44.

4.8K 258 15
                                        

SELAMAT MEMBACA!!

JANGAN LUPA VOTE & COMMENT!

****

"Lia, we need to talk." Lia menatap heran Vendra, karena jarang sekali Vendra ingin berbicara serius dengannya.

Lia menaikkan salah satu alisnya. "Saya tau tentang Gana dan Fretzesi. Saya tau semuanya." Vendra menatap Lia.

"Kita harus mulai berhati-hati mulai dari sekarang, karena Gana adalah orang yang licik. Kalau dia adalah rival Daddy mu, berarti dia juga rival Daddy ku." Lia mengangguk, memang benar, karena Ayah dari Vendra dan Ryan itu bersahabat, jadi pastinya akan menjadi rival bersama.

"Jadi kalau ada penyerangan lagi, kau tahu apa gunanya gelangmu itu." Lia mengangguk mantap, Vendra itu hanya berbeda beberapa bulan lebih tua darinya, tetapi Vendra memiliki sifat ke-ibuan yang disukai oleh Lia.

Oiya, RASCARA memiliki sebuah gelang yang ada huruf R, jadi jika salah satu dari mereka memencet huruf R tersebut, berarti salah satu dari mereka meminta tolong, dan pastinya mereka semua, lebih tepatnya RASCARA akan maju bersama-sama.

"Don't forget that Lia, your bracelet." Lia mengangguk gemas lalu menjawab. "Yes Mother Vendra."

Mereka berdua pun kembali duduk di sofa. Yang masih ada para anggota VERGOSA dan RASCARA sedang bermain kartu.

Leo yang melihat Lia duduk disofa menghampiri Lia, lalu memeluk Lia manja.

"Kamu hari ini tidur di markas apa pulang?" Lia bertanya kepada Leo sembari mengelus surai Leo dengan lembut.

"Kayaknya pulang deh. Mam pengen aku pulang." Leo memejamkan matanya. Sepertinya ia kelelahan.

"Aku di markas tidurnya, udah dibolehin sama Daddy." Leo pun sontak membuka matanya. "Anggota RASCA disini juga?" Lia menganggukkan kepalanya.

"Yaudah paling bentar lagi aku mau pulang. Udah jam 11 malem soalnya."Lia pun menganggukkan kepalanya, ia tidak akan menyuruh Leo tinggal disini lebih lama karena pasti Mama Leo mau bertemu dengan anaknya.

"DI jam--11:05 deh aku pulang." Leo berjalan kearah anggota VERGOSA dan RASCARA yang masih bermain kartu. "Gue pulang 3 menit lagi." Leo memberitahu kepada mereka, karena kalau Leo pulang pasti mereka ikut puang.

Leo pun mengambil tasnya lalu berjalan kearah Lia, mencium pucuk kepala Lia dengan lembut, lalu berpamitan pulang, "BAWA MOTOR JANGAN NGEBUT UDAH MALEM!" Leo pun mengangkat jempolnya, setelah itu ia memakai helm hitamnya.

Para anggota VERGOSA pun pergi dari markas RASCA.

"Lia, yang sering ketawa-ketawa itu siapa?" Vendra bertanya, lalu mendudukkan dirinya di sebelah Lia.

"Ares maksud kamu?" Vendra pun mengangguk. "Nah iya Ares, dia lucu." Lia sontak menengokkan kepalanya mengahadap ke arah Vendra. "Kamu suka sama dia?"

Lalu Vendra mnganggukkan kepalanya malu.

"OWH! VENDRA HAS A CRUSH GURL! THAT'S REALLY SWEET! I NEVER SEEN VENDRA FALL IN LOVE BEFORE!" Jemina menggoda Vendra, sampai-sampai Vendra menatap Jemina tajam, dan di balas oleh tawaan Jemina.

Tasya pun berdiri. "LIA! AKU BELAJAR KATA BARU DARI TEMAN MU! YANG BERNAMA JUAN!" Lia pun menaikkan alisnya penasaran.

"TOLOL! DIA MENGAJARI AKU KATA ITU!" Lia pun menggeplak belakang kepala Tasya. Tasya dan Juan sama saja. Bolot, bego. Dibegoin mau.

"Kamu tau artinya?" Tasya menggelengkan kepalanya lugu. Lia pun menghela nafasnya. Memang sekali-sekali teman-temannya ini harus belajar Bahasa Indonesia yang gaul. Agar mereka bisa mengerti yang teman-teman Leo bicarakan.

VERGOSA [COMPLETE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang