Hari berganti, kehidupan harus terus berlanjut. 3 insan muda itu kini sedang berkutat pada kehidupannya masing masing.
Ali di Sydney, Prilly dengan pekerjaannya dan Petter dengan kehidupannya.
Hampir 1 bulan sejak perpisahan Prilly dan Petter dirumah sakit sore itu membuat sebagian dari diri Prilly terasa kosong. dia sudah memaafkan, tapi kenapa semuanya justru semakin sulit rasanya? ada apa? tolonglah, rasanya Prilly sudah muak dengan perasaan perasaan seperti ini yg mengganggu kehidupannya.
Telfon meja kerjanya berdering lalu ia menjawab panggilan dari Receptionist kantor.
"selamat siang"
"selamat siang Ibu Prilly, di lobby ada yg ingin bertemu dengan Ibu"
"dari siapa?"
"atas nama Pak Petter. Bu"
Senyum kecil terukir di bibir Prilly, hatinya bergejolak senang "baik saya turun sekarang, terima kasih"
Tanpa menunggu lama gadis itu mempercepat langkahnya menuju ke lobby kantor dan saat pintu lift terbuka, ia menghampiri Petter yg tengah duduk di kursi tamu.
"Kak" panggilnya
"hey"
Prilly terduduk di hadapan Petter, suasana canggung menghampiri keduanya, entahlah apa yg membuat mereka hanya terdiam.
"um.. Kakak ngapain kesini?" tanya Prilly mencoba membuka pembicaraan.
Petter melirik jam tangannya "udah makan siang?"
Prilly menggeleng
"mau makan siang sama kakak?"
Prilly menganggukkan kepalanya antusias lalu keduanya bangkit dan menuju mobil, berlalu ke restoran yg tak jauh dari kantor Prilly.
Kini kakak beradik itu sudah berada di salah sau restauran dekat kantor Prilly, sedang menikmati makan siang mereka dalam hening namun fikira keduanya sibuk bergelut kesana kemari, begitu banyak pertanyaan melintas dibenak keduanya namun tak satupun berani mengeluarkan suara mereka sendiri.
Prilly menyelesaikan makan siangnya lebih dulu karena memang makannya sudah habis, sedangkan beberapa saat kemudian Petter menyusul mengelap bibirnya dan menatap adiknya lekat.
"Kamu gimana kabarnya?" Tanya Petter membuka percakapan.
"Seperti yg kakak lihat, aku baik baik saja"
"Baguslah, kerjaan kamu?"
"Lancar, kantor dipegang Devin sejak Ali nggak di Indonesia lagi" Prilly berusaha mengucapkannya dengan santai meski rasanya hatinya dihujam kerinduan yg begitu mendesak.
Petter mengangguk paham, merasa obrolan ini hanya 1 arah, ia berfikir pertanyaan apa lagi yg harus ia tanyakan pada adiknya ini.
"Kakak udah sembuh total?" Prilly hanya khawatir, naluri seorang adik tetap ada dalam dirinya.
"Ya, sudah lebih baik dari terakhir kali kita ketemu" jawabnya tersenyum, Petter senang bahwa Prilly kecil yg begitu perhatian seperti Mamanya tidak pernah berubah.
"Baguslah"
Hening lagi beberapa saat.
"Prill," Petter berhenti sejenak lalu menarik nafas "kakak, pengen kamu pulang"
Lirih, seperti Petter takut adiknya akan marah atau menolak mentah mentah tawaran Petter. Ia hanya ingin berkumpul lagi dengan adik satu satunya yg ia miliki. Ia hanya rindu memiliki keluarga, meski tidak utuh, tapi ia bertahan di dunia ini pun karena tau bahwa masih ada Prilly yg harus ia jaga dan perjuangkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
KOMOREBI
Fanfiction"Sunlight that filters through the leaves or trees" Bagaimana cahaya cahaya dari mentari yg bangkit malu malu dari peristirahatannya menyusup diantara celah celah dedaunan dan pohon rindang. Menciptakan gradasi indah karya Tuhan di kesempatan hidup...
