☁┊Vivid Dream

1.3K 234 11
                                        

Pagi menjelang siang aku habiskan waktu bersama Hara di taman buatan dalam rumah. Ia adalah kelinci berwarna cokelat putih yang diberikan Yeonjun saat aku sedang sakit. Katanya jika aku tidak lekas sembuh Hara akan mengantikan posisiku sebagai adiknya. Jahat memang. Namun, bagaimanapun sikapnya aku tetap sayang dengan kakakku itu.

"Hara ayo makan," titahku sembari menyodorkan wortel segar.

Hara langsung memasukkannya ke dalam mulut. Ia menggigit sedikit demi sedikit hingga membuat suara kunyahan yang khas. Senyum tercetak di wajahku melihat aksinya. Meski ia tidak bisa merespon banyak apalagi berbicara. Akan tetapi, aku senang ia bisa menjadi teman yang selalu mendengarkan keluhku.

"Dicariin ke mana-mana ternyata main sama Hara. Gimana udah beranak tuh kelinci?" tanya Yeonjun bernada mengejek. Kulihat ia sudah duduk di kursi taman lipat.

"Mana bisa beranak sih kalo cuma satu," batinku.

"Mau ikut nggak?" tanyanya lagi.

Aku bergeming. Sengaja mengacuhkan Yeonjun. Salahnya sendiri kenapa tidak mengajakku lari pagi. Padahal kan aku ingin sekali ikut.

Kualihkan fokus pada Hara. Aku berdiri sambil membawa tubuh gembulnya, menimang-nimangnya seperti seorang bayi. Lalu mengelus perlahan bagian kepalanya.

"Heh budeg! Kalo Kakak lagi nanya tuh dijawab!" Yeonjun menyentak tapi aku masih diam, berpura-pura tidak mendengarnya lagi. Satu gerakan darinya membuat aku terkejut. Dia mengambil paksa Hara dari gendonganku.

"Huft, balikin!" pintaku sembari berusaha meraih Hara yang sudah berada digendongannya.

"Gak. Siapa suruh cuekin Kakak," tandasnya segera.

"Kakak duluan yang salah. Kenapa enggak ngajak aku jogging?"

Yeonjun membuang napas kasar. "Jadi cuma karena itu?"

"Iya. Padahal kan aku mau ikut." Aku beralih bersedekap dada tanda merajuk dan tidak lagi mencoba mengambil kelinci itu.

"Kan kamu masih tidur."

"Iya 'kan bisa dibangunin," balasku sedikit kesal.

Yeonjun menurunkan Hara ke rumput sintetis. Membiarkannya bermain sambil melompat ke sana kemari.

"Asal Kakak tau aja semalam itu aku habis mimpi," ujarku mengalihkan topik pembicaraan.

"Ya terus? Semua orang juga pernah kali."

"Maksud aku bukan gitu. Mimpi yang dialami aku semalem itu kerasa banget nyatanya. Terus pas bangun, aku juga nangis sambil teriak-teriak. Kan jarang banget aku kayak gitu, Kak," jelasku.

"Kamu inget semua jalan ceritanya?"

"Cuma sebagian. Inti ceritanya sih aku sama Hyejin jadi trainee. Terus Ada dua orang yang berantem karena suka sama aku. Selain itu ada juga tujuh trainer. Tapi tiga diantaranya kayak gak asing mukanya. Mirip ...." Aku menggantung kalimat sembari mengingatnya kembali. Berusaha keras agar abangku bisa memahami apa yang aku ceritakan.

Semenit kemudian aku mengingatnya lalu berkata, "Ohya, mirip ketua osis sama anggota eskul seni di sekolah aku. Terus sama satu lagi mirip Kak Heeseung."

[✔] 𝐌𝐘 𝐃𝐑𝐄𝐀𝐌Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang