BAB 16 BERANGKAT KE URGENCH

8 3 0
                                    

Tuan Ja'far diperintahkan menginvestigasi anak buah Tuan Jorigt yang mengantar barang dagangan untuk Tuan Coskun. Dia mengikuti sosok bermata sipit dan berkumis tipis menjelajahi lorong-lorong kota Samarkand tanpa ketahuan. Tuan Ja'far berhasil menemukan rumah lelaki yang biasa dipanggil Tuan Kasar. Rumahnya sederhana hanya terbuat dari kayu di Selatan kota. Tuan Ja'far mencari waktu yang tepat untuk masuk dan memeriksa rumah Tuan Kasar.

Tuan Ja'far kembali ke pelabuhan. Tangan kanan Tuan Nashruddin itu berjalan menyusuri jembatan kayu tempat kapal milik Tuan Jorigt berlabuh. Matanya menangkap segaris putih kekuningan di guratan kayu jembatan. Tuan Ja'far mengerutkan dahi lalu berjongkok memeriksa. Disentuh lalu dikoreknya benda yang menempel di guratan kayu.

Lilin, batin Tuan Ja'far.

Lelaki itu berdiri lalu mendekati perahu. Dia melihat garis batas air di lambung kapal yang terlihat menunjukkan dua garis batas yang berbeda. Tuan Ja'far diam berpikir lalu melepas baju atasan dan sorbannya. Dia langsung menceburkan diri ke dalam Sungai Syr Darya. Dia menyelam tepat di bawah perahu. Jarinya menyentuh bagian bawah kapal, terdapat goresan dan juga jejak lilin di bagian lambung.

Tuan Ja'far berenang menuju ke permukaan kembali. Dia sudah tahu rahasia pengiriman senjata ilegal yang dipesan Tuan Coskun. Tuan Ja'far pun tersenyum menang, tinggal memastikan untuk memeriksa rumah Tuan Kasar. Tuan Ja'far yakin senjata ilegal itu tidak langsung diantar ke rumah Tuan Coskun, tapi masih di tangan Tuan Kasar.

***

Hari menjelang siang, Tuan Kasar terlihat berjalan keluar dari rumahnya. Tuan Ja'far dan anak buahnya mengawasi dari kejauhan. Waktu yang tepat untuk memasuki rumah. Tuan Ja'far mengawasi sekitar, sepi, tak ada orang. Dia berjalan cepat-cepat masuk melalui dinding samping rumah yang lebih rendah. Rumah itu sepi, dia melihat seorang perempuan yang sedang menimba dan mencuci baju di belakang rumah.

Tuan Ja'far bersembunyi, lalu mengendap tanpa suara masuk ke dalam rumah. Rumah itu sederhana, seakan tak mungkin berkotak-kotak senjata tersimpan di dalam rumah. Tuan Ja'far tak menemukan apa pun dalam rumah. Dia keluar ke samping rumah. Matanya menangkap hal ganjil di rumah itu. Dinding rumah dari tanah liat dan kayu kering, hanya bagian samping rumah yang tanah liatnya terlihat masih baru. Tuan Ja'far menyentuh dinding itu. Masih basah, batin Tuan Ja'far.

Lelaki berjenggot itu mengeluarkan pedang pendek dari sarungnya lalu menancapkannya ke arah dinding. Sebuah lubang tercipta, Tuan Ja'far menemukan sebuah ruang kosong dibalik dinding. Diintipnya ruang kosong melalui lubang yang isinya membuatnya tercengang. Empat kotak kayu besar tersusun di dalam ruang kosong tersebut. Akhirnya Tuan Ja'far menemukan barang ilegal yang dicari. Tuan Ja'far menutup kembali lubang yang sudah dia buat dengan tanah lalu bergegas keluar dari rumah saat terdengar suara langkah seseorang menuju ke samping rumah.

***

Tuan Nashruddin duduk santai di kursi ayun di tengah ruang keluarga bersama Muazzam. Lelaki tua itu memejamkan matanya sedang memikirkan sesuatu. Di tangannya dua buah buku catatan pembelian senjata oleh Tuan Coskun kepada Tuan Jorigt yang diambil oleh Muazzam bersama Azkar secara sembunyi-sembunyi. Malam sebelumnya Azkar masuk ke kantor Diwan Militer dan Rumah Tuan Jorigt untuk mencari bukti korupsi Tuan Coskun. Dalam buku catatan itu terdapat selisih barang masuk dan pembelian antara buku milik Tuan Coskun dan Tuan Jorigt. Tidak hanya jual beli pedang, anak panah, terdapat juga catatan pembelian mesiu dan belerang untuk bahan peledak.

Tuan Nashruddin tak menduga investigasinya tentang bijih besi yang kurang membawa ke sebuah kejahatan besar yang dilakukan Tuan Coskun. Tuan Nashruddin berpikir untuk apa Tuan Coskun melakukan korupsi senjata. Apakah untuk membentuk militer pribadi? tanya Tuan Nashruddin dalam hati. Pemberontakan? pikir Tuan Nashruddin lagi.

RUMIYAH (Senja Turun Di  Kota Samarkand)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang