24.

5.6K 378 26
                                        

SELAMAT MEMBACA!!

Jangan lupa vote sama comment yaa!!

****

Ryan sedang duduk di kantor kepala sekolah. Ryan dipanggil oleh kepala sekolah karena Lia berkelahi di sekolah. Mengapa Lindria tidak ikut? Karena Ryan yang tidak memperbolehkan Lindria ikut, kata Ryan Lindria itu terlalu cantik, jadi ia takut nanti laki-laki di sekolah Lia terpikat dengan Lindria. Dasar posesif!

"Jadi pak saya memanggil bapak kesini kare--"

"To the point." Ryan sudah melihat gerak gerik guru yang kemungkinan 20 tahunan ini terpikat dengan Ryan. Jadi Ryan tidak terlalu suka dengannya. Yaiyalah orang Ryan ganteng.

Ryan datang bersama tangan kanannya yaitu Gray. Gray yang sedang berdiri tepat dibelakang Ryan duduk.

"Lia berkelahi pak. Dia ikut tawuran tadi bersama anak-anak VERGOSA lainnya. Dan dia hampir saja membunuh anak pak." Ryan yang mendengar hal itu hanya menyeringai sedikit karena ternyata anak perempuannya menang dalam pertempuran. Ryan melihat jamnya. Jam menunjukkan jam 4 sore. Pada pukul 6 sore ia terdapat meeting dengan rekan kerjanya yang berada di Paris.

"Itu saja?" Ryan bertanya dengan menaikkan satu alisnya. Guru yang melihat hal tersebut menjadi salah tingkah sendiri. Dan Ryan merasa jijik dengan itu.

"E-ehm ya begitu saja sih pak." Jawab guru tersebut dengan gugup karena di tatap oleh Ryan seintens itu.

"Jangan terlalu percaya diri karena saya bukan tipe laki-laki brengsek." Ucap Ryan dengan tegas.

Guru itupun langsung gelagapan dan membuang muka ke arah lain.

"Kalau sudah saya ingin pergi dari sini. Ada yang perlu dibahas lagi?" Tanya Ryan melihat jam di pergelangan tangannya.

"Ti-tidak ada p-pak." Jawab guru itu.

Lalu Ryan pergi tanpa berpamitan dengan siapapun. Ia pun langsung keluar dan menemukan Lia yang sedang duduk bersama Leo. Lebih tepatnya Lia sedang membersihkan luka Leo.

Ryan yang melihat hal itu hanya tersenyum tipis. Sangat tipis.

"Lia."

Lia mendengar ada suara Daddy-nya dibelakangnya. Lalu Lia berdiri dan memutar badannya, melihat Daddy-nya yang menatapnya dengan lembut. Gray yang melihat hal itu sangat terkejut. Tidak pernah sekalipun bosnya ini menatap orang dengan lembut. Dan kali ini ia melihatnya, Gray merasa sangat asing dengan hal itu.

"Ya daddy?" Jawab Lia menundukkan kepalanya, takut dimarahi oleh Daddynya.

"Kamu hebat bisa kalahin mereka. Daddy bangga." Lia yang mendengar hal itu sontak mendongakkan kepalanya menatap netra Daddy-nya yang begitu lembut.

"H-hah? Daddy gak marah sama Lia?" Tanya Lia dengan ragu.

"Enggaklah! Ngapain Daddy marah sama kamu? Malahan Daddy bangga sama kamu! Akhirnya kamu bisa memakai ilmu beladiri kamu sekarang. Pertahankan Lia." Ucap Ryan mengelus surai Lia dengan lembut.

"Halo om." Sapa Leo dan teman-temannya yang berada di belakang Lia.

"Halo." Ryan memasukkan tangannya kedalam saku celananya. Ryan memakai setelan jas hitam, semuanya hitam. Ryan menatap mereka dengan dingin.

"Acie Leo ketemu calom mertua hia!" Ucap Ares tidak tahu malu. Padahal didepannya ini adalah seorang mafia kelas kakap yang ditakuti oleh semua orang.

"Goblok Ares! Diem lu! Depan lo tuh mafia anjrit! Gangotak lo!" Ujar Wawa berbisik sedikit berteriak.

"Mampus." Muka Ares berubah pucat. Seperti ternea tekanan rendah.

VERGOSA [COMPLETE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang