empat belas.

394 42 3
                                    

Waktu sudah menunjukan jam 6 sore dan akhirnya Dhita bisa menyenderkan bahunya dengan lega di sofa HRD. Begitupun Bimo, Ira, Mas Dio, Mba Tyas dan yang lainnya. Akreditasi tinggal 2 minggu lagi dan mereka benar-benar harus menyelesaikan berkasnya minimal h-7 hari sebelum pelaksanaan agar bisa di koreksi oleh dr. Alya dan jika ada revisi maka langsung diperbaiki.

"Udah malem ayok pulang. Mumpung besok kita dapet libur 2 hari" kata mas Dio mengajak semua tim untuk pulang. Semuanya berberes-beres. Dhita masih merenggangkan lehernya yang masih pegal dan tersenyum kala Ira dan Mba Tyas pamit duluan untuk pulang.

Bimo sudah selesai merapikan barang miliknya dan melihat dhita yang masih berleha-leha di sofa HRD.

Dhita kaget ketika Bimo duduk di depannya dan ikutan menyenderkan kepala di sofa. Kini mereka saling berhadapan dan saling menatap satu sama lain.

"Ngapain ?" Tanya Dhita

"Gak pulang" tanya Bimo balik.

"Nanti ah, mager" ucap dhita sembari memainkan handphonenya. Bimo menatap Dhita lalu iseng mengambil handphone Dhita.

"Ih Bimo!" Teriak Dhita sambil berusaha mengambul handphonenya dari Bimo

"Jangan main hape mulu"

"Kan main hapenya sambil duduk gak tiduran"

"Tapi lo senderan"

Dhita memanyunkan bibirnya kesal dan membuat Bimo tertawa lalu ngecak puncak kepala Dhita. Bimo mengambil tas Dhita dan menarik tangan Dhita agar bangun dari sofa. "Ayok pulang, atau mau jalan-jalan malam ?"

"Mau!" Jawaban Dhita sukses membuat Bimo tersenyum dan tanpa keduanya sadar kedua tangan mereka saling mengenggam sejak keluar dari ruangan HRD.

*****

"Ini obatnya 3x sehari diminumnya ya bu sesudah makan. Ini obat untung penghilang rasa sakitnya diminum 2x sehari. Semoga lekas sembuh"

Arlin tersenyum ramah kepada pasien yang menebus obat. Ia kembali ke dalam untuk mengambil obat namun ia berhentin ketika ia melihat Bimo dan Dhita berjalan bersama dan tangan mereka berdua yang saling bertautan. Arlin menatap mereka berdua tak suka lalu meletakan obat yang sudah ia pegang dan bergegas untuk menghampiri keduanya

"Eits eits eits mo kemana lo ?"

"Ck Dev minggir!" Ucap Arlin yang berjalan menabrak bahu Deva namun dengan cepat ia menarik tangan Arlin.

"Pasien udah nungguin tuh obat, ceoet kasih lagi"

"Ada Tia yang bisa handel minggir!"

Deva kembali menarik Arlin dan tersenyum mengejek "gimana lo mau menang di depan Bimo kalo lo kayak gini terus ?"

Arlin terdiam mendengar pertanyaan Deva. Deva mendorong Arlin untuk kembali ke dalam dan mengambil obat yang seharusnya ia berikan ke pasien tadi.

"Udah yang cakep disini aja, kasih obatnya ke pasien terus lo ambil obat sama peralatan OK. Hayuk neng buruan!"

Arlin mendengus kesal menatap Deva tajam lalu ia merubah raut mukanya menjadi ramah ketika akan memanggil pasien. Deva tersenyum lalu melipat tangannya melihat Arlin yang sedang memberikan arahan mengenai obat kepada pasien.

*****

"Wow gue baru tau ada tempat beginian di jakarta"

Bimo tersenyum puas kala melihat Dhita yang excited dengan tempat yang ia ajak malam ini. Drive cinema yang ada di salah satu daerah di senanyan menjadi pilihan Bimo malam ini.

first. Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang