Suasana igd saat ini cukup lenggang dan membuat Bimo dan Rama sedikit santai sembari mengerjakan sisa-sisa tugas akreditasi. Akerditasi tinggal 3 hari lagi dan mereka harus menyelesaikan semuanya sebelum bertemu dengan surveyor nanti.
"Jangan ngomong jorok" omel Rama ketika Dhita dan Mba Tyas datang ke IGD. Bimo tersenyum lalu menepuk pelan bahu Dhita dan berlalu menuju bed pasien. Dhita tertawa mendengar ucapan Rama lalu menyerahkan berkas kepada Rama. "Nih titip buat Mina, dari mas Dio"
"Owalah ok, tumben banget Mba Tyas ke atas, kenapa mba ?" Tanya Rama melihat Tyas yang sedikit pucat dan canggung.
"Bisa usg ga sih Ram ? Gue kayak telat gitu 3 minggu...."
"Lah kenapa ga tespek mba ?" Kini Bimo mendekat kearah mba Tyas.
"Udah sih, garis dua tadi pagi gue cek. Mau mastiin aja. Bisa gak elu yang usg ?"
"Ya gabisaa, udah ke Sp.OG ajaa. Itu kayaknya dr. Henny yang praktek. Minta intip aja" usul Rama yang disetujui oleh Dhita "aku bilang juga apa mba mending langsung ke dr. Henny. Sama Rama mah kagak bener pasti"
"Enak bener elu kalo ngomong Dhit" omel Rama dan ke empatnya tertawa. Tiba-tiba ada bunyi suara sepatu yang berlari menuju IGD dan melihat Deva yang menggendong Arlin yang terkulai lemas. Bimo dan Rama langsung berlari menuju bed tempat Arlin di tidurkan. Dhita dan Mba Tyas langsung ikut menghampiri bed tersebut.
"Ini kenapa ?" Tanya Bimo sembari memeriksa kondisi Arlin. "Denyut nadinya lemah banget. Arlin, hey bangun. Arlin!"
Bimo menepuk pipi Arlin pelan dan kembali menatap Deva meminta jawaban. "Dia ribut di farmasi sama keluarga pasien dan ternyata keluarga pasien dorong dia sampe kepalanya bentur sama dinding." Bimo melihat ada sedikit luka di ujung pelipis kepala Arlin.
"Bentar, gak mungkin cuman gitu aja"
Dhita menatap Bimo yang panik pun heran dan berusaha menjauhkan pikiran buruk yang tiba-tiba datang di kepalanya.
"Arlin waktu kuliah pernah gini, pasti dia ketemu mantannya yang itu. Ram, minta Yeri pasangin infus"
Bimo segera mengambil handphonenya dan menghubungi security untuk melihat cctv di sekitar farmasi. Kondisi Arlin masih lemas dan perlahan ia menarik sneli milik Bimo.
"Bim..."
"Ar it's okay, tenang jangan panik ya ?"
"Dia ada disini Bim...dia balik kesini..." air mata Arlin turun begitu saja dan Bimo refleks mendekat dan mengelus puncak kepala Arlin.
"Udah tenang, ada gue disini"
Dhita perlahan mundur dan banyak pertanyaan di kepala Dhita. Bukannya Bimo gak suka sama Arlin ? Apa dulu pas kuliah mereka dekat ?
Seseorang menahan tangan Dhita dan membawanya duduk di depan igd.
"Jangan mikir yang aneh-aneh" ucap Deva. Dhita menghela nafasnya dan menatap sahabatnya sambil tersenyum. "Gak gue gak mikir aneh-aneh kok"
"Tapi ya Dev, gue gak yakin mereka gak ada apa apa pas kuliah"
"Dhitaaaa...." keluh Deva
"Serius, kalo gak deket gak mungkin. Buktinya Bimo langsung peka dan tau kondisi Arlin gimana. Dulu pas gue sama dia mana ada peka" Dhita tertawa hambar lalu berdiri dan berjalan menuju ruangannya "gue balik ya Dev, kalo mba Tyas nyariin gue balik ke ruangan"
Rama dan Mina yang hendak menyusul Dhita di kagetkan dengan perginya Dhita dan raut wajah Deva yang panik dan khawatir. "Dhita, overthikingnya kumat lagi"
KAMU SEDANG MEMBACA
first.
Teen FictionDulu mereka bersama, namun karena ego kini mereka berpisah. wonwoo x sana alternatif universe
