04. Wedding Ring

710 99 132
                                        

Keindahan kota Seoul bertambah dua kali lipat saat malam menjemput. Kegemaran sebagian besar orang adalah menyusuri jalanan di malam hari, menjelajahi pusat kuliner untuk memanjakan perut, atau sekadar bercengkrama bersama teman di temani segelas kopi panas hingga larut.

Lampu kuning temaram menghiasi kawasan pusat perbelanjaan Upgujeong Rodeo. Etalase toko yang memperlihatkan berbagai produk andalan begitu memanjakan mata sepanjang langkah kaki berjalan. Sayang, udara malam ini terasa menusuk sampai ke kulit meskipun memakai jaket tebal. Wajar saja, karena saat ini telah memasuki akhir musim gugur. Cuaca di akhir musim gugur akan menjadi semakin dingin hingga memasuki musim dingin yang sesungguhnya nanti.

Seharusnya, Jisa sudah mengantisipasi dengan memakai pakaian hangat di tengah cuaca seperti ini. Ia tidak boleh mengambil risiko terkena hipotermia sebab menggunakan kaos berbalut cardigan rajut tipis yang tidak mampu menghalau dingin yang suhunya mencapai enam derajat.

Jimin sudah menawarkan jaket miliknya untuk Jisa kenakan. Namun, Jisa menolaknya karena berpikir jika Jimin berusaha mendapatkan simpatinya. Padahal, pria itu sukarela melakukan apa pun demi Jisa, asalkan tidak sampai harus bunuh diri. Jimin takut mati. Hey, kalau ia mati siapa yang akan menjaga Jisa?

Jisa menggerutu kesal mengekori Jimin yang sejak tadi masih sibuk mencari toko perhiasan. Sebenarnya, banyak sekali toko perhiasan yang mereka lalui. Namun, Jimin selalu mengatakan 'itu bukan tujuan kita'. Tidak ada pilihan lain untuk tetap mengikuti Jimin.

Kaki mereka terus melangkah sampai toko kesekian. Jimin akhirnya memasuki salah satu toko perhiasan yang letaknya berada di antara toko baju kaum elit. Nuansa putih kentara mendominasi. Kian menampakkan kilauan emas dengan variasi yang bermacam-macam.

Semenjak kaki mereka menginjak lantai toko, seorang wanita berseragam biru menyambut dengan senyum ramah.

"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?" tanya pegawai tersebut sembari membungkuk lembut.

Kedua netra Jimin menilik ke arah etalase berisi berbagai perhiasan cantik dengan berbagai model.

"Kami sedang mencari cicin pernikahan yang cocok." Jimin menoleh ke arah Jisa yang berdiri di samping.

Wanita itu tersenyum ramah lagi. "Mari saya bantu," ucapnya dengan tangan mempersilakan keduanya mengikuti.

Etalase yang mereka tuju benar-benar hanya berisi deretan cincin yang jumlahnya ratusan.

Keduanya berhenti. Mulai melihat-lihat cincin yang sesuai dengan selera mereka. Jisa terlihat sangat serius, sementara Jimin hanya memperhatikan calon istrinya.

"Aku ingin cicin nomor dua dari kanan." Jisa menunjuk sepasang cincin emas putih bertahta berlian yang mengelilinginya.

Wanita itu pun mengambil cincin yang Jisa maksud. Meletakkan cincin tersebut di atas etalase agar Jisa bisa menilai lebih dekat.

"Bagaimana menurutmu?" Jisa bertanya pendapat Jimin.

Sejenak, Jimin mengalihkan atensinya dari Jisa, mengusap dagu runcingnya dengan dahi berkerut. Meneliti cincin beberapa detik lalu menggeleng.

"Aku tidak suka modelnya, terlalu ramai", ucapnya kecut.

Helaan napas Jisa terdengar. Padahal ia menyukai cincinnya. Sekalipun, ia tipe wanita santai, tapi sesekali ia menyukai sesuatu yang glamor. Wajahnya yang semula berbinar mendadak redup. Mau tidak mau ia harus kembali memilih cincin lainnya. Lagipula, di sini ia tidak bisa seenaknya. Jiminlah yang berkuasa, sebab pria itu yang akan membayar cincin pernikahan mereka yang masuk ke dalam kategori mahal. Jadi, ia tidak kuasa membantah pendapat Jimin. Cukup tahu diri saja.

DEAR, MY SWEETNESS HUSBANDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang