28. Cinta Tak Harus Memiliki

739 179 194
                                        

"Udah nunggu lama ya?" tanya Ryan pada Zefanya setelah sampai di parkiran sekolah.

"Kenapa?" tanya Zefanya gak nyambung.

"Kenapa apanya?" tanya Ryan bingung.

"Kenapa lo nyuruh Alfarel buat perjuangin gue?" Zefanya menatap Ryan dengan tatapan kosong.

"Lo denger semuanya?" kaget Ryan.

"Iya. Kenapa lo nyuruh dia berjuang?"

"KENAPA RYAN, JAWAB GUE!!!" teriak Zefanya ketika ia tak mendengar
jawaban dari Ryan.

"RYAN, JAWAB!!!" Zefanya menarik kerah baju Ryan meminta penjelasan.

"Karena gue mau liat lo bahagia," jawab Ryan.

Zefanya melepaskan tarikannya dari kerah baju Ryan. Ia mundur beberapa langkah, berusaha menjaga jarak dari cowok itu.

"Karena gue tau lo cinta sama Alfarel," lanjut Ryan.

"Hhh, jangan sok tau!!"

"Lisan bisa bohong, tapi hati enggak. Gue tau, lo cinta kan sama dia?"

Zefanya hanya diam, lidahnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan Ryan.

"Jawab Anya. Lo cinta kan sama dia? Kalau lo cinta, kenapa lo menjauh dari dia? Jangan menjauh Anya, berhenti nyakitin diri lo sendiri."

"Seharusnya lo yang berhenti."

"Maksudnya?" tanya Ryan bingung.

"Seharusnya lo yang berhenti nyakitin diri lo sendiri."

"Lo?" tanya Ryan tak percaya.

"Jangan kira gue gak tau Ryan. Gue tau, kalau lo juga cinta sama gue. Gue tau itu, gue tau..."

Air mata yang sedari tadi di tahan oleh Zefanya akhirnya keluar juga. Ia menangis tanpa suara. Hatinya sakit ketika mengetahui sedari dulu cintanya berbalas. Tapi semuanya sudah terlambat. Karena sekarang, hatinya sudah jadi milik orang lain.
Ya, Zefanya mencintai Alfarel. Ia mencintai cowok itu.

"Kenapa Ryan? Kenapa lo dulu gak bilang sama gue? Kenapa? Hikss..." Zefanya kembali manarik kerah baju Ryan, memaksa cowok itu untuk bicara. Karena sedari tadi Ryan hanya diam membisu.

"Lo tau? Dulu gue cinta sama lo. Gue tersiksa karena mencintai sahabat gue sendiri. Gue mati-matian buat hilangin cinta ini. Karena gue berpikiran kalau lo gak cinta sama gue. Tapi kenapa? Hiks... Kenapa saat perasaan ini hilang, gue baru tau kalau lo cinta sama gue? Kenapa lo gak bilang Ryan? Kenapa? Hiksss..." Zefanya terus memukuli dada Ryan.

Ryan menangkup pipi Zefanya, ia menghapus lembut air mata Zefanya.

"Jangan nangis, maafin gue. Dulu gue pengecut. Gue takut kalau gue bilang perasaan gue yang sesungguhnya, lo bakalan menjauh dari gue. Gue takut persahabatan yang dulu kita bangun dari kecil hancur sia-sia cuman karena cinta. Gue gak mau itu terjadi."

Zefanya semakin mengeraskan tangisannya saat mendengar itu. Ia langsung memeluk tubuh Ryan.

"Kenapa gue baru tau sekarang? Kenapa gue tau pas perasaan gue udah berubah? Kenapa? Hiks..."

Ryan mendongakkan kepalanya ke atas. Ia tak mau di anggap cengeng hanya karena masalah cinta. Ia harus kuat di depan Zefanya.

"Hey, jangan nangis. Gue gakpapa ko. Justru gue bahagia kalau liat lo juga
bahagia. Karena kebahagian lo kebahagian gue juga."

Ryan melepaskan pelukannya, ia kembali menangkup pipi Zefanya. Mengusap lembut air mata gadis itu yang kembali jatuh. Dan itu semua karena dirinya. Zefanya menangis karena dirinya.

"Anya, kembalilah bersama Alfarel. Gue tau lo cinta sama dia. Alfarel cowok baik, dia tulus cinta sama lo."

"Terus, lo gimana?"

"Gue gakpap. Gue akan coba untuk mengikhlaskan. Cinta gak harus memiliki kan? Liat lo bahagia aja, gue udah seneng," ucap Ryan, ia tersenyum manis.

"Ryan--"

"Stsss..." Ryan menutup mulut Zefanya dengan satu jarinya.

"Jadi, gue mau lo jangan menjauh dari Alfarel lagi ya. Kasih dia kesempatan. Gue yakin dia cowok yang baik," ucap Ryan, ia merapikan rambut Zefanya yang sedikit berantakan.

"Seminggu lagi gue bakalan pulang ke Australia. Lo jaga diri baik-baik ya."

"Enggak. Hiks... Jangan tinggalin gue." Zefanya kembali memeluk Ryan. Ia tak ingin berpisah dengan Ryan.

"Hey dengerin gue. Jangan nangis. Walaupun kita berpisah, kita tetep bisa tatap muka ko. Kan zaman udah canggih, gak perlu surat-suratan lagi. Gue juga udah nyimpen nomer lo lan?"

"Jangan tinggalin gue Hiks... Nanti, yang bakal jagain gue siapa? Hiks..."

"Ada Alfarel. Dia bakalan jagain lo sama seperti gue yang selalu jagain lo. Jangan nangis lagi ya? Entar cantiknya ilang loh."

Ryan mencoba menenangkan Zefanya. Ia kembali mengusap air mata gadis itu.

"Maafin gue. Hiks..."

"Enggak, lo gak salah. Disini gue yang salah, karena dari dulu gak berani
ngungkapin perasaan gue ke lo."

"Kita tetep sahabatan kan?"

"Iya."

Ryan mencoba tersenyum. Ia harus mengikhlaskan. Mungkin memang benar, Zefanya bukan jodohnya, tapi jodoh Alfarel. Ia hanya bertugas menjaga jodoh Alfarel, dan ketika Alfarel datang. Ia akan mundur teratur dari kehidupan Zefanya. Mungkin pindah sekolah adalah pilihan yang tepat supaya ia bisa cepat-cepat move on dari Zefanya. Ia bukannya menyerah dengan perasaannya. Tetapi ia hanya ingin melihat gadis yang selama ini ia cintai bahagia. Walaupun bukan bersama dengannya.

"Janji ya? Kalau lo bakalan sering hubungin gue?" Zefanya mengulurkan jari kelingkingnya pada Ryan.

"Iya. Janji." Ryan menyambut uluran jari kelingking Zefanya dengan jari
kelingkingnya.

"Udah ya? Jangan nangis lagi!" ucap Ryan, ia tersenyum manis.

Zefanya menganggukkan kepalanya. Ia membalas senyuma Ryan.

"Ayo pulang!" ajak Ryan.

"Ayo!" seru Zefanya kembali bersemangat.

"Ayo!" seru Zefanya kembali bersemangat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

gimana? kaget gaa?

ini satu part terakhir menuju ending, pantengin terus yaaa

kataa author sih...
"ga semua perasaan bisa berbalas,
dan ga semua yang berbalas bisa bertahan lama."

salam cinta,
tiaa💕

Love GameTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang