[Story 1] - PUBLISH ULANG
"Bersyukur dijadiin mainan dia gitu? Gue yakin semua cewek bakalan nolak kalau
tau, cuman cewek gila aja yang nerima itu semua."
-Zefanya Putri
Bagaimana perasaan kalian jika dijadikan bahan taruhan oleh mostwanted
diseko...
"Liat aja, gue yang bakal menangin permainan ini. Tunggu aja kekalahan lo Alfarel."
~Zefanya Putri~
🦋🦋🦋
Alfarel mendudukkan Zefanya di bangku penumpang, kemudian dia berlari kecil memutari mobilnya menuju bangku pengemudi. Tak lupa ia memakaikan sabuk pengaman pada Zefanya. Setelah itu, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
15 menit perjalanan, hanya keheningan yang menyelimuti mereka.
"Masih pusing?" tanya Alfarel memulai pembicaraan.
Alfarel mengerutkan keningnya bingung, saat tak ada jawaban yang keluar dari mulut Zefanya. Karena penasaran, ia pun menolehkan kepalanya ke arah Zefanya. Ia tersenyum saat melihat Zefanya tidur dengan pulasnya.
"Pantes aja gak jawab." Alfarel terkekeh kecil.
Tak terasa, mereka sudah sampai di depan rumah Zefanya.
Alfarel kembali menolehkan kepalanya ke arah Zefanya, ia mengulurkan tangannya mengusap kepala Zefanya lembut.
Alfarel tersentak kaget, ia pun menjauhkan tangannya dari kepala Zefanya.
"Gue ketiduran ya?"
"Iya, kepala lo masih pusing?" tanya Alfarel.
"Udah mendingan kok. Makasih ya, gue duluan."
Sebelum Zefanya membuka pintu mobil, Alfarel menahan lengannya.
"Kenapa?" tanya Zefanya bingung.
"Cuman mau ngingetin. Istirahat yang cukup, jangan lupa makan sama minum obat."
"Iya," sahut Zefanya malas.
"Gadis pintar." Alfarel kembali mengelus kepala Zefanya.
Zefanya tersenyum paksa. "Gue duluan," pamitnya. Ia pun keluar dari mobil Alfarel.
Setelah memastikan Zefanya masuk ke dalam rumah, Alfarel pun kembali melajukan mobilnya menjauhi pekarangan rumah Zefanya.
🦋🦋🦋
"Hhh, pusing banget,” keluh Zefanya.
Setelah memasuki rumah, Zefanya langsung mendudukkan dirinya ke sofa yang berada di ruang tamu. Ia menyenderkan kepalanya kebahu sofa. Zefanya memijit dahinya untuk mengurangi rasa pusing dikepalanya. Ia malas berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Drrttt Drrttt drrttt
Bunyi dering ponsel mengagetkannya, ia pun meraih ponsel yang berada di dalam tasnya.
"Ck, siapa sih yang nelpon?" gerutunya.
Tanpa melihat nama penelpon, ia langsung mengangkatnya.
"Hallo?"
"Ze, lo dimana? Di rumah kan? Mau gue temenin? Lo gakpapa kan?"
Zefanya memutar bola matanya jengah, ketika mendengar suara cempreng dari seberang sana.