sepanjang bahuku. "Pasti kamu bakalan bilang aku gombal deh. But, this is the truth. Aku enggak mau kamu jauh."

Jelas, aku menyikut dadanya. "Gombal, ah!" Suaraku masih bindeng pastinya.

"Tuh 'kan. Kenapa sih susah banget buat kamu percaya sama aku?" Aku memberengutkan bibir mendengar pertanyaannya yang menyudutkan. Ada banyak alasan sebenarnya. Salah satunya, "Kamu pengacara. Pinter banget sama kata-kata," terangku. Razka tertawa. Dia mencium puncak kepalaku. Aku langsung menjatuhkan kepalaku ke bahunya.

"Aku takut kamu enggak siap ketemu sama Kayana. Takut kamu keberatan dan akhirnya jauhin aku."

"Kamu yang bilang kamu satu paket sama Kayana. Mau enggak mau kamu harus cari yang bisa terima dia. So, why are you wasting your time to not trying to find the answer?"

Razka menggeleng. Dia benar-benar terlihat tidak memliki petunjuk. Matanya sayu dan pandangannya menerawang. "Tidak tahu, Lika," katanya. Ada helaan napas di antaranya. "Biasanya, juga gitu. Mana pernah aku peduli mereka siap apa enggak ketemu Kayana. Either, take me as I am or they always free to go. But with you ... i'm afraid that you will choose to go."

Aku mencium pipi Razka sekilas. "Let's find the answer. Aku enggak bisa menjanjikan apa-apa, Ka. To be honest, I'm afraid too. I'm not ready to be a mom. Apalagi jadi ibu sambung. Tanggung jawabnya besar banget, Ka. Kamu lihat sendirikan, aku cengeng dan keras kepala persis kaya bocah. But, let's find the answer. Tidak adil buat kamu dan Kayana. Aku enggak mau Kayana merasa aku merebut kamu. So, let's meet the little girl. I hope she likes me and vice versa."

Aku celingak-celinguk. Kata Mama hari Sabtu waktunya Kayana bersama Razka. "Where's she, by the way? Tidur ya?"

"Sudah kuantar balik ke rumah mamanya. Rencana 'kan kita mau pergi."

Aku membulat bibir. "Mantanmu enggak marah? Kamu enggak sesuai jadwal?"

Razka tertawa. "Kita berdua santai. Fleksibel juga sama waktu kunjungan. Kalau dia lagi ada kerjaan, sering juga nganter Kayana ke aku dan sebaliknya. Kalau kita berdua lagi ada kerjaan, ya titip ke rumah mama atau ke rumah mamanya dia. Enggak mudah sih. Selalu merasa bersalah tapi apa yang sudah terjadi, ya terjadi. We're trying the best we can and I hope one day she could understand. Gak adil ya buat dia?"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 25, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ADRONITISTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang