03. My Lecturer My Husband

318 31 0
                                        

Selamat menikmati kisah kasih Kiara Randolph Abiansyah
.

Selamat Membaca

.
.

Beberapa waktu lalu, saat kabar Bang Alfred masuk rumah sakit tersebar, seluruh keluarga besar kami panik. Tante Catty bahkan sempat pingsan begitu mendengar berita itu. Dan aku... baru mengetahui satu fakta menjijikkan yang membuat dadaku sesak: es krim yang Alex berikan padaku telah dicampur obat bius.

Biada*b.

Bagaimana bisa seseorang punya pikiran selicik dan sekotor itu?

Aku benar-benar mengira Alex tulus. Aku pikir kebaikannya nyata.

Ternyata semua itu hanya dusta yang dimainkan dengan rapi.

Kini kondisi Bang Alfred sudah jauh membaik. Bahkan dia sudah kembali masuk kuliah, padahal jika ingin istirahat lebih lama pun tak akan ada yang mempermasalahkan.

Sementara Alex... harus menerima konsekuensi.

Dia diskors selama satu minggu dan diwajibkan wajib lapor ke kantor polisi setempat. Aku sengaja tidak memperpanjang masalah ini-aku tidak ingin menambah luka, juga tidak ingin mempermalukan keluarganya lebih jauh.

"Kalau gue jadi lo," kata Vania geram, "Alex itu udah gue jeblosin ke penjara. Biar kapok."

"Aku juga sempat kepikiran gitu, Van," jawabku pelan. "Tapi sebelum dia pingsan, dia bilang satu hal-'aku minta maaf'. Dan entah kenapa... gue ngerasa itu bukan kebohongan."

"Bisa aja itu fake," sahut Vania cepat. "Manusia itu paling jago pura-pura."

"Aku tahu apa yang aku lakuin sekarang."

"Tetep aja gue nggak rela, Kiara," suaranya bergetar. "Lo hampir jadi korban."

Aku terdiam.

Hati kecilku tak bisa bohong. Yang aku lihat di wajah Alex bukan kelicikan-melainkan rasa bersalah. Dan itu membuatku bimbang.
Apakah semua yang dia lakukan murni kehendaknya... atau ada ancaman di baliknya?

Ponselku bergetar.

Alex:
Gue ada di Kafe Amanda, samping kompleks rumah lo. Ada hal penting yang harus gue omongin.

Jantungku berdegup tak karuan. Takut, tapi juga penasaran.

Aku langsung membalas: aku akan datang bersama Vania.

Alex menyetujuinya.

Vania menatapku bingung saat aku menarik tangannya.

"Hei, Ra. Kita mau ke mana?"

"Nanti juga lo tahu."

Begitu sampai, mataku langsung menangkap sosok Alex. Dia melambaikan tangan-memakai masker hitam dan topi putih, mencolok di antara pengunjung kafe.
Vania yang akhirnya paham, langsung melangkah cepat.

Tamparannya mendarat telak di pipi Alex.

"Vania!" teriakku panik.

Kami jadi pusat perhatian.

"Itu balasan buat perbuatannya," ujar Vania dingin.

Alex menunduk.

"Gue pantas dapet ini."

Aku menahan tangan Vania. "Van, tolong. Dengerin dulu."

"Kalian mau minum apa?" tanya Alex pelan.

"Orange juice sama ice lemon tea," jawab Vania ketus.

Alex pergi memesan. Lima menit kemudian, minuman sudah tersaji.

Aku menarik napas dalam.

"Apa pun yang mau lo bilang," kataku, "gue siap denger."

My Lecturer My Husband Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang